
Happy reading❤️
Langkah yang memburu dan kecemasan yang menggelayut mendominasi gerak Khansa dan Ramadhan yang kini sudah tiba di salah satu rumah sakit negeri yang bagus dan terkenal di wilayah ini.
Dengan rasa sedih yang menjulang tinggi Mama Fitria memeluk Khansa dengan erat, ketika melihat sosok Khansa datang.
Seolah butuh kekuatan dan kedamaian, dari sosok wanita paruh baya itu.
Sementara ayah Fitria hanya terdiam terduduk.
Itu sulit dipahami? Penyebabnya itu, wanita selalu menggunakan perasaan, sedangkan pria lebih menggunakan nalar.
Khansa kini bisa memahami itu. Ia sudah belajar dari seseorang yang bernama Ramadhan ketika menghadapi masalah didalam keluarga kecilnya.
"Apa yang terjadi dengan Fitria bu?" Serasa napas mama Fitria teratur, sudah dirasa sedikit lebih tenang, Khansa mulai memberanikan diri bertanya.
Menyusut sisa ingus di ujung hidungnya dengan tissue, ambil napas secara mendalam.
"Tarik napas tante, biar rileks."
inhale, exhale
"Fitria minum cairan pembunuh serangga (Baygin cair) Khansa, beruntung tante cepat menemukannya dan nyawa Fitria masih bisa ditolong, huhuhuhu." Isak tangis itu kini mulai pecah lagi disaat tante Sera,(mama Fitria) mulai menceritakan kejadian nahas yang menimpa putri satu-satunya.
Khansa sementara hanya bisa mencoba menenangkan batin bu Sora hanya dengan selalu memeluknya, Fitria baru saja mendapat tindakan pertama dari dokter, kini ia sedang dalam proses dipindahkan ke ruang perawatan.
Ramadhan mendekat ke arah ayah Fitria, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Ayah Fitria menyodorkan sebuah ponsel milik Fitria kepada Ramadhan.
Dan dilihatnya sesekali Ramadhan menyalin sebuah nomor ponsel dari milik Fitria.
***
Berkali-kali Mira mencoba menghubungi dokter Khansa namun nomornya selalu berada dalam luar jangkauan.
Setelah Mira mencoba bersabar dan tetap gigih menghubungi dokter Khansa, akhirnya sambungannya terhubung juga.
📞 Assalamualaikum dok,
Sapa Mira dengan tubuh yang sedikit bergetar.
📞Wa'alaikumsalam Mira. Jawab Khansa dengan khas suara lembutnya.
📞Bu Khansa hari ini praktekkan? Banyak pasien yang mengeluh ingin di kontrol dengan bu Khansa langsung, tidak mau dengan yang lain. Dibuku temu janji hanya ada 16 Pasien bu, tapi kenyataannya ini sudah banyak yang datang tanpa temu janji lebih dari 10 orang dok. Apa bisa dokter Khansa pastikan akan tiba di klinik pukul berapa? Saya kewalahan mengatasinya dok. Beruntung ada mahasiswa yang dijadwalkan PKL disini selama 3 bulan bi, dia sudah banyak membantu saya menghandle compline pasien. Padahal ia baru masuk hari ini bu.
📞Baiklah, Mira- maafkan saya yang sudah tidak profesional kemarin. Sehingga saya sangat merepotkan kamu dan Fitria, saya akan sampai disana dalam waktu 15menit lagi.
📞Baik bu, kami tunggu.
****
"Bu Sera, maaf Khansa harus pamit. Pasien membludak hari ini bu. Jadi nanti malam mungkin Khansa akan kembali kesini menengok Fitria.
"Tidak perlu dipaksakan sayang, nanti jika Fitria sudah sadar pasti tante kabari. Kamu juga banyak agenda, tante tidak mau merepotkan kamu. Sekarang Khansa sudah datang disini saja, tante sangat berterima kasih.
"Baiklah tante, nanti kabari Khansa jika Fitria sudah siuman."
Tante Sera hanya mengangguk lirih.
Ramadhan meraih lembut tangan istrinya itu.
Dan seraya berbisik ke arah telinga istrinya.
__ADS_1
"Sayang pergi saja dulu, ada hal yang harus ku kerjakan dulu di kantor. Mendadak dan sangat penting. Nanti sore aku akan menemui istriku yang paling cantik ini di klinik."
"Tapi klinik sedang ramai kak, lebih baik nanti aku hubungi dulu ya jika memang mau ke klinik. Assalamualaikum." Potong Khansa dengan cepat.
"Baiklah, waalaikumsalam."
A little educational tentang percobaan mengakhiri hidup.
Dalam budaya Asia, mengakhiri hidup atau hara kiri adalah bagian dari kode kehormatan Jepang kuno. Ini bukan sesuatu yang terbatas pada peradaban Barat dan bahkan ditemukan di negara-negara mayoritas Muslim meskipun diketahui bahwa itu adalah sesuatu yang jelas dilarang dalam Islam.
Dalam diskusi Islam kontemporer tentang mengakhiri hidup, ini sudah berjalan di sepanjang garis tradisi dan penafsiran klasik.
Tema-tema yang sangat akrab dikemukakan, mengakhiri hidup adalah dosa karena hanya Allah SWT-lah yang berhak mengambil kehidupan yang telah Dia berikan.
Sangat terlarang bagi umat Islam untuk mengharapkan kematian. Tak peduli bagaimana pun kondisi mereka. Dan, orang yang bunuh diri boleh dishalati.
Allah SWT secara tegas melarang tindakan bunuh diri. Larangan itu disebutkan, antara lain, dalam surah an-Nisa’ ayat 29 yang artinya, “Janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu.” Ini seperti tertuang pula di surah an-Nisa’ ayat 30.
Sebuah studi statistik lintasbangsa (Miles E Simpson dan George H Conklin, “Socio-economic Development, Suicide and Religion: A Tes of Durkheim’s Theory of Religion and Suciede”) menyimpulkan, persentase Muslim dalam penduduk suatu bangsa menunjukkan relasi negatif yang signifikan dengan tingkat bunuh diri bangsa tersebut. Sebuah hasil yang tetap bertahan, bahkan ketika menjadi pengendali untuk modernitas ekonomi, sosial, dan demografi.
Disaat seseorang mendapat cobaan berupa masalah hidup yang sangat berat dan tak menemukan jalan keluarnya, maka ia akan dilanda keputusasaan.
Jika rasa itu sudah hinggap dalam jiwa seseorang dengan demikian, ia merasa bahwa hidupnya sudah tak berarti lagi.
Banyak yang mengambil jalan pintas dengan melakukan tindakan yang sangat bodoh yaitu dengan mengakhiri hidupnya.
Mereka menganggap, mati adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri semua masalah dan penderitaan hidup yang dialami.
Apapun alasan dan caranya mengakhiri hidup hukumnya adalah syirik. Sedangkan pelaku syirik tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, bahkan kekal disiksa dalam api neraka. Mengakhiri hidup dengan cara meminum racun, gantung diri, terjun bebas, melukai diri, atau dengan bom dan seterusnya adalah sama saja hukumnya.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutu (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutu (sesuatu) dengan Allah, Maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya,” (QS. an-Nisa: 116).
Mengakhiri hidup bukanlah solusi untuk pemecahan masalah yang kita hadapi.
Apabila depresi dalam mengahadapi masalah dunia ini melanda kita, maka yakinkan diri kita bahwa Allah selalu ada bersama kita. Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya berada dalam kesulitan.
Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kita. Dan bukankah akan selalu ada jalan di setiap masalah, dan adapula kemudahan di setiap kesulitan. Hanya perlu bersabar, tawakal dan ikhtiar*.
Maka dari itu, perhatian keluarga terdekat, teman dan sahabat sejatinya sangat penting untuk menghindari hal ini terjadi pada kemungkinan setiap orang.
Orang yang depresi pasti merasa bahwa sudah tidak ada lagi orang didunia ini yang dapat membantunya keluar dari lingkaran permasalahan yang sedang ia hadapi.
Sakit, malu, marah, jalan buntu jadi satu.
Sebaiknya kita yang hidup didunia ini adalah yang berguna untuk orang lain.
So, jangan malu untuk bermanfaat bagi orang lain. Sekalipun itu hanya kepada teman atau orang-orang disekitar kita.
...****************...
Matahari yang mulai bersinar terang ini menemani laju kendaraan yang Khansa bawa menuju klinik.
Beruntung tidak ada tumpukan kendaraan yang biasa terjadi di simpang enam Dewa Ruci ini.
Bali memang terkenal menjadi tujuan utama pariwisata domestik maupun internasional, namun bisa dengan stabil menjaga arus lalu lintas disetiap lintasnya terhindar dari kemacetan panjang.
Hanya disaat ada case-case tertentu saja seperti terjadinya kecelakaan atau perbaikan jalan maka akan terjadi penumpukan kendaraan sedikit.
Kurang dari 15menit Khansa kini sudah tiba di klinik. Benar apa yang dikatakan Mira, para pasien terlihat sudah berjubel memenuhi ruang tunggu yang biasanya lengang itu.
Sesegera mungkin Khansa langsung mengganti jaketnya dengan jubah kesayangan banyak harapan seribu umat kepada pemakai jubah itu.
__ADS_1
Tok, tok!
"Permisi dokter Khansa, apa penerimaan pasien sudah bisa dibuka?"
"Hafiz? what are you doing here now?"
"*F**rom now on I will always accompany you, dokter Adiba Khansa Az-zahra."
"Ok, we will see*," Ucap Khansa sambil memberi isyarat memanggil pasien nomor satu.
Dengan semangat 45 Hafiz mulai memanggil pasien no 1..
"Nyonya *Senja Kirana silahkan masuk,
Nyonya Senja Kirana!"
"Saya dok, silahkan lewat sebelah sini ibu."
"Selamat pagi bu Senja,"
"Selamat pagi dokter Khansa, saya kemarin sudah kesini dok*. Tapi yang praktek bukan dokter Khansa, jadi saya cancel. Kalau bukan dokter Khansa yang menangani saya pasti saya kurang cocok dan harus kesini lagi bertemu dokter Khansa, jadi kalau saya periksa pas dokter Khansa ga praktek lebih baik saya pulang lagi."
"Maaf atas ketidaknyamanannya ya bu, kemarin saya ada urusan keluarga, jadi tidak bisa buka praktek. Baik kalau begitu ada keluhan apa saja yang bu Senja alami?"
Memang bukan Khansa namanya jika tidak bisa menarik kenyamanan dari setiap pasien yang ia tangani. Kelemahannya hanya tidak bisa menangani dengan baik jika itu urusan hati dengan permasalahan keluarga kecilnya.
Keluarga kecil yang dulu terdiri dari Abah Umi dan Aisyah. Namun sekarang urutan keluarga kecilnya adalah Ramadhan, Aisyah dan Reza.
Titik-titik peluh mulai membanjiri kening sebening embun milik Khansa.
Dengan begitu perhatiannya Hafiz menyodorkan 2 lembar tissue kepada dokter cantik itu.
"Terima kasih Hafiz, masih ada berapa pasien lagi?"
"Hanya tersisa satu pasien dok, tapi ini pasiennya laki-laki. Sepertinya ia hanya ingin berkonsultasi, apa perlu saya ambilkan minum dulu untuk dokter Khansa?" Tawar Hafiz.
"Tak perlu berlebihan Hafiz, tugas kamu disini adalah mencuri ilmu ku. Bukan untuk melayaniku." Sergah Khansa karena merasa Hafiz sudah terlalu berlebihan membantunya.
"Hm- tapi tercantum juga didalam surat tugas saya adalah membantu dokter yang bersangkutan selama tugas berlangsung. Membantu itukan bermakna luas."
Hafiz mengernyitkan dahinya.
"Membantu dalam hal medis Hafiz, selain dari itu tidak perlu. Ayo segera panggil pasien terakhirku," Khansa melirik arloji dipergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 15.00 itu menandakan ia sudah over buka jam praktek sebanyak 3 jam karena daftar pasien yang membludak.
"Bapak Yusuf Aldebaran Al-Hilal, silahkan lewat sini." Panggil Hafiz santai karena sama sekali tak mengenal siapa pasien terakhir Khansa ini.
"Selamat Si-siang,"
Perasaan gugup dan canggung menyeruak begitu saja, ketika Khansa melihat siapa pasien terakhirnya itu.
...----------------...
Penasaran dengan apa yang akan Hilal lakukan di ruangan praktek Khansa?
Benarkah ia hanya akan berkonsultasi?
Atau ada unsur terselubung lain dalam konteks ini?
Tunggu pada episode selanjutnya ya
Pada sesi edukasi mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan atau salah dalam penulisan, semoga dengan cara seperti ini para pembaca bisa langsung mendapatkan dua manfaat sekaligus didalamnya.
__ADS_1
"Sekali mendayung dua pulau terlampaui"
Terima kasih🙏🙏🙏