Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Kenyataan Yang Semakin Runyam


__ADS_3

Sang mentari mulai terbit menunjukan wajahnya yang bersinar terang, Khansa mengajak Ramadhan berkeliling menuju taman rumah sakit. Berharap bisa menghirup udara pagi yang bersih, mengandung banyak oksigen yang mengalir dalam darah. Tidak banyak membantu memang, tapi setidaknya dengan pikiran yang fresh dan terbuka, bisa membuat Ramadhan berpikir jernih. Dokter pernah berkata, ada kemungkinan ini tidak permanen, hanya kata-kata itu yang menjadi pemantik api semangat Khansa dalam berusaha membuat Ramadhan kembali mengingat dirinya.


"Kak, boleh kah aku memanggil kakak dengan sebutan sayang? Sama seperti dahulu kakak memanggilku, kakak memanggilku dengan sebutan itu dan penuh cinta," ucap Khansa sambil mengarahkan kursi roda Ramadhan condong ke arah cahaya matahari.


"Terserah," jawaban yang singkat padat dan menusuk terlontar begitu saja dari mulut Ramadhan.


"Hari ini sayang mau ngapain aja selain terapi patah tulang di kaki? Em- maksud Khansa mungkin sayang ingin makan sesuatu yang lebih enak mungkin?"


"Akh- iya, aku sudah bosan dengan makan-makanan rumah sakit ini. Itu lagi, itu lagi. Bertenaga enggak, bosen iya."


"Baiklah, nanti Khansa coba pulang sebentar untuk masak buat sayang."


Kurang lebih sudah dua puluh menit lamanya mereka menatap sang surya yang baru saja muncul dari persembunyiannya, tak ada perbincangan apapun di antara mereka setelah pembahasan makanan tadi. Ramadhan yang merasa sudah cukup kulitnya disapa oleh sang mentari, memberi isyarat untuk menyudahi perjamuan dengan sang mentari. Baru saja mereka tiba di ruang perawatan, suara peri kecil memecah keheningan di ruangan itu.


"Mama Khansa ...." Peri kecil bernama Naura itu kini berteriak dan berlari menghambur ke arah Khansa.


"Hai Naura," sapa Khansa menyambut kekuatan kecil yang datang, mencoba tetap waras dengan menyapa dan menghirup aroma rambut peri kecil dari Allah yang hadir di sisi-sisi hidupnya. Senyum lelah akan garis takdir menjadi binar-binar kekuatan menyongsong hadir diri kedepannya. Pelukan dramatis itu berlangsung lama, Azka dan Kinara menatap penuh kasih kepada dua makhluk Tuhan yang sama-sama cantik itu.


Berbeda dengan Ramadhan, ia menatap nanar bahkan bisa dikatakan tatapannya begitu aneh kearah Kinara. Perut Kinara yang membuncit, ya- perhatian Ramadhan penuh kepada bentuk perut yang sudah jalan 6 bulan itu.

__ADS_1


"Sebelumnya belum pernah lihat orang hamil Ramadhan?" celetuk Azka yang belum mengetahui bahwa Ramadhan kehilangan ingatannya.


"Siapa kamu? Lalu dia siapa? Siapa ayah dari bayi yang tengah dikandungnya itu?" Ramadhan menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke arah Kinara.


"Its not funny Ramadhan!"


"Azka!" suara Khansa meninggi, ia berjalan mendekati posisi Azka berdiri. Sementara Kinara hanya bisa menatap bingung dengan apa yang terjadi dihadapannya ini. "Kita perlu bicarakan ini diluar Azka, Kinara- aku titip kak Ramadhan dan Naura sebentar."


Tak ada pilihan lain, Azka memilih mengekor mengikuti Khansa yang menggiringnya keluar dari ruang perawatan Ramadhan.


"Kekacauan apalagi ini Khansa? Sungguh, akting Ramadhan sangat tidak lucu!"


Belum sempat Khansa berkata, tapi dua bulir air mata telah jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan aku Khansa, aku akan mendengarkan setelah kami siap menceritakan.".


Khansa masih terdiam membisu, terlihat dadanya naik turun. Mengatur rasa gemuruh di dalam dadanya, mempersiapkan batinnya untuk menceritakan hal ini kepada Azka.


"Kak Ramadhan hilang ingatan Azka," ucap Khansa lirih.

__ADS_1


Azka hanya bisa menahan rasa terkejutnya dengan duduk bersandar pada tembok rumah sakit. Ya Tuhan, kenapa engkau selalu menguji orang yang aku cintai. Kasihanilah ia barang setitik sebagai hamba yang sangat tidak berdaya Tuhan. Batin Azka berkecamuk.


"Baiklah, kita hadapi ini sama-sama Khansa. Jangan pernah lelah dan putus asa dari rahmat Allah. Aku yakin, kamu kuat menghadapi ujian ini. Allah hendak meninggikan derajat kalian, sehingga kalian harus menghadapi ujian seperti ini." Azka berusaha menenangkan dan memberi sedikit kekuatan kepada Khansa.


"Nanti aku akan cari-cari tau, hal apa dan bagaimana untuk mencoba cara-cara agar kasus seperti Ramadhan bisa dengan segera kembali mengingat ingatannya. Sekarang kita masuk yuk," ajak Azka untuk menyudahi kekhawatiran Khansa yang tak berujung ini.


Baru saja mereka berdua berjalan memasuki bibir pintu ruang perawatan Ramadhan, Khansa hampir saja limbung.


Melihat sosok Ramadhan tengah memandang dan menyentuh perut Kinara yang mulai terlihat buncit.


"Astaghfirullah Kinara!" Azka yang spontan berteriak dan menyangga tubuh Khansa yang akan limbung. Benar saja, akhirnya Khansa pingsan. Azka langsung membopong tubuh mungil Khansa, sementara Fatima dan Fitria yang baru saja datang. Langsung di landa kebingungan, "Apa yang sebenarnya telah terjadi?"


Fitria langsung berlari mengejar Azka yang membopong Khansa menuju ruang UGD. Fatima mencoba bertanya, mengenai kejelasan hal apa yang baru saja terjadi. Namun dengan entengnya Ramadhan menjawab dengan menadahkan kedua tangannya pertanda tak tau.


*Bersambung ...


Jangan lupa untuk mampir di karyaku yang lain


Obsesi Wanita Malam (Second Choice) ya☺️🙏*

__ADS_1



__ADS_2