
Happy reading❤️
Drtt! Drrt!
Sebuah notifikasi masuk terpampang dilayar beranda ponsel Fitria. Berselang dua detik ponsel Hafiz juga bergetar. Fyi, ponsel Fitria sudah disadap oleh Hafiz. Jadi, apapun aktivitas di ponsel Fitria akan otomatis dilaporkan juga ke ponsel Hafiz. Tentu, Fitria sang pemilik ponsel tidak tahu jika ponsel miliknya sudah di sadap oleh Hafiz.
"Temui aku siang ini, ada hal yang perlu kita bicarakan. Aku janji, ini yang terakhir." Boby
"Dimana?" Jawab Fitria
"Cafe coffee."
"Ini bulan puasa, ngapain ke Cafe? Emang lo ga puasa apa? Kalau mau di outdoor Bramedia." jam 13.00 setelah salat Dzuhur aku free."
"Oke."
"oke."
Hafiz membaca setiap notifikasi yang masuk itu dengan senyum kecut.
Remuk redam hati yang terbelenggu
Bias tanpa cahaya yang sangat lugu
Berharap cinta sanggup menunggu
Tapi apalah arti seorang Upik abu
Siapa sih seorang Hafiz?
Hanya seorang Asdok yang masih tahap training
Jika ia kembali ke dunia hacker-nya
Apa Fitria juga akan menganggapnya ada seperti Fitria yang selalu menganggap Boby ada?
Sesulit itukah bagi Fitria melupakan seorang Boby?
Hingga kejadian yang menimpanya kemarin masih belum cukup. Bahkan Fitria masih mau diajak kopi darat oleh Boby.
Haruskah aku akhiri rasa peduli ini
Aku seolah seperti mendung yang menunggu akan datangnya hujan
Sedangkan sebuah mendung belum tentu akan terciptanya hujan
Hafiz menoleh pada pintu ruang kerja Fitria yang tertutup, lalu kembali menunduk melihat daftar pasien yang masih masuk dalam waiting list. Beberapa pasien yang terlambat datang dari janji temu dengan dokter Khansa terpaksa dilimpahkan kepada Fitria, entah ada gerangan apa mulai sekarang jam prakteknya di batasi oleh seorang Ramadhan.
Seorang Ramadhan sekarang seperti laki-laki yang kekurangan pekerjaan, selalu mengekor di belakang Khansa. Sepertinya itu akan menjadi pekerjaan tetapnya sekarang.
Waktu menunjukkan sudah pukul 12.30 WITA. Fitria keluar dari ruangannya dengan menenteng tas branded kesayangannya dan melepas jubah putih sejuta umatnya. Sementara Hafiz pura-pura sedang mengobrol dengan Mira di meja resepsionis.
"Fiz,"
Yang dipanggil tak bergeming.
"Hafiz!" Teriak Fitria ulang.
"Assalamualaikum dokter Fitria." Ucap Hafiz santun.
"Wa'alaikumsalam, setelah ini kamu mau kemana? Asik banget kayanya ngobrol sama Mira. Jam kerja kita kan udah selesai, ikut aku yuk."
"Kamu sudah Salat Dzuhur?" Tanya Hafiz balik.
"Sudah, kamu?"
"Sudah, gantian sama Mira tadi." Jawab Hafiz singkat.
"Ayo," Tit! Tit! Fitria memencet tombol remote mobilnya.
"Maaf ga bisa Fitria, aku masih harus rekap data pasien temu janji dengan dokter Khansa besok pagi." Wajah Fitria seketika berubah masam, sulit untuk dijelaskan. Tapi dada Fitria terasa sesak, sakit. Entah bagaimana bisa begitu. " Ya sudah." Fitria langsung melenggangkan kakinya pergi dari klinik.
"Sok kecakepan, diajak pergi sok-sok nolak. Awas aja kalau gantian ngajak pergi aku, ga bakal mau lagi aku." Batin Fitria menggerutu tak jelas hingga masuk ke dalam mobil. "Sek, kayanya memang Hafiz ga pernah ngajak aku pergi deh. Lebih condong aku yang buat dia pergi sama aku. Ck! bodo amat." Fitria langsung melajukan mobilnya menuju Gramedia.
Fitria menghilang dengan mobilnya dari halaman klinik. Mira mencubit lengan Hafiz, "Auh, kenapa aku di cubit?" Hafiz bingung kenapa dia tiba-tiba di cubit Mira.
__ADS_1
"Kalau suka jangan begitu caranya, yang ada kamu malah semakin jauh sama dokter Fitria. Berjuang sedikit dong." Mira merasa gerah dengan perilaku Hafiz yang terkesan tidak peka dan kurang memperjuangkan cintanya.
"Apa yang harus aku perjuangkan Mira? Fitria pergi mau menemui mantannya Boby. Lalu untuk apa aku ikut? Mau jadi kambing congek? Atau jadi obat nyamuk?"
"Dari mana kamu tahu dokter Fitria mau ketemu mantannya?" Tanya Mira dengan heran.
"Ya, pokoknya tahu aja."
"Kejar sih, aku takut nanti mereka berantem lagi. Terus dokter Fitria sakit hati lagi, dihina-hina lagi, terus coba bunuh diri lagi. Argh! Aku ga sanggup hanya untuk membayangkannya saja." Pikiran Mira sudah yang tidak-tidak.
"Akh- Kenapa aku tidak berpikir ke arah sana, ya sudah Mira. Tolong backup sisanya yah, aku mau menyusul Fitria."
"Nah, begitu dong. Tenang semua tugas beres kalau sama Mira."
Hafiz langsung menyambar jaket dan tasnya, langkah cepat menyambar sepeda motor kesayangannya. Melaju memburu waktu, untuk menyusul Fitria yang punya janji temu dengan Boby di Gramedia.
Kapanpun mimpi terasa begitu jauh
Aku akan mencoba selalu menjadi benteng pelindungmu
Tak peduli kau mau atau tidak
Di manapun itu, aku akan tetap menemukanmu
Please, semoga air matamu tak jatuh lagi
Mulailah untuk melihatku Fitria...
......................
Bramedia hari ini terlihat penuh sesak. Banner bertuliskan "Buku Jendela Dunia" terpampang jelas di aula Bramedia. Pandangan Fitria jauh mengedar, mencari sosok yang pernah mengisi hatinya.
Drt! Drt!
Meja nomor 123 , Boby.
Pesan ini juga masuk ke ponsel Hafiz, hal ini begitu memudahkan Hafiz yang baru saja tiba di area parkir Bramedia.
"Sendiri? Kirain bakal sama gebetan kamu." Boby langsung tembak ke bagian inti, tanpa ada basa-basi sedikitpun.
"Bukan urusan lo, buruan mau ngomong apa. Gue sibuk." Sanggah Fitria.
Hafiz yang menguping berjarak dua bangku dari Fitria terlihat mulai gelisah, bagaimana perasaan Fitria dengan kata-kata Boby yang bahkan cenderung mengintimidasinya.
"Akh- Masih tak bisa ku percaya. Aku kira kamu mengajak bertemu karena ingin meminta maaf kepadaku. Tapi ternyata-"
"Enak saja minta maaf, yang salah tu kamu. Kamu yang nyerang aku duluan, Kepedean kamu kalau mengira kita bakal minta maaf." Kata-kata Fitria terpotong karena kedatangan Winda.
"Eh- cewek cumi! (Cucah Mingkem) yang sudah menghina suami kamu sendiri, lembek lah, durasi pendek lah. Cih, ga inget apa yang sedang kamu rendahkan itu suami kamu sendiri. Sebenarnya aku sangat menyesal sih, berniat belain harga diri lo Bob. Harga diri yang bahkan lo sendiri sudah ga punya, rela diinjak-injak dengan alasan bayi yang bahkan aku meragukan jika itu sepenuhnya anak lo." Sungguh kata-kata santai namun begitu menikam relung hati Winda, karena memang itu kenyataannya. Kenyataan yang Winda tutup rapat-rapat dari Boby.
Boby juga terlihat mulai berpikir dalam diamnya.
"Bxngsxt!" Winda hendak menampar Fitria, namun dengan sigap Fitria menahannya.
"Sekarang aku lagi puasa nih Bob, aku ga mau buang-buang energi adu mulut dengan istri lo yang ga jelas ini. Gue minta kalian berdua minta maaf sekarang sama aku! Aku akan anggap ini semua sudah selesai jika kalian minta maaf S-E-K-A-R-A-N-G!" Ucap Fitria dengan tegas.
"Ngimpi lo! gue ga bakal minta maaf sama cewek burik kaya lo!" Winda mengibas-ngibas kipas ditangan dan menatap Fitria dengan tatapan yang begitu menjijikan.
"Bagaimana kalau kita adu balap mobil. Siapa yang kalah dia yang akan minta maaf kepada yang menang, dengan begitu masalah ini kita anggap clear!" Boby memberi usulan. Balap mobil sudah menjadi bagian dalam hoby yang ia jalani seminggu terkahir, jadi Boby merasa ini sangat menguntungkan bagi dirinya. Yang jelas Fitria pasti akan sangat mudah dikalahkan.
"Oke kapan kita bisa balap-"
"Tidaaak!"
Lagi-lagi ucapan Fitria terpotong, kali ini sumber suara bukan dari Winda lagi. Melainkan dari seorang pria yang suaranya sangat tak asing bagi Fitria.
"Hafiz,"
"Wow, keren. Ternyata sang putri tidak tahu jika gebetannya diam-diam menguntit dirinya. Hahaha lucu sekali."
"Tidak ada adu balap mobil atau apapun! Cukup! Kita lupakan saja ini Fitria, tidak ada untungnya jika kita meladeni Boby fit. Kamu tidak akan mendapatkan apapun." Hafiz berusaha meyakinkan Fitria agar tidak terbawa pancingan Boby.
"Aku akan tetap adu balap, aku harus mengajari dua cecunguk ini bagaimana caranya minta maaf setelah berbuat salah. Dua minggu lagi, sirkuit Nusa dua. Bersebelahan dengan sirkuit balap kuda. Kamu pasti tahu tempatnya. Jika tidak tahu tanya Mbah google! Ayo kita pergi dari sini Hafiz!"
Fitria meraih pergelangan tangan Hafiz dan menariknya untuk juga pergi dari sana.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu Fitria!" Hafiz menampik tangan Fitria yang menggenggam tangannya.
"Ajari aku Hafiz, ajari aku menyelesaikan apa yang sudah pernah aku mulai. Sungguh! Aku sangat tidak ikhlas, jika Boby bisa dengan seenaknya menginjak-injak harga diriku demi membela istrinya yang salah."
"Oke! Jika di pertandingan kamu menang, apa kamu akan mendapatkan Boby lagi? Tidak Fitria! Hentikan perbuatan bodoh ini. Kembali kesana dan katakan kamu membatalkan pertandingan ini, cepat!" Kali ini Hafiz menggenggam tangan Fitria dan berusaha menyeretnya kembali ke meja Boby.
"Tidak! Aku tidak berharap Boby kembali padaku Hafiz! Sungguh! Aku hanya butuh permintaan maafnya! Dia sudah menginjak-injak harga diriku, sampai mati aku tidak akan menerima itu! Hargailah keputusanku hanya untuk kali ini Hafiz. Aku mohon." Fitria mengatupkan kedua tangannya, badannya merosot begitu saja ke lantai, pandangannya menunduk. Tak ada keberanian lagi untuk menatap Hafiz.
**So far from you now
But I figured it out
Everything I need is on the
Everything I need is on the ground
On the ground
Everything I need is on the ground
Nah, but they don't hear me though
On the ground
Nah, but they don't hear me though
Everything I need is on the ground**
Rose...
...****************...
"Sampai kapan kak Ramadhan akan terus membuntuti segala kegiatanku selama 24 jam?" Khansa senang jika suaminya bisa ada 24 jam untuknya, tapi tidak seperti ini juga. Suaminya terus menempel padanya sudah lebih dari 24 jam terakhir ini. Khansa dan Ramadhan tak bersama hanya jika Khansa ke kamar mandi atau sebaliknya.
"Jadi istriku tidak senang jika suaminya selalu dekat dengannya? Apa aku salah jika ingin selalu dekat dengan istrinya sendiri?" Tanya Ramadhan yang terlihat sudah mulai merajuk.
"Bukan begitu juga, aku senang. Tapi aku juga lelah jika terus bersama seperti ini, maksud aku. Aku panas, gerah ih- geser sedikit kenapa kak Ramadhan. Ini masih siang lo, nanti puasa kita bagaimana? AC tolong AC kak, aku kepanasan." Khansa melepas jilbabnya dan mengikat ulang rambutnya yang sempat terurai.
Dengan sigap Ramadhan menyalakan AC, Ramadhan juga membereskan puzzle-puzzle yang tadi sempat digunakan Naura bermain.
"Rencana kak Ramadhan kedepannya mau bagaimana? Akan terus menganggur seperti ini?" Khansa masih curiga dengan perubahan kak Ramadhan yang begitu drastis, kak Ramadhan bersikap seolah ia tak punya banyak waktu lagi dengan Khansa. Sehingga tak mau melewatkan waktu walau hanya sedetik tanpanya.
"Aku akan menganggur sampai aku bosan. Aku masih ingin menikmati kebebasanku bersama istriku."
Khansa hanya bisa menghembuskan napas beratnya, mendengar jawaban suaminya yang sedemikian rupa. "Aku ngantuk, bisakah kak Ramadhan menceritakan aku sebuah kisah hingga aku terlelap?"
"Tentu, akan aku ceritakan kisah hingga istriku yang cantik ini tertidur. Aku akan menceritakan kisah Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengabarkannya menikah lagi.
Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit penyakit dalam pembongkaran urusan pemerintahan. Fatimah pun datang dengan maksud ingin memberikan kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis yang juga sangat mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak ingin berubah diri saya, kalau saya kembali kepada dunia perasaan itu,"
Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, "Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia justru menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!"
Sayang tahu arti dan maksud dari ceritaku ini?"
Ramadhan menoleh ke arah Khansa. Dan benar saja, belahan jiwanya itu kini sudah larut dalam alam mimpinya.
Tidur nyenyak sayang, Ramadhan mengecup kening istrinya yang seputih susu itu.
Sampai kapanpun, cinta diatas cintaku tetap hanya untuk kamu seorang Khansa. Tidak ada yang lain, dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya.
Cintaku kepadamu tidak akan pernah mati
Sekalipun suatu saat ragaku ini akan mati
Drt! Drt!
Abati Calling...
Panggilan itu sengaja Ramadhan abaikan.
Drt! Drt!
Massage from Abati
__ADS_1
Jangan menjadi seorang pengecut, segera selesaikan masalah ini. Ini bukan tentang lagi perjodohan paksa seperti di zaman Siti Nurbaya, ini menyangkut banyak nyawa dan sebuah hutang budi Ramadhan. Kemarin Kinara mencoba bunuh diri. Jika kamu tetap tak bergeming, jangan salahkan ayah jika memboyong Kinara langsung kehadapan istrimu.
Bersambung...