Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Pria Misterius


__ADS_3

Happy Reading❤️


Maafkan Author ya reader, kemarin salah up cuma sedikit episodenya sudah ke klik up. Mau di edit malah hilang ketikan selanjutnya.


Jadi author putusin untuk upload banyak di episode kali ini🙏


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Cuaca siang ini beruntung sangat cerah. Bahkan semesta seakan mendukung Khansa dan Ramadhan yang akan memasak rendang dan opor ayam.


Khansa langsung memakai celemek bersiap untuk memulai memasak, namun saat ia menyiapkan bumbu-bumbu ada satu bahan yang tidak ada.


"Yah sayang, kok santannya malah ga ada. Kita terlalu asik muter-muter milih-milih yang lain, jadi malah lupa beli barang yang ga penting."


"Apa itu sayang?"


"Santan sayang,"


"Harus ya?"


"Iyalah sayang, kalau ga dikasih santan nanti ga jadi opor sama rendang namanya."


"Terus gimana? Kita keluar lagi?"


"Sayang di sini saja, tadi aku liat ada warung rame di seberang sayang, di kanan jalan kalau jalan kaki cuma sebentar kok."


"Suruh pak Hakim atau pak Teguh aj ya,"


"Jangan sayang, nanti malu dia."


"Suruh anter aja jalan kaki dibelakang sayang ya, buat jaga-jaga." Ramadhan masih belum menyerah.


"Hm- baiklah sayang."


Dengan ditemani pak Hakim, Khansa berjalan kaki menuju warung yang tadi ia lihat. Dan benar penglihatan Khansa tadi, warung kelontong ini lumayan besar dan terlihat ada beberapa ibu-ibu yang sedang berkerumun memilih sayur hijau yang baru saja datang.


"Permisi pak, ada santan ga?" Tanya Khansa yang dalam satu detik membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


"Ada neng gelis, cari berapa bungkus neng?"


"6 saja pak."


"Neng pembantu di rumah besar itu? Meni bening pisan euy."


"Mang Asep, jangan gitu. Nona Khansa istri anak majikan saya, dia dokter mang Asep. Tega banget dikira pembantu euy."


"Ga apa pak Hakim, kan bapaknya juga ga tau."


"Hampura atuh neng, Mang Asep beneran ga tau."


"Iya ga apa pak."


"Namanya mba Khansa ya? Perkenalkan nama saya Bu Romlah, istrinya ketua RT di sini. Neng baru tinggal di sini ya? Biasanya penghuni rumah besar itu ga ada yang pernah keluar neng."


"Saya aja kan, baru seminggu di sini bu Romlah." Pak Hakim ikut menyela.


"Saya baru tadi pagi datang kesini bu, ini mau masak malah lupa beli santan."


"Berarti yang dulu sering melakukan aktifitas malam-malam tu penghuni sebelumnya ya mba, soalnya kalau dulu rumah besar itu kebalik aktifitasnya. Kalau malam mereka aktifitas, kalau siang mereka gada yang keluar."


"Oh- mungkin benar bu, itu pemilik yang lama. Karena setau saya, mertua saya beli rumah ini baru seminggu yang lalu." Khansa mencoba meredam hal yang bisa memantik rasa praduga lebih dalam.


Sepertinya aku harus bicara hal ini dengan kak Ramadhan nanti. Batin Khansa agak khawatir dengan hal-hal yang disampaikan oleh Bi Romlah tadi.


"Non Khansa, yang di katakan bu Romlah tadi tolong jangan di masukin ke hati ya. Soalnya, Ibu-ibu biasa suka ngegosip kaya gitu non."


"Iya ga papa pak Hakim, Khansa mau lanjut masak dulu ya pak."


"Iya non, hati-hati."


Ceklek! "Assalamualaikum."


Tak ada jawaban dari suaminya Khansa berjalan ke ruang tamu, zonk.


Ke kamar juga zonk.


Lalu Khansa berjalan ke dapur, ternyata sang suami sedang memotong daging sapi, diiris kecil-kecil berbentuk dadu. Sedangkan untuk ayam sudah ready dan bersih didalam wadah Tupperware wadah kesayangan sejuta emak-emak.


Kening Khansa berkerut, "Ini sayang sendiri yang lakuin semua?"


"Iya sayang, abis bosan nunggu sayang lama."


"Terus nanti kalau kaki atau tangan sayang sakit bagaimana? Aku ga mau sampai " Khansa memeluk Ramadhan dari belakang.


Alhamdulilah terima kasih Tuhan, tiada lagi kebahagian yang akan aku minta. Istriku sangat mencintaiku, itu saja lebih dari cukup. Selalu satukan kami baik di dunia maupun di akhirat nanti, Amiin


Batin Ramadhan melantunkan doa, semoga kebahagiaan ini akan kekal.


"Kok kak Ramadhan diam? Ada yang sakit?"


Khansa merasa khawatir.


Ramadhan langsung mencuci tangannya samai bersih, berbalik badan. Kali ini mereka larut dalam sebuah pelukan. 10 menit masih setia didalam adegan ini.


"Terus kapan masaknya kak Ramadhan?"


"Ye, kan tadi yang peluk duluan sayang." Ramadhan merasa dipojokkan dalam kasus ini.


"Hahahaha, oke-oke lepas. Sekarang kak Ramadhan istirahat ya, jangan ganggu aku masak."

__ADS_1


"Oke, aku mau main Pubg boleh ya sayang?"


"Boleh, nanti malam gantian tapi aku yang main ML. Oke deh, apa main free fire bareng?"


"Iya gampang nanti malam sayang. Hus,hus... aku mau masak."


"Love you..."


"Love you to..."


Drrt...! Drrt...!


"Hallo Assalamualaikum Bu."


"Iya Ramadhan sudah di rumah, baik bu. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum."


"Semangat sayang, sekitar 2 jam lagi Ibu akan datang." Teriak Ramadhan dari ruang tamu.


"Siap Kak Ramadhan."


...----------------...


Tetesan demi tetesan air hujan terlihat masih berjatuhan dari atas langit. Seorang wanita yang baru menikah selama sepekan itu, mengenakan T-shirt kebesaran berwarna putih, dan celana panjanh hitam yang kedodoran melambai-lambai.


Kali ini wanita bernama Kinara itu duduk di sofa besar yang terletak di ruang tamu. Menyandarkan sedikit punggung dan kepalanya pada sofa berwarna navy, sembari menatap bunga Lily yang cantik bermekaran di teras rumah yang kini berstatus suaminya.


Malam kian larut, semilir angin dingin malam berhembus cukup kencang, menerpa wajah Kinara. Kinara menghela napas dalam-dalam, memejamkan matanya untuk menikmati semilir kebahagiaan sebagai pengganti kebahagiaan yang belum ia dapatkan dari sosok Azka . Bayangan wajah kak Ramadhan tiba-tiba kembali hadir dalam ingatan matanya, hingga setetes air mata tiba-tiba saja terjatuh dari kedua sudut mata Kinara


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu utama di ketuk, pertanda sang pemilik rumah telah datang. Kinara segera menghapus sisa bulir-bulir air mata diwajahnya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menyusuri dinginnya keramik berwarna putih karena ia tak memakai sandal ruangan. Meraih gagang pintu, memutar kearah bawah.


Klek! Pintu utama yang lumayan besar terbuka.


“Kamu belum tidur?” tanya Yuta yang berdiri di balik pintu bersama Azka dan Naura.


“Belum dek, masih belum ngantuk."


Naura terlihat terus saja merengek, memohon


untuk bisa bertemu dengan Khansa.


"Om Naura ingin ketemu Mama Khansa, Naura kangen om, huhuhu..." Merintih, rewel dan susah ditenangkan. Naura benar-benar kehilangan sosok Khansa.


Yuta menggeleng pelan melihat penampilan Kinara yang menurutnya sungguh memilukan.


"Sini kak, coba Naura saya yang gendong."


Tawar Kinara yang melihat Azka sudah kerepotan meladeni Naura.


"Jangan digendong, kamu sedang hamil muda. Ingat itu."


"Naura, sama tante Kinara yuk? Kita ke IndoApril yuk. Beli ice cream." Mata Naura langsung berbinar.


"Saya tidak mengizinkan beli ice cream, beli yang lain." Ucap Azka sambil menurunkan Naura dari gendongannya, sedikit melonggarkan dasinya. Lalu duduk di sofa.


"Kakak!" Yuta berusaha memperingatkan sikap kakaknya.


"Kalau begitu beli yoghurt yuk, Mama Khansa suka banget loh yoghurt rasa strawberry."


"Oya, tante?"


"Hm- iya, tante juga suka rasa strawberry."


"Cama tante, Naura juga suka rasa setlobeli."


"Berangkat yuk." Kinara menadahkan telapak tangannya kepada Naura, dengan begitu antusias Naura menyambut uluran tangan itu.


"Pakai ini untuk belanja," Azka menyodorkan kartu debit berwarna gold kepada Kinara.


"Ga perlu kak, Kinara ada uang kok." Tolak Kinara halus.


"Kalau kamu tidak mau mengambil kartu ini, saya tidak mengizinkan kamu keluar."


Dengan langkah yang berat, Kinara meraih kartu debit yang tergeletak di meja.


"Kak Kinara, aku juga mau dong. Tapi yang rasa mix fruit yah, kalau kak Azka sukanya yang rasa banana." Ucap Yuta dengan penuh senyum.


"Baik, saya pergi dulu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Klek! Suara pintu ditutup.


"Kak,"


"Hm-"


"Kakak, aku mau bicara ini!" Yuta terlihat mulai kesal, kakaknya begitu dingin dan susah diajak mengobrol serius.


"Kamu kalau mau ngomong tinggal ngomong, kakak sambil liat jadwal operasi. Kamu ini sebelas dua belas sama Naura."


"Ck! Terus apa bedanya kakak dengan Naura? Sama-sama rewel, susah diajak ngomong serius."


"Jangan memancing amarah, kakak capek."


"Kak, kamu ga lihat penampilan Kinara tadi?


Apa kakak, ga punya waktu buat ngajak dia belanja baju-baju hamil dan susu-susu hamil untuk menunjang kehamilannya dia? Kakak dokter loh, seharusnya kakak lebih tau apa saja yang sedang diperlukan Kinara saat ini."

__ADS_1


"Apa kamu lupa Yut? Kakakmu ini dokter spesialis bedah, bukan spesialis kandungan seperti Khan-sa."


Yuta mendengus napasnya kasar, "Kak, please- jangan hanya Khansa terus yang ada dipikirannya kakak. Istri kakak juga butuh perhatian kakak walau hanya sedikit kak."


"Dia sendiri yang ingin memakai pakaianku Yut, kakak sudah melarangnya dan belanja baju sendiri. Tapi katanya memakai baju kakak dia merasa lebih nyaman."


"Astaghfirullah kak, bener-bener kakak ga peka.


Kalau cuma nyuruh, Yuta juga bisa kak nyuruh dia belanja sendiri. Dia ingin belanja ditemani kakak, sebagai seorang suami. Tanpa melihat embel-embel kebelakang kak."


"Huft, ya sudah weekend kita semua belanja."


"Bukan kita kak, tapi hanya kakak dan Kinara."


"Ya, baiklah." Untuk menyudahi pembicaraan Azka segera menyetujui permintaan Yuta.


🌹🌹🌹


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit berjalan kaki, Kinara dan Naura kini sudah tiba di sebuah minimarket yang letaknya memang tidak jauh dari rumah dokter Azka.


Beruntung minimarket tidak sedang ramai, sehingga mempermudah Naura memilih belanjaan sambil bermain-main.


Kinara mendorong handle pintu kaca, lalu mengambil sebuah keranjang belanja.


"Jangan tante, bial Naura aja yang bawa kelanjangnya."


"Oke sayang,"


"Selain yoghurt Naura mau beli apa lagi?"


"M- yoghurt aja tante, kalau beli yang lain-lain nanti om Azka malah. Padahal kalau sama mama Khansa, om Azka ga pelnah malah." Memang pada usia Naura, mereka akan berbicara sesuai yang mereka lihat. Tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan, saat itu juga hati Kinara merasakan sakit. Tak menampik, dia memang bukan sosok yang dirindukan apalagi dicintai seperti Khansa.


"Tante, yang walna pink ini stlobeli kan?"


"Iya sayang, kita ambil yah. Ini akan berat sayang kalau sudah diisi 10 botol yoghurt, tante saja yang bawa keranjangnya ya?"


"Ti-dak apa tante, Naura ku-uuat! Huh." Sesekali Naura mengusap keningnya yang mulai berkeringat.


Setelah cukup mengambil 10 botol yoghurt, Kinara dan Naura menuju meja kasir,


"Ini, tante huuh." Naura menghela napas karena baginya keranjang itu berat. Kinara menaruh keranjang yang berisi 10 yoghurt di atas meja, untuk ditotal oleh Kasir.


"Total semuanya 89.000 kak, mau bayar cash/debit?" Tanya sang kasir ramah.


"Pakai debit kak," Kinara menyerahkan kartu berwarna gold itu kepada sang kasir.


"Silahkan pin-nya kak." Sang kasir menyodorkan mesin EdC tertera dilayar untuk segera memasukan pin.


"Ya ampun, tante lupa tanya berapa nomor pin-nya Naura. Sebentar ya mba, saya telepon suami saya dulu."


"Baik mba, silahkan antrian selanjutnya." Ucap sang kasir.


Drtt...! Drt...! Deringan telepon begitu lama, tapi Azka tak segera menerima panggilan itu. Azka yang sedang mandi, sehingga ponselnya tergeletak begitu saja di Nakas.


Tau gitu tadi aku bawa dompet ku saja, bodohnya aku meninggalkan dompet dan hanya membawa kartu debit yang bahkan tidak tahu nomor pin-nya.


"Ini mba, bawa saja. Sudah saya bayar."


Kinara dan Naura berbarengan menoleh ke sumber suara.


Pria jangkung, berjas dan memakai dasi lengkap dengan pin berwarna gold di dada sebelah kirinya. Jika Kinara boleh menilai, pasti pria ini blasteran indonesia-eropa. Perawakan dan bentuk wajahnya terlihat begitu dominan.


"Terima kasih, rumah saya didekat sini. Apa anda bersedia menunggu. Saya akan ganti,"


Kinara sangat merasa tidak enak berhutang seperti ini.


"Tak apa, saya ikhlas. Apalagi untuk anak semanis ini." Pria itu menyentuh pipi Naura dengan lembut.


"Apa anda bisa membantu saya? Teman saya ini katanya tinggal di dekat sini. Tapi saya tidak bisa menghubunginya, apa anda mengenalnya?"


Pria itu menyodorkan foto pria yang sangat tidak asing baginya. "Kak Ramadhan." Batin Kinara.


"Apa kamu sungguh temannya?" Tanya Kinara memastikan.


"Sebenarnya adikku yang berteman dengannya. Tapi adikku sudah tiada, jadi aku agak kesusahan mencarinya."


Entah mengapa benak Kinara merasa ada yang ganjal dengan lelaki dihadapannya ini.


"Sebelumnya memang pria ini tinggal didekat sini, tapi baru seminggu ini dia sudah pindah. Dan sayangnya saya tidak tahu alamat barunya di mana."


"Sungguh?"


"Ia."


"Apa anda tidak bisa membantu saya untuk mencarikan alamatnya?"


"Maaf kak, bukannya saya tidak ingin membantu. Tapi saya sudah punya suami dan saya juga tidak pernah keluar rumah, jadi saya rasa, saya tidak bisa membantu anda. Saya permisi ya, takut suami saya mencari-cari saya."


Kinara menggandeng Naura, pergi meninggalkan pria itu yang masih berdiri mematung dihalaman parkir IndoApril.


Kinara sangat berterima kasih, diposisi seperti ini Naura tidak banyak berbicara. Sehingga aktingnya tidak mengenal pria difoto itu tidak terbongkar. Entah mengapa, Kinara merasa tidak mempercayai pria itu.


Sebenarnya siapakah pria itu?


Untuk apa dia mencari kak Ramadhan?


Batin Kinara berkecamuk, penasaran siapa sebenarnya pria itu.


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2