
Happy reading❤️
Selamat siang readers terzeyenk☺️
Apa kabar?
Kenken kabarne?
How are you?
Pripun kabare?
Baa Kaba?
Dan lain-lain😁
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt, sehat wal'afiat, dan bahagia selalu☺️
Mohon maaf sebelumnya, author lagi galau, dan sedikit miring. Karena ga bakal dapet jatah libur kerja 2 minggu kedepan, kerja lembur bagai kuda. Karena minggu ke dua dan ke tiga bulan ini, minggu sibuk untuk umat Hindu. Hari raya besar mereka Galungan dan Kuningan terlaksana di bulan ini. Jadi yang lain harus stay☺️.
Doaku malam ini, semoga readers-readers sekalian kapan-kapan bisa jalan-jalan ke bali nih. Seneng banget kali ya- kalau bisa kopdar disini☺️ Ngarep tingkat tinggi.
Astaghfirullah, maafkan author yang lagi curcol ya😁
Bab ini aku buka dengan sesi curcol yang ga jelas, karena pada bab ini juga akan ada percakapan yang ga jelas juga.
Author lagi lelah mikir adegan berat, jadi bab ini sebagian isinya adegan miring. Jangan diambil hati atau di maknai terlalu serius ya- semata-mata untuk selingan saja.
Di dunia nyata hidup sudah berat, jadi kali ini di novel mau hidup yang ringan plus miring dulu sejenak😁
Yuk Markicus👉 Mari kita cuss...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Langsung pulang nih beb?" Tanya Fitria to the point dibalik kemudinya.
"Mumpung Naura sama Azka, kita hang out bentar yuk. Udah bertahun-tahun lamanya kita ga bareng ye-kan. Oia lu ga salat beb?" Ucap Yuta menimpali.
"Ya udah kita ke resto tempat kita nongkrong dulu ya, mau gak? Gue lagi dapet nih,"
"Sama beb😁" Yuta segera menyamakan kalau mereka sedang sama-sama datang bulan.
"Eh beb- kalau kita para perempuan kan datang bulan, kenapa kalau laki-laki malah sukanya datang dan pergi semaunya." Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Fitria.
"Ya elah beb, lu belum move on ceritanya dari Boby? Yang kek gitu masih dibahas aja, hahahahaha." Yuta malah mengejek.
"Eleh, lu pinter aja kalau ngomong. Emangnya lu udah bisa move on dari Hilal? Belum kan? Udah de, kita tu sama-sama kaum hawa tersakiti dan ditinggal pergi, jadi jangan suka ngejek- huhuhu."
"Aish- emang ga pernah menang gue kalau ngomong sama lu."
Beriringan dengan pertengkaran tak jelas akal dan ujungnya itu, akhirnya Fitria dan Yuta tiba di resto langganan mereka nongki sedari SMP.
"Wah udah banyak berubah ya, dulu ga seluas ini tempatnya." Yuta berceloteh seolah menemukan resto baru.
"Duduk dimana nih Yut? Outdoor? Indoor?"
"Didalam aja yuk, biar jadi." Jawab Yuta semangat.
Krik...krik.." Maksud lu? Apanya jadi?" Otak Fitria loading 100kali.
"Ya jadi makanlah, emang jadi apa? Otak lu mulai ngeres beb."
__ADS_1
"Ye- lagian lu ngomong tu yang bener, jangan ambigu gitu dong." Fitria mencubit lengan Yuta lembut.
"Selamat sore kak, mau pesan menu apa saja? mau makan disini atau take away?" Sapa pelayan resto dengan ramah.
"Makan sini kak, meja indoor- Mie Iblis M satu, es kuntilanak satu, es genderuwo satu- terus mie angel M satu, sumpia udang keriting dua, dessert nya brownis puding coco lava dua ya." Ujar Fitria begitu semangat.
"Baik totalnya 150.000 kak, pembayaran cash atau debit?"
"Cash aja kak."
"Baik, mohon ditunggu dimeja no 239 ya kak. Selamat menikmati."
Yang domisili Bali pasti tau ini menu andalan resto apa🤭
**
Tak butuh waktu lama, sepuluh menit kemudian seluruh menu yang telah Fitria pesan sudah datang di meja dua wanita cantik itu.
Perasaan Yuta begitu mengharu biru, tak kuasa lagi ia menahan. Setelah menyantap habis seluruh menu yang dipesan Yuta memeluk Fitria begitu erat.
"Terima kasih ya Fit, bahkan sampai sekarang kamu ga pernah lupa dengan makanan-makanan kesukaan aku di resto ini."
Senyum sumringah bercampur dua tetas air mata itu menghiasi wajah Yuta.
"Bagaimana aku bisa lupa beb, setiap aku dengan Khansa kesini. Khansa selalu memesan menu kesukaan kamu, padahal kamu tahu sendiri kalau dia gak begitu suka Sumpia udang. Aku pernah bertanya sama Khansa beb, Khansa- kamu kan ga suka Sumpia Udang? Terus ngapain kamu pesen?"
Tau beb, dia jawab gimana?
"Aku sengaja memesan dan memakan ini Fit, agar rinduku dengan Yuta sedikit berkurang. Walau dia sudah mengecewakan aku dan pergi begitu saja tanpa kabar, dia tetap sahabat kita."
Mendengar penjelasan Fitria air mata Yuta kembali mengalir, berebutan untuk saling berjatuhan di pipinya.
"Ya Allah, betapa beruntungnya aku punya kalian, aku memang seorang sahabat yang tak tahu diri Fit. Andai dengan aku bersujud di di kaki Khansa, kurasa itu juga tak akan cukup untuk menebus luka yang pernah ku torehkan di hati Khansa, Fit. Huhuhuhu."
Fitria mengelus bahu Yuta, berusaha menenangkan hati sahabatnya itu.
Dua perempuan berwajah oval itu kini larut dalam pelukan yang penuh keheningan.
"Apaan laki aku Boby? Ga sehebat yang kamu pikirkan. Bentar lagi juga aku mau gugat cerai dia, toh juga yang nyomblangin aku yang namanya Sinta udah meninggal."
"Loh kok gitu say, padahal kelihatannya gagah banget orangnya." Timpal lawan bicaranya.
"Iya- Sinta bilang kalau Boby tu perkasa banget, makanya aku mau tidur sama dia pas dia mabok. Dan memang kalau dari penampilan kelihatannya gagah, tapi ya gtiu taunya lembek. Baru main 15 menit udah keluar. Kesel ga sih, aku belum nyampe puncak dia udah turun gunung duluan. Hahahaha." Selorok Winda dengan tawa kecutnya.
Percakapan itu sangat menggelitik ditelinga Fitria, hingga akhirnya Fitria memutuskan menoleh kearah belakang tempat duduknya.
Dan benar saja, wajah yang tak asing bagi Fitria terlihat disana sedang berbincang-bincang dengan temannya.
Winda! Batin Fitria rasanya tak karuan, ternyata dugaannya benar. Nama Boby yang sedang diperbincangkan ternyata benar Boby mantan kekasihnya.
"Lu kenal tu cewek Fit?" Tanya Yuta yang penasaran.
"Nama cewek itu Winda, Yut. Dia istrinya Boby,"
"Hah!" Yuta yang sangat terkejut menutup mulutnya yang refleks menganga.
"Kamu mau coba suami aku beneran? Ya coba aja sana. Aku malam ini ga pulang kok."
"Beneran Win?"
"Iye sono, gitu aku herannya. Mantan pacarnya si Boby yang namanya Fitria itu, sampai minum cairan baygin lo say karena si Boby nikah sama aku. Hahahaha, dia ga tau kali ya. Cowok yang dia tangisin sampe mau mati tu otongnya lembek."
__ADS_1
Byuuur!
Akhh! Lengkingan sebuah teriakan menggema di ruangan itu.
"Bagaimana? Enak ga es kuntilanaknya di wajah lo? Es kuntilanak cocok dengan wajah kuntilanak juga kan?" Fitria berkacak pinggang didepan Winda dan seorang temannya.
"Haaah! Emang cewek kurang ajar kamu ya!" Maki Winda dan sibuk mengusap wajahnya dengan tissue.
"Aku ga nyangka loh, dulu waktu lu kerja sama kak Ramadhan lu tu cewek alim, ga banyak omong dan ga liar kaya gini. Aku mengikhlaskan Boby nikah sama lu, karena aku berpikir bahwa lu pantes buat dia. Lu lebih baik dari aku! Tapi nyatanya? Lu ga lebih dari seorang wanita esek-esek! Yang menilai laki-laki dari uang dan bentuk burungnya!"
Napas Fitria terlihat tersengal-sengal karena menahan emosi jiwanya yang begitu membara.
Jika seperti ini, rasanya aku ingin melepas mu didalam pelukan Bob. Maafkan aku Bob, aku kira kamu sudah bahagia dengan hidup bersama Winda, mungkinkah masih ada waktu?
Yang tersisa untuk kita? Mungkinkah masih ada cinta dihati mu?
Andaikan saja aku tahu, sakitnya jadi kamu. Ahh- Batin Fitria rasanya tercabik-cabik.
Byur! "Bagaimana? Sekarang sudah impas ya?" Winda menyiram sisa air di gelasnya kepada Fitria.
"Kurang ajar lu ya-, rasain nih jambakan kame hame gue!"
Akh! Rasain lu!
Duet maut antara Fitria dan Winda akhirnya tak terelakkan. Sementara mereka berduel, Yuta mengawasi teman Winda. Takut jika perempuan itu membantu Winda mengeroyok Fitri, baru dia juga akan ikut campur.
Namun acara pergulatan di resto tak berlangsung lama. Pihak keamanan resto melerai mereka berdua, dan pergulatan ini harus berakhir di ruang interogasi kepolisian.
Rambut berantakan bak orang hutan, darah diujung bibir, bekas cakar-cakaran. Ah- sungguh pemandangan yang mengenaskan dari kedua wanita cantik itu saat ini.
Disaat seorang polisi mulai menanyakan kronologi kejadian kepada kedua wanita itu, bukannya dapat keterangan singkat, justru kedua wanita itu terlibat pertengkaran lagi disana.
"Sudah! Sudah! Geser tempat duduk! Beri Jarak lima meter! Saya tunggu wali kalian masing-masing saja! Capek saya berhadapan dengan dua wanita aneh seperti kalian!" Ucap pak polisi itu, yang sepertinya kesabarannya sudah habis.
Tak berselang lama, Boby muncul disana. Dipandangnya satu persatu oleh Boby, senyum tipis mengambang dari bibirnya.
"Apa ini sakit?" Pertanyaan sederhana Boby kepada Winda berhasil menghancurkan hati Fitria menjadi berkeping-keping.
Tik! Satu tetes air hujan dari bola mata Fitria turun ke pipi, tapi buru-buru Fitria menyusutnya dengan punggung tangannya.
"Sakit sayang, tuh! Mantan kamu yang siram dan nyerang aku duluan! Pokoknya dia harus dikasih balasan yang setimpal." Winda mengadu kepada Boby bak seorang anak kecil. Padahal satu jam yang lalu Winda baru saja mengejek pria itu dengan kata lembek.
"Cup, cup sudah, biar masalah ini aku nanti yang akan tangani. Kita sekarang pulang dulu saja ya, kita bersihkan luka-luka kamu."
Boby memegangi istrinya itu dengan lembut untuk berdiri. "Masalah ini tidak aku perpanjang Fit, jika hal ini terulang kembali. Aku tidak segan untuk memproses masalah ini.
Daaar!
Bak disambar petir berkecepatan cahaya, dan digulung ombak tinggi ratusan meter. Orang yang Fitria bela mati-matian justru malah berbalik bersikap tak adil kepadanya.
"Eh- Boby kampret, kamu tahu gak kelakuan istri kamu gimana tadi?! Enak aja kamu main nyalahin Fitria gitu aja. Harga diri kamu tu sedang di bela Fitria! Istri kamu tu udah jatuhin harga diri kamu didepan temannya. Tapi lihat, malah ini balasannya!" Yuta esmosi akut melihat kesedihan di mata sahabatnya karena kelakuan Boby.
"Saya tidak pernah menyuruh dia membela harga diri saya kan?"
*Damned!
Kata-kata Boby semakin menyayat hati Fitria*.
Tok! Tok!
Hafiz datang dari balik pintu, tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir manisnya. Ia berjalan melewati Winda dan Boby, melepas jaket berwarna navy yang ia kenakan saat itu. Lalu mengenakannya kepada Fitria, menutupi tubuh yang sudah mulai terasa dingin karena guyuran air es dari Winda. Adegan sederhana, namun juga berhasil membuat hati Boby tercabik-cabik.
__ADS_1
"Ayo kita pulang,"
Bersambung...