Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Bisik-bisik Tetangga


__ADS_3

Happy Reading❤️


Kasur yang empuk, gelombang elektrik dihati yang senada menambah nyenyak pasangan Halal ini tidur siang, hingga alarm waktu Salat Dzuhur tiba. Khansa dan Ramadhan baru terbangun.


"Hoaaam," Khansa merenggangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri secara perlahan. Kehamilan masuk ke minggu 11 membuat mau tidak mau Khansa harus beradaptasi dengan keadaan. Pernah suatu hari ia asal merenggangkan tubuhnya dengan keras, perutnya yang tertarik begitu saja langsung kram. Dengan posisi perut yang belum terlalu besar, membuat Khansa terkadang lupa jika sedang hamil. Maka dari itu Ramadhan sering mengingatkannya dengan kata "Ada Ramadhan junior di dalam."


"Selamat siang sayangku." Ramadhan mencium kening Khansa dengan lembut.


"Salat Dzuhur yuk," Ramadhan mengangguk.


Khansa menuntun Ramadhan secara perlahan menuju kamar mandi.


"Wahh." Khansa begitu terpesona dengan bentuk kamar mandi pribadinya dengan Ramadhan kali ini.


Untuk Kamar mandi saja, lebar dan bentuknya sudah selebar kamar Khansa dan Ramadhan di rumah almarhum Abah. Ruang bath up sendiri, toilet sendiri dan ada ruang khusus sauna juga. Amazing!


"Kenapa sayang?" Tanya Ramadhan heran.


"Ini kamar mandi, terlalu mewah bagiku." Mata Khansa traveling melihat detail demi detail kamar mandi yang begitu memesona.


"Ini bahkan belum ada setengahnya dari rumah yang di Jakarta sayang, astaghfirullah maaf bukan bermaksud sombong."


"Kapan kita bisa ke Jakarta sayang?" Tanya Khansa penasaran.

__ADS_1


"Untuk apa Ke Jakarta? Sekarang semua keluargaku di sini, Sera juga di sekolahkan di sini."


"Oh iya- ya mungkin suatu saat kita akan jalan-jalan."


"Boleh, lucu ya sayang- disaat orang lain, berlomba-lomba ingin liburan ke Bali. Kita malah cari destinasi liburan selain Bali." Ramadhan terkekeh.


"Heehehe iya, ya sudah. Ayo kita segera ambil wudhu kak, nanti malah ngaret. Katanya mau belanja buat masak." Khansa menyadari, mereka sudah berlama-lama di dalam kamar mandi.


Ramadhan mengimami Salat dengan posisi duduk di kasur, dan Khansa menjadi makmum di belakangnya.


Selesai menjalankan kewajiban kepada Sang Pencipta. Kini Ramadhan dan Khansa meluncur menuju Hypermart, Ramadhan sengaja memilih supermarket yang lebih besar untuk memudahkan Ramadhan yang masih menggunakan tongkat untuk berjalan.


"Saya ikut bantu ya pak Ramadhan, dorong troli saja gapapa. Saya khawatir nanti mba Khansa kecapean." Pak Hasan menawarkan diri, karena biasanya pak Hasan hanya menunggu di area parkir untuk merokok atau tetap di dalam mobil menunggu hingga sang majikan selesai.


"Alhamdulilah, terima kasih kalau begitu pak Hasan." Respon dari Ramadhan sangat senang.


"Sayang, aku beli daging untuk masak Rendang ya?" Dengan mata berbinar-binar Khansa memandang ke arah Ramadhan.


"Astaghfirullah sayang, tinggal ambil. Apa yang sayang ingin harus segera di cari, takut nanti dede bayi ngiler. Tapi jangan yang macem-macem ya pengennya sayang." Ramadhan mengelus-elus perut istrinya yang belum begitu menonjol kedepan.


"Terima kasih sayang,"


"Loh, berarti ga jadi masak Opor Ayam ya sayang?" Tanya Ramadhan yang baru ngeh, jika menu masakannya akan berubah haluan. Entah mengapa Ramadhan begitu menginginkan Opor Ayam kali ini.

__ADS_1


"Tetap masak Opor Ayam kok kak, tenang ya. Kok jadi ngidam dua-duan ya, hehehehe." Khansa terkekeh.


Berputar-putar, lihat sana-sini, ambil barang sana-sini tak terasa mereka sudah memakan waktu satu jam di Hypermart.


"Total belanjanya, 3.141.500 kak." Kasir menyebutkan nominal belanjaan mereka.


Ramadhan menyodorkan kartu kreditnya,


Tilulit, tiiit.


Kartu diblokir. "Mohon maaf pak, kartu yang ini tidak bisa digunakan."


Kening Ramadhan berkerut, lalu ia menyodorkan beberapa kartu debit platinum, dan Black card yang ia punya. Ternyata hasilnya sama, semuanya ditolak.


"Ya sudah kak, pakai kartu Khansa saja dulu."


Khansa menyodorkan kartu debitnya, sang kasir kembali menggesekkan kartu ke mesin EDC. Finally keluar juga bukti nota geseknya.


"Ada yang salah sepertinya dengan kartu-kartu ku, tolong ingatkan aku sayang. Aku sudah berhutang kepadamu. Secepatnya akan aku ganti setelah mengurus kartu-kartuku."


"Astaghfirullah sayang, masa sama istri sendiri hutang. Gak lah, pulang yuk."


"Uang suami, uang istri sayang. Tapi uang istri belum tentu uang suami."

__ADS_1


Khansa mencubit lembut pinggang sang suami, lalu mereka tertawa bersama.


Bersambung...


__ADS_2