
Kasih semangat author remahan rengginang ini dengan memberi like, comment dan vote ya
Happy reading❤️
Hidupku didunia ini yang hanya sekali
Terombang ambing oleh rahasia ilahi
Siluit waktu telah berbunyi berdenting
Bangunkan saya pada kisah suci
Sebuah kisah antara kamu, aku dan takdir Tuhan kita.
Yang dipertemukan tanpa sengaja dan diduga
Mungkin, jemari takdir telah terlatih dan tertatih
Hadapkan lawan jenis pada jodohnya yang sangat mempesona.
Karena ketika menatapmu pertama kali
Aku telah terjatuh begitu dalam
Mungkin, inikah apa yang dikatakan cinta pertama itu
Entahlah
Hati ini berkata sesaat buyar oleh keadaan
Senyapkan rasa yang mulai menyala
Genggam setiap besar kepala yang terasa
Cinta pertama yang tak pernah ku tahu
Kini hadir lagi
Benarkah itu dia ya Rob?
Seorang pria bernama Ramadhan
yang akan selamanya menjadi Imamku.
Sedangkan Hilal? Yang ku kira dia adalah cinta pertama dan terakhir ku? Ternyata bukan
Ternyata aku masih diberi kesempatan untuk menemukan kembali serpihan masa lalu yang aku kira, tidak akan pernah bisa menemukannya lagi.
Khansa yang sudah berada di taman kota, padahal waktu belum menunjukan pukul 16.00
masih 15 menit lagi. Memang Khansa sengaja datang lebih awal.
Ia ingin mengenang masa kecilnya sebentar.
Masa disaat ia belum memutuskan menjadi seorang yang menyebalkan dan membangkang.
Perlahan Khansa menutup matanya, menghirup udara di taman yang saat itu sangat ringan.
Taman yang dikelilingi banyak pohon dengan hamparan rumput berwarna hijau disetiap pandangan itu membuat Khansa jauh lebih rileks.
Energi Yin dan Yan yang seimbang seolah membuat tubuh dan pikiran Khansa terasa lebih ringan.
Masih dengan mata yang terpejam,
perlahan ingatan Khansa kembali pada kejadian 10 tahun yang lalu.
Dimarahi Abah saat Aisyah tak sengaja terjatuh saat bermain sepeda bersamanya.
Membuat Khansa menangis dan berlari-lari entah kemana tujuannya.
Bertemu dengan Azka di persimpangan jalan.
Mengetahui pesannya tidak dibalas oleh Khansa, Azka memutuskan untuk mencari Khansa yang lokasi pondoknya tak begitu jauh dari kompleks perumahan Azka.
__ADS_1
Akhirnya ia dan Azka menuju taman kota.
Azka mencoba menghibur kesedihan Khansa,
walau pelaksanaanya begitu alot.
Azka berhasil membuat Khansa tersenyum kembali.
Mengetahui sahabat yang sangat ia sayangi itu sudah rileks, Azka memutuskan untuk membelikan Khansa ice cream.
Hingga akhirnya kejadian nahas itu terjadi.
Disaat Khansa merasakan desiran aliran darah yang tak biasa
ia mulai bisa mengingat lebih jelas wajah pria kecil yang saat itu berlumuran darah dihadapannya saat ia tengah bermain-main.
Tatapan sendunya, wajahnya yang sudah mulai terlihat tampan walau usianya masih belia.
Wajah khawatirnya yang begitu menggemaskan.
Dan terkahir wajah merasa bersalah yang ia suguhkan sambil ditarik pergi meninggalkannya.
Tanpa permisi air mata itu jatuh dari mata indah yang terpejam itu.
Sentuhan terasa meraba menghapus air mata di pipinya.
Khansa yang terkejut membuka kedua bola matanya.
Dan- akhirnya, wajah yang tengah ia ingat-ingat sepuluh tahun yang lalu itu terpampang jelas dihadapannya.
Senyum kecil menyungging dari bibir Khansa.
Wajah pria kecil itu kini semakin tampan setelah dewasa.
Tatapan mata itu, Khansa baru menyadarinya.
Tatapan pemilik mata itu tak pernah berubah.
Tangan Khansa mencakup tangan Ramadhan yang tengah menyangga kedua pipi gemoy-nya.
Tawar Ramadhan kepada istrinya yang telah meneteskan beberapa air mata itu.
Khansa perlahan menggelengkan kepalanya, "Wa'alaikumsalam suamiku, aku tidak lelah sayang. Aku hanya mengingat pertemuan kita 10 tahun yang lalu, aku baru menyadarinya. Bahwa sorot mata pria kecil hingga dewasa yang saat ini berada dihadapanku itu tetap sama. Namun aku sangat terlambat menyadarinya. Justru aku malah berlama-lama membenci dan kesal kepada pria itu." Penyesalan Khansa sangat terlihat dari raut wajahnya.
"Cukup sayang, aku juga salah dalam hal ini. Terlalu lama untuk mencari mu kembali.
Dan karena kedatanganku dalam hidupmu, membuat kamu harus mengalami luka tusuk seperti ini." Kali ini tatapan sendu Ramadhan mengarah bagian perut Khansa dan mencoba mengusapnya dengan lembut.
Khansa mengusap kedua air matanya, lalu membuka kotak berisi kue brownis berlapis Nutella yang masih hangat itu. "Sayang, aku punya brownis. Hehehehe, Akh- buka mulutnya." Perintah Khansa sambil menyodorkan kue itu di depan mulut Ramadhan.
"Bismillah," Ramadhan membuka mulutnya dan memakan suapan kue dari Khansa.
"Sayang tahu dari mana jika aku suka kue brownis berlapis Nutella dari usia 10 tahun?"
"Ada deh-" Jawab Khansa santai sambil menggigit satu potongan kue ditangannya.
"Jawab dong sayang, aku jadi penasaran nih."
Ucap Ramadhan yang sudah terlanjur kepo itu.
"Maaf ya sayang sebelumnya, aku--
aku mengetahui sayang menyukai brownis itu dari Reza. Namun untuk mengetahui sayang suka dari usia 10 tahun, aku bertanya pada Hafiz, hehehehe. Sayang jangan marah ya."
Khansa khawatir jika suaminya itu akan marah.
"Aku tidak marah, aku senang jika sayang ingin mengetahui tentang aku lebih jauh. Tapi lain kali sayang tidak perlu menanyakan itu kepada Reza dan Hafiz. Langsung saja bertanya padaku sayang, insyaallah aku akan jawab semuanya tanpa ada yang aku tutupi lagi."
Ramadhan membelai kepala Khansa yang terbalut hijab berwarna putih itu.
"Baiklah sayang," Senyum cantik nan merekah itu menjadi pemandangan paling indah yang Ramadhan pandangi saat itu.
"Kita jalan-jalan yuk sayang, sepertinya udara dan cuacanya mendukung hari ini untuk kita berjalan mengitari lapangan taman kota ini."
__ADS_1
Ajak Ramadhan sambil menggenggam tangan wanita yang sangat ia cintai itu.
Khansa mengangguk pelan dan ikut memeluk genggaman tangan suaminya itu. Entah mengapa ia merasa kali ini ia begitu mudah mencintai suaminya.
Kedua insan itu seolah tengah mengulang masa kecil mereka.
Ramadhan membelikan Khansa pop corn manis, gulali dan Arum manis rambut nenek.
"Wah bahaya ini, istriku terancam terkena diabetes. Istriku yang sudah manis ini sekarang jajan-jajanan yang manis-manis pula. Apa tidak over nanti manisnya ini?" Ramadhan meledek istrinya yang tengah sibuk memakan Arum manis rambut nenek itu.
"Hehehehe sayang juga harus maem, ini enak lo. Jadi inget sama masa kecil dulu. Masa disaat aku masih tak tahu ternyata menjadi dewasa itu berat." Khansa menundukkan pandangannya.
Ramadhan memeluk pundak istrinya, "Mulai saat ini, esok dan seterusnya beban di pundak ini akan menjadi beban ku juga.
Bahagia di hati ini menjadi bahagiaku juga.
Sakit di hati ini menjadi sakit ku juga."
Jujur saat ini aku ingin mencium bibir manis milikmu itu Khansa, tapi kita sedang berada diluar sekarang.
"Sayang," Ramadhan tetap pada lamunan gelapnya. "Sayang- Astaghfirullah." Khansa sedikit meninggikan volume kata-katanya.
"Ah- ya sayang?" Ramadhan baru buyar dari pemikirannya.
"Pasti sayang lagi mikirin wanita lain ya?"
Selidik Khansa.
"Astaghfirullah, ga akan sayang. Di otak ku di hatiku hanya ada Khansa seorang."
Kekeh Ramadhan.
"Naik ojek sambil bawa mangga,
kak Ramadhan jelek Khansa yang punya."
Khansa mulai berpantun menggombal pada suaminya.
"Menggiring bebek dengan rasa bahagia,
Walau aa' Ramadhan jelek, tapi ini hasil belahan langit dan surga. Hahahahaha,"
"Ah garing, ga lucu." Sanggah Khansa.
"Ya jelas ga lucu sayang, orang lucunya udah diambil sayang semua." Ramadhan mencium lembut pucuk kepala istrinya itu.
"Mama Khansa!"
Suara bocah kecil yang sangat cantik kurang lebih sekitar berumur 4/5tahun itu berteriak memanggil mama Khansa dengan mata yang berbinar-binar.
Siapakah anak kecil yang cantik ini?
Anak Khansa?
Ouh temukan jawabannya pada episode selanjutnya.
Jangan lupa like, comment n vote atau hadiah ya. Maksa nih😁
...Cerbung...
...Hai semuanya!...
...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....
...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....
...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....
↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️
...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...
...~Siapakah Jodohku?...
__ADS_1
...~Obsesi Tingkat Tinggi...