
Happy Reading❤️
"Gimana ni beb, kita tunggu mereka pergi dulu baru udahan apa gimana?" Fitria bingung, ia jadi merasa sungkan kepada Khansa. Pasti sekarang hati dan pikiran Khansa berkecamuk menjadi satu.
"Tunggu mereka pergi saja Fitria, habis ini aku mau ke masjid dulu. Ini sudah masuk waktu Dzuhur dan kita belum shalat. Santai saja, aku tak mencintainya Fit, jadi aku tak merasa sakit hati kok."
"Masjid didekat sini ada beb, tapi deket kampus kita isi acara tadi. gapapa?"
Tapi seharusnya dia bisa jaga hati kamu beb, percuma juga punya suami ganteng, alim tapi kalau dibelakang dia selingkuh. Aku ikut nyesek beb. Batin Fitria meronta-ronta
"Ga papa, yang penting kita wajib shalat."
"Oke beb,"
Tak butuh waktu lama, Ramadhan dan Winda juga sudah selesai makan siang. Sedari tadi Khansa mengamati, tidak ada percakapan diantara Ramadhan dan Winda. Hal itu sedikit membuat Khansa agak lega. Setidaknya tidak didepan matanya sendiri, suaminya bermesraan dengan wanita lain.
Khansa dan Fitria pun menyusul, menyelesaikan pembayaran di kasir.
"Ya Allah Khansa tu mobil laki lo liat, Range over sport. Mobil kita berdua kalah telak Khansa." Fitria kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia takut keceplosan berlebihan berucap.
Range Rover Sport 3.0 HSE kendaraan roda empat yang memiliki kemewahan didalamnya. Yah mobil yang di bandrol dengan kisaran harga Rp2,4 Milyar Rupiah ini bahkan diketahui mampu memberikan power hingga 340 PS dengan torsi sebesar 450 nm melalui gearbox otomatis dengan 8 percepatan dan mampu mencapai top-speed hingga 210 km/jam.
"Udahlah Fit, biarin aja. Kita sekarang ke masjid."
Dengan bergegas Fitria menuju mobil Khansa.
Setibanya mereka berdua di masjid, Fitria melihat jika mobil Ramadhan juga terparkir disana. Namun Fitria mengurungkan niatnya memberitahu Khansa, terlihat Khansa begitu kesal kepada Ramadhan. Walau di mulut Khansa berucap tak masalah dan tak cinta, namun didalam hati seseorang kita tak ada yang tau.
Fitria dan Khansa bergegas mengambil air wudhu, saat pelaksanaan shalat ternyata Khansa tak kebagian mukenah masjid. Saat itu ramai jamaah wanita yang tengah menjalankan ibadah shalat Dzuhur. Dengan sabar Khansa menanti seseorang yang selesai shalat terlebih dahulu.
Kebetulan sekali, ketika Fitria selesai menunaikan ibadah shalat Dzuhur, ia langsung menghampiri Winda yang sama sepertinya baru selesai shalat.
"Hai kak, aku Fitria."
"Aku Winda."
"Kebetulan saya seorang dokter kak, dan tadi saya melihat kakak makan siang bersama seorang pria. Apa saya bisa berkenalan dengan kakak anda tersebut?" Fitria memang sangat jago dalam hal memancing.
"Kakak?Makan siang? Oh itu bos saya kak, bukan kakak saya. Maaf bos saya sudah punya istri jadi mungkin cari target lain saja ya kak, saya permisi Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Bos? Bos? Oh no! Very smart liar Mr Ramadhan.
Batin Fitria yang kesal dengan kebohongan suami sahabatnya itu.
"Kenapa lagi, tu muka udah kaya sayur asem aja." Ledek Khansa kepada Fitria sambil melipat mukenah masjid yang baru saja ia pakai.
"Tau beb, barusan aku ngobrol sama cewe yang tadi makan bareng laki lo."
"Ga usah mulai lagi deh Fit," Khansa mulai kesal dengan rasa kepo sahabatnya satu ini yang tak kunjung selesai.
"Serius Khansa, gue pancing dia pura-pura minta kenalan cowo yang tadi makan siang sama dia. Dan lo tau Khansa, dia jawab gimana?"
"Ga tau," Jawab Khansa sambil menaikan kedua bahunya lalu meletakan mukenah yang sudah ia lipat kedalam almari masjid.
"Khansa lo nyebelin, cewe itu bilang kalau laki lo tu bosnya dia."
"Bos??" Tanya Khansa heran.
"Iya, suer takewer kewer deh." Fitria tak kalah menunjukan lambang V dari kedua jari tangannya.
"Ya udahlah, nanti malam ada sidang paripurna dikamar aku. Aku bakal jadi jaksa agung malam ini, mengusut kasus hingga tuntas, hahaha."
Senyum palsu Khansa yang terangkai.
"Wah seru tuh, pengen nginep di pondok jadinya hahahaha. Siapa tau ye kan, kamu butuh wasit buat menentukan permainan hahahaha, gue pasti siap hhahahaha.
Eh btw kamu udah Malam pertama belum sama kak Ramadhan?"
"Hus, urusan pribadi ga boleh di umbar-umbar."
__ADS_1
Khansa merasa sedikit sesak sejujurnya dengan pertanyaan itu.
"Apaan, MP udah jadi rahasia umum kali. Bagi dikit cerita sama sahabat kenapa, pelit banget sih. Jangan-jangan kalian belum MP ya?
Gue jadi curiga nih." Ucap Fitria dengan penuh selidik.
"Aduh bahas apa si, ayo-ayo balik. Aku dah capek mau istirahat."
Khansa juga tak kalah hebat dalam hal mengalihkan pembicaraan.
"Kita langsung balik ke rumah kamu dulu ya Fit,
nanti agak malam baru aku pulang ke pondok."
Khansa dan Fitria mulai menuruni anak tangga masjid besar itu.
"Wah berat ini urusannya, kamu sekarang udah punya suami Khansa. Seorang istri jika mau pergi meninggalkan rumah kan wajib izin suami Khansa. Dan suami kamu taunya kerja, jadi mending sekarang izin dulu."
"Terus apa kabar dia?Bawa perempuan makan siang bareng izin aku juga ga?"
"Waduh Khansa, kalau masalah itu aku ga tau. Pokonya aku udah berusaha ingetin kamu sebagai sahabat, aku ga mau ikutan dosa."
Bibir Khansa terlihat mengerucut kesal, sudah dipastikan nanti malam pasti akan ada badai tornado dahsyat dikamar Khansa.
"Assalamualaikum dokter Khansa, apa dokter masih ingat aku? kita baru bertemu tadi 2jam 21 menit 50detik."
Ya Tuhan anak ini lagi, anak ini lagi.
"Tentu saya ingat, pertanyaan berapa presentase hubungan suami istri hanya dipertanyakan oleh karakter seperti dirimu."
"Perkenalkan nama saya Hafiz dok. Dan saya sangat menyukai dokter Khansa saat pertama kali saya melihat dokter Khansa di acara detik health dulu."
"Terima kasih, saya sedang buru-buru." Khansa mempercepat langkahnya menggapai mobil.
"Tunggu dokter, Saya kali ini benar-benar serius menyukai dokter Khansa."
"Hei bocil, apa kamu tidak tahu kalau dokter Khansa baru saja menikah?" Fitria ikut esmosi jiwa dengan kelakuan mahasiswa satu ini.
"Saya tahu kalau dokter sudah punya suami, lalu apa aku tidak boleh menyukai dokter Khansa jika suatu saat dokter Khansa juga suka padaku bagaimana?"
Khansa langsung masuk ke mobil dan dengan gerakan cepat langsung tancap gas meninggalkan Hafiz yang masih mematung berdiri disana.
...****************...
Rodhitu billahi robba:
Kami ridho ya Allah, bahwa Engkau adalah Tuhan kami. Sesungguhnya tidak ada tuhan selain Engkau. Kami memasrahkan segala urusan kami kepada Mu, ya Allah. Kami merasa bersalah, karena selama ini kami melupakan Mu, sebagai Tuhan kami. Kami rela bertuhan Engkau, ya Allah.
Wabil islami dina:
Kami rela ya Allah, Islam adalah agama kami. Tuntun lah kami dalam permasalahan dunia dengan agama Mu. Hindarilah permasalahan-permasalahan dunia dalam beribadah kepada Mu. Bimbinglah kami dalam menjalankan ajaran-ajaran agama Mu ya Allah, agar kami selamat dari dunia yang fana. Jadikanlah kami semua orang yang selamat dunia dan akhirat melalui tali agama Mu.
Wabimuhammadin nabiyya warosula:
Ya Allah, kami rela Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rosul kami. Tuntunlah agar kami seperti akhlak beliau. Mudahkanlah kami dalam memperbanyak sholawat kepada baginda Rosulullah. Mudahkanlah kami dalam memperoleh syafaatnya. Luruskanlah pandangan kami dalam berperilaku sebagaimana teladan kami, Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam.
Robbi zidni ilma:
Ya Allah, tambahkan ilmu kami. Jadikanlah ilmu adalah cahaya yang menerangi hidup kami. Mudahkanlah kami dalam menuntut ilmu. Berkahilah kami dalam menyebarkan ilmu. Tinggikan Lah derajat orang yang berilmu. Iringilah ilmu dan amal kami, agar menjadi bekal di akhirat berupa pahala yang terus mengalir.
Warzuqni fahma:
Ya Allah, berilah kami rizki berupa paham dalam memperoleh ilmu. Bukalah pikiran dan hati kami dalam memaknai suatu ilmu. Permudahkan Lah kami dalam memaknai, menganalisis, dan memberikan solusi terhadap permasalahan di lingkungan kami berdasarkan ilmu yang kami peroleh. Ya Allah, tutuplah kebodohan dalam diri kami.
Dari arti doa yang sangat indah tersebut, bisa disimpulkan bahwa kalau kita mengaku rela Allah sebagai rabb, islam sebagai agama kita, Nabi Muhammad sebagai nabi dan rosul kita, maka sudah sepatutnya kita tidak pilih-pilih apa yang diperintahkan Allah. Semua perintah dan ajaranNya harus dilaksanakan secara kaffah.
Bukan hanya soal taat pada suami, mencari ilmu dan belajar juga salah satu perintah Allah. Bahkan jadi wahyu yang turun pertama kali kepada Rasulullah SAW lewat Quran Surat Al Alaq 1 -5. Bahwasanya belajar, mencari ilmu, membaca tanda-tandaNya adalah perintah yang utama.
Ilmu yang paling benar untuk dipelajari ayat-ayat Allah, jadi sebelum belajar yang aneh-aneh, coba tengok sudah sejauh apa kita belajar ayat-ayatNya? Waktu kita yang terbatas di dunia ini bahkan mungkin kurang untuk mempelajari semua kebesaranNya.
Termasuk belajar soal menjadi taat kepada suami dan bagaimana mengatasi masalah rumah tangga, semua itu sudah diatur. Dan sejatinya sebelum seorang istri diperintahkan taat kepada suami, Allah memerintahkan terlebih dahulu seorang suami untuk menjadi sebenar-benarnya qowwam. Maka saat halaqoh itu, kami diajak belajar untuk memahami tiga ayat penting dalam surat An Nisa, yang insya Allah akan menjadi bantuan bagi kita ketika rumah tangga mengalami goncangan.
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
__ADS_1
Jika dikaitkan dengan hubungan berumahtangga, Ulil Amri di dalam keluarga adalah ayah. Maka bisa disimpulkan bahwa taat pada suami itu sifatnya tidak mutlak. Artinya ya bisa didiskusikan, bisa dikomunikasikan, alias tidak saklek. Suami sebagai pemimpin yang ditaati haruslah suami yang taat kepada Allah dan rasulNya.
Untuk memahami Surat An Nisa ayat 59,
di dalam ayat ini Allah mengingatkan kalau kita ketemu Ulil Amri yang justru membuat peraturan atau ketetapan yang menyesatkan dan menjauhkan kita dari Allah, kita berhak untuk tidak menaatinya. Karena ketaatan pada Allah itu di atas segalanya. Begitu juga ketaatan pada suami, jika suami memaksa kita untuk melakukan hal-hal yang membuat kita jauh dari Allah, misal melarang berhijab, melarang sholat, ya boleh kita tidak taat.
Allah memperingatkan agar kita nggak perlu takut pada manusia, apalagi manusia yang memutuskan sesuatu tidak berdasarkan hukum Allah. Karena manusia yang berhukum selain hukum Allah maka dia tidak beriman. Maka ini kembali menguatkan bagi para istri, ketika suami bertindak tidak sesuai aturan Allah, kita berhak untuk mengambil tindakan. Tentunya tindakannya pun harus sesuai dengan kaidah yang benar.
Tiang kokoh ibarat kaki, tanpanya sesuatu tidak bisa berdiri.
Pemimpin bagi istri dan rumah tangganya, tanpanya semua berjalan tanpa arah yang jelas.
Pembesar atau yang dianggap paling besar, tanpanya tiada orang yang disegani dan tempat bersandar.
Hakim rumah tangga, untuk memberikan solusi dan keputusan setiap permasalahan yang ada.
Pendidik, tanpanya yang bengkok tetap tidak bisa kembali lurus. (Inspirasi dari Rumah Cahaya - Budi Ashari )
Masih dari buku Inspirasi dari Rumah Cahaya,
Suami harus menyadari posisi pentingnya tersebut. Dan seorang istri setinggi apapun pendidikan dan status sosialnya maka dia harus meletakkan dirinya sebagai seorang istri yang dengan ketentuan Allah melebihkan sang suami atas dirinya. Mendengarkan perintah suami selama tidak mengajak untuk bermaksiat kepada Allah.
Jadi bisa di tarik kesimpulan bahwa disini sebelum Allah memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, Allah memperingatkan para suami agar bertindak sebagai qowwam sebenar-benarnya. Bukan hanya memberikan nafkah, tapi juga melakukan fungsi-fungsi qowwam yang lainnya; menjadi pendidik, pelindung, pemberi kenyamanan, dan menjadi hakim yang adil.
Di dalam buku Inspirasi Rumah Cahaya, Ustaz Budi Ashari memberikan tips untuk mengatasi turbulensi dalam rumah tangga:
Segeralah memulai berdialog antara suami dan istri tentang perjalanan bahtera rumah tangga ke depan. Dialog tentang segala hal, bukan saja indahnya langit biru tetapi hingga badai yang bisa datang kapan saja.
Jika suami isteri terbiasa mengembalikan masalah kepada keputusan Islam, maka saat badai rumah tangga datang bisa diminimalisir dampaknya. Biasakan jika ada keputusan yang harus dibuat dengan kalimat, “kalau dalam Islam, solusinya bagaimana ya?”
Bagi yang telah mempunyai menantu, maka dari itu coba pelajari bagaimana Islam mengajarkan sikap orangtua terhadap anaknya yang telah menikah. Ikut campur itu terkadang diperlukan tetapi untuk kebaikan, bukan justru menyiram bensin pada api.
Suami dan istri jangan membiasakan diri mengadukan segala hal kepada orangtuanya masing-masing. Sadarilah bahwa kita berdua sudah mempunyai tanggung jawab besar sendiri-sendiri. Suami harus menjadi qowwamah yang sebenar-benarnya, dan istri harus taat.
Mari kita yang serba kekurangan dan sedikit ilmu ini belajar dan saling mengingtakan satu sama lain, mencoba menuju ke arah yang lebih baik dari pada kemarin.
Naik turunnya hati, naik turunnya iman. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan diampuni segala dosa-dosa kita bak buih dilautan.
......Cerbung.........
...Hai semuanya!...
...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....
...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....
...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....
↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️
...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...
...~Siapakah Jodohku?...
__ADS_1
...~Obsesi Tingkat Tinggi...