
Tak ada lagi diksi yang mampu merangkai kata untuk menggambarkan isi hati Khansa ...
Walau Ramadhan hanya mengingatnya sedikit saja, itu sudah cukup baginya
Aku tak akan menemukan titik jenuh untuk seorang Ramadhan yang merupakan imamku.
Aku tidak akan pernah merasa berada di ambang batas semangat untuk mengembalikan ingatannya
Rasa asa-ku tidak akan pernah padam Semangatku tak akan pernah patah untuk menjadi matahari yang menjadi pusat rotasi
Bukan hanya perkara hati, tapi juga perkara segala hal tentang hidup, nasib, takdir, dan banyak hal lain di luar logika. Dan aku tidak mau rapuh dan tak punya keyakinan dalam menghadapi itu.
Ada Allah di setiap langkah hamba yang berada di jalan-Nya. Ada Abah dan Umi yang mendukungku walau mereka kini tak berwujud di hadapanku. Ada Aisyah yang siap mendukungku walau aku berada pada bagian bumi paling dalam sekalipun.
Aku sudah kehilangan Abah dan Umi, kali ini aku tidak mau lagi kehilangan Ramadhan suamiku dan Aisyah adikku.
Aku harap semesta tak menambah lelucon pada garis takdirku lagi. Setiap manusia yang bernyawa di muka bumi ini pasti akan mempunyai cobaan dan masalah hidup masing-masing. Bahkan banyak di luar sana yang masalahnya sebenarnya lebih pelik dari kita. Tapi pada golongan orang-orang yang sabar, masalah itu hanya seperti luka yang menganga. Luka yang hanya meminta untuk di sembuhkan dengan obat atau plester, bukan dengan keluhan dan gembar-gembor merasa diri yang paling tersakiti.
"Assalamualaikum Khansa ... Kak Ramadhan,"
suara berat khas Hafiz membuyarkan lamunan Khansa dan Ramadhan yang sedari tadi tenggelam dalam lamunan mereka masing-masing.
"Waalaikumsalam ...." Pasangan suami istri itu menjawab salam secara bersamaan.
"Kak Ramadhan, aku mau minta ijin ajak kalian ke taman kota. Fitria ingin kesana dan makan es krim katanya." Sontak Khansa menengok ke arah Fitria.
"Kamu ngidam atau lagi kurang kasih sayang beb? Es krim?" tatapan mata Khansa tajam menembus pertahanan Fitria yang tengah berdiri di dekat pintu dapur.
"Jangan natap jangan kaya gitu napa Khansa, aku ga kuat kalau kamu tatap begitu. Aku dulu kalau lagi gabut atau bete sering ngajak Hafiz nongkrong di taman kota. Aku ngaku deh, kita itu pernah PSBB."
"Apa tu PSBB?" tanya Khansa cepat.
__ADS_1
"Pernah Sayang Belum Berjodoh," ucap Fitria cekikian menahan tawanya. Sementara Khansa hanya bisa menutup senyumnya dengan telapak tangannya.
"Masih mending PSBB sih, dari pada PKM," celetuk Hafiz menimpali.
"Apa tuh PPKM?" kali ini Fitria termakan rasa penasarannya.
"PPKM itu Pernah Pacaran Kagak Menikah, hahaaha ...."
"Ih ... Hafiz jahat!" Fitria mencubit kecil lengan Hafiz.
"Ehem, kalau udah cubit-cubit gitu ... berarti udah siap di halalin tuh," ucap Ramadhan sambil melangkah ke wastafel mencuci tangannya.
Tiga pasang mata kini memandang ke arah Ramadhan semua, Ramadhan yang menyadari jika dirinya kini menjadi pusat perhatian mencoba mengalihkan pembicaraan juga.
"Berangkat kapan? Aku penasaran juga nih sama taman kota kaya gimana."
"Sekarang bisa ...."
Keempat orang itu kini berjalan menuju ke arah mobil Fitria yang terparkir di halaman.
Hafiz mulai melajukan mobilnya membelah ramainya jalanan di sore hari. Sesekali pandangannya menatap spion tengah mobil yang dengan leluasa Hafiz bisa melihat wajah Fitria yang sedang bercengkrama, bercanda tawa dengan Khansa.
Aku mencintaimu dalam diam ku Fitria. Bahkan aku mulai mendoakan mu dalam diam ku. Mulai menyelipkan namamu dalam doaku. Dan maafkan aku yang juga memperhatikanmu diam-diam. Aku tau ini sebuah dosa, maka aku akan menunggu hingga akhirnya aku bisa merelakan kamu dalam diam.
"Kalau suka, katakan. Jangan dipendam, dan jangan lupa segera halalkan ...." ucap Ramadhan lirih, Hafiz hanya bisa tersenyum kecil melihat dirinya tertangkap basah memandang Fitria oleh Kak Ramadhan.
...****************...
Ada sebagian orang yang menyetujui jika pikiran kita tak bisa lepas dari seseorang, maka orang itu berarti juga tengah memikirkan kita.
Memang tidak logika, tapi kenyataannya itu yang terjadi.
__ADS_1
Di tempat lain, seorang Boby juga tengah memikirkan Fitria. Sambil mendorong kereta bayi maju mundur, pikiran Boby berkelana kemana-mana.
Pesan terakhir yang aku kirimkan tak berubah menjadi centang biru
Walau WhatsApp yang ku kirim telah berbentuk contreng dua, tapi tetap masih saja berwarna abu-abu
Apa ini sebuah pertanda? Bahwa kamu sudah tidak memiliki rindu. Rindu itu telah mati dalam hatimu? Rindu itu tiada lagi untukku?
Semua kenangan itu telah berlalu, dan tak ku sangka itu sudah setahun berlalu
Kenangan tentangmu masih saja menghampiri mimpi-mimpi malam ku
Kamu masih dengan setia tak mau beranjak dari otakku
Kesalahan besar ku adalah menyia-nyiakan kamu yang selalu tulus kepadaku.
Aku justru dengan sepihak dan begitu dungunya percaya dan langsung menikahi wanita penipu itu
Anak yang lahir ini bukan milikku Fitria
Bahkan dengan tega ia sekarang meninggalkan aku dengan bayi yang tak berdosa ini
Baru kali ini aku menyesali takdir yang telah ku pilih
Ku harap masih ada waktu
Kelak untuk kita bertemu
Dan kamu masih mau kembali kepadaku
Fitria ...
__ADS_1
Doa dari Boby yang malang ...
Bersambung ...