Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Perlahan Aku Mengingatnya


__ADS_3

"Tak usah merisaukan ucapan Azka, ayo kita segera makan saja. Kak Ramadhan pasti sudah lapar, dan bosan dengan makanan rumah sakit." Dengan lembut Khansa mulai menyendok nasi dari mesin penghangat nasi ke tiap-tiap piring.


"Khansa?" Azka tak menyangka, jika wanita yang sedang ia bela mati-matian justru dengan tegar menghadapi semuanya sendiri.


"Aku sudah makan, jadi aku tidak perlu kamu ambilkan nasi lagi Sa," ucap Azka sambil kembali ke tempat duduknya.


"Sama, aku juga Sa. Ga perlu, aku juga sudah makan." Fitria ikut berseloroh.


Dengan senyum kecil yang menyungging di wajahnya, Khansa mulai meletakan piring berisi nasi di hadapan Ramadhan dan Kinara.


"Berarti yang makan hanya aku dan Kinara? Kalau makanan ini sudah diracuni, hanya kita berdua yang mati?" Ramadhan berceloteh seakan tak punya dosa.


"Saya akan ikut makan, jadi kalau memang masakan yang saya masak ini beracun. Saya juga ikut mati bersama kalian ...." Kata Khansa datar sambil mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


"Kalau makanan ini beracun, aku sama Fitria udah mati dari tadi. Karena kita berdua duluan yang makan tadi." Dada Azka semakin sesak, rasanya ingin meninju pria yang ada dihadapannya ini.


Ramadhan, Khansa dan Kinara memulai membaca doa sebelum makan,


"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar.”

__ADS_1


Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka."


Suap demi suap mulai masuk ke dalam mulut mereka, Ketiganya merasa canggung karena saat mereka makan. Azka dan Fitria hanya memperhatikan mereka.


Tak terasa waktu bergulir begitu saja, ketiganya sudah selesai menyantap makanan lezat yang tadi berada pada sewadah piring yang kini telah berpindah ke dalam perut mereka.


"Sudah selesai kan? Ayo kita pulang!" Azka beranjak dari tempat duduknya, langsung meraih tangan Kinara untuk ikut.


Semuanya menunggu reaksi Ramadhan atas perlakuan Azka kepada Kinara. Tapi hasilnya zonk, Ramadhan tak bergeming sama sekali.


Ia hanya duduk sambil mengumpulkan bekas-bekas piring kotor mereka.


"Siap Fit, terima kasih ya."


Fitria beranjak, menepuk pundak Khansa dengan lembut. Seolah memberi kekuatan kepada sahabatnya itu.


Azka dan Kinara juga beranjak pergi tanpa perlawanan dari Ramadhan sedikitpun.


Khansa mulai membereskan meja makan, saat ia hendak mengambil tumpukan piring untuk di bawa ke wastafel, tangan Ramadhan menahannya.

__ADS_1


"Aku minta kamu duduk sebentar, aku mau menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu,"


jantung Khansa berdetak kencang, bergemuruh seakan hujan akan runtuh. Apa yang akan suaminya tanyakan kepadanya, melihat dari sikap suaminya yang sudah tidak mencegah Kinara untuk pulang tadi. Khansa berharap jika suaminya bisa kembali mengingatnya. Ingatannya akan kembali pulih dan mulai mengarungi kembali rumah tangganya berdua dengan baik dan benar.


"Apa selama ini aku sudah banyak melakukan kesalahan? Dan apa benar yang memasak Opor Ayam ini kamu?"


Netra Khansa membulat, bagaikan turun hujan di padang pasir yang terik. Bagaikan segerombolan semilir angin di hawa yang begitu panas. Namun perasaan senang itu Khansa simpan dalam-dalam, ia mencoba menjawab pertanyaan yang suaminya ajukan terlebih dahulu.


"Tidak, suamiku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Dan yang membuat Opor ayam ini benar-benar aku, apa Kak Ramadhan bisa mengingat sesuatu?" tanya Khansa dengan menatap suaminya lekat-lekat.


"Maafkan aku ...." Suara itu terdengar begitu parau, terucap dari bibir Ramadhan. Ia beranjak dari tempat duduknya dan kini berlutut di kaki Khansa dengan mata yang berkaca-kaca, terlihat sekali jika sang pemilik mata itu tengah membendung air mata di dalamnya.


Buru-buru Khansa ikut berlutut dan meraih tangan suaminya untuk kembali berdiri. "Tidak ada yang perlu di maafkan Kak," ucap Khansa lembut.


"Apa kak Ramadhan bisa mengingat semuanya?"


"Aku juga masih bingung, tapi saat memakan Opor ayam tadi aku sedikit bisa mengingat rasa itu dengan masa laluku. Aku mengingat seseorang yang membuatkan aku Opor ayam dengan rasa khas demikian adalah orang yang aku cintai. Tapi selain itu, aku tak mengingat apa-apa lagi." Ramadhan menatap penuh sang istri dengan penuh cinta dan memeluknya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2