
Happy reading❤️
Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni dosa yang telah lampau." (HR. Bukhari, Muslim).
...****************...
Pagi itu masih gelap
Pukul 04.00 WIB Ramadhan dan Reza telah tiba di bandar udara Soekarno-Hatta. Bandara ini memiliki luas 18 km², dan memiliki 2 landasan paralel yang dipisahkan oleh 2 taxiway sepanjang 2,4 km.
Tanpa banyak cerita, pengawal dan supir pribadi yang diperintahkan Abati (Ayah) sudah menunggu mereka di bibir pintu terminal 1.
"Kemarin Abati (Ibu) ada bilang ga, kita mau bahas apa kumpul di Jakarta?" Ramadhan masih penasaran.
"Entah kak, Amati juga tidak ada menjelaskan apa-apa sama Reza."
Ada hal mendadak apa yang membuat Abati dan Amati secara urgent meminta Ia dan Reza sampai harus Fardu ain (wajib) terbang ke ke Jakarta. Hal sepenting apa yang mendasari sampai kedua orang tuanya memberi perintah demikian? Semoga saja bukan hal yang buruk. Batin Ramadhan.
Setelah percakapan sedikit itu berakhir, tidak ada percakapan lagi di dalam mobil mewah itu.
Gerbang besar bak istana sudah mulai terlihat, nuansa serba berwarna gold dapat dilihat dari kejauhan. Dua orang penjaga gerbang sudah siap membuka gerbang megah, mempersilahkan mobil masuk melewati pelataran yang begitu luas dan panjang untuk menuju teras utama rumah yang begitu megah itu.
Dari balik jendela Ramadhan dan Reza sudah bisa melihat Abati dan Amati berdiri dengan beberapa pelayan di depan pintu utama.
Senyum merekah terlihat dari bibir wanita yang menjadi tonggak utama Surga dari kedua laki-laki tampan ini.
Usia yang semakin bertambah, namun tak menyurutkan kecantikan wanita yang satu ini.
Euforia begitu terlihat dari pancaran wajah satu keluarga ini.
"Assalamualaikum Abati, Amati." Ucap Ramadhan dan Reza serempak setelah berhambur keluar dari mobil.
Secara bergantian Ramadhan dan Reza mencium punggung tangan Abati dan Amati secara bergantian. Bulir-bulir air mata juga nampak dari wajah yang ayu dan damai itu.
"Kenapa Amati menangis?" Tanya Ramadhan sambil memeluk Ibu yang begitu ia rindukan itu. "Ini di Indonesia, panggil Amati ibu. Ini kampung ibu, kampung yang sangat ibu rindukan."
"Baik, Ibu. Auh! Kenapa ibu mencubit ku?" Protes Ramadhan yang baru saja menikmati pelukan hangat.
"Kamu itu Ramadhan selalu saja mengkhawatirkan ibu, terkadang hilang begitu saja. Terkadang juga muncul begitu saja tanpa diduga, sudah mirip jaelangkung saja."
"Hehehe, maafkan Ramadhan bu. Maaf." Ramadhan bersujud, mencium punggung kedua kaki Ibu dan Ayahnya.
"Ayo masuk, Ibu sudah masak banyak banget. Masakan kesukaan kamu Ramadhan, nanti makan yang banyak ya. Ibu temani."
"Terus saja, manjain anakmu itu. Kalau sudah Ramadhan datang, Ayah selalu Ibu lupakan begitu saja." Ayah Ali merajuk sambil mendaratkan tubuhnya di kursi, meja makan sudah penuh dengan berbagai macam menu yang dihidangkan.
"Jangankan Ayah, apa kabar Reza? Selalu di nomor tiga kan oleh Ibu kalau sudah ada kak Ramadhan." Reza ikut menambahi.
"Tidak ada yang dibedakan, semua sama."
Elak Fatima.
"Kapan Ibu dan Ayah berangkat dari Dubai kesini?" Tanya Reza heran.
"3 hari yang lalu Reza, Ayah sudah memutuskan untuk menetap selamanya di Indonesia." Terang Ayah Ali.
"Oh- baguslah kalau begitu, Reza juga lebih nyaman di negara ini."
"Besok sudah mulai puasa ya, Tak terasa Ramadhan tahun ini kita bisa berkumpul di Jakarta. Ibu sangat bahagia sekali, Oh iya- istri kamu mana Reza? Tidak kamu aja kesini juga?"
Uhuk...Uhuk! "Astaghfirullah, pelan-pelan sayang." Kedua anak laki- lakinya mendadak tersedak bersamaan.
"Bibi, tolong ambilkan air hangat untuk kedua laki-laki ku ini bi." Bibi tersenyum dan berlari kecil membawa dua gelas air putih hangat untuk Ramadhan dan Reza.
"Ibu dan ayah kan tidak bilang kalau boleh ajak istri ditelepon kemarin." Sanggah Reza setelah meneguk segelas air putih hangat.
Tok! Pukulan sendok melayang di kepala Reza.
"Anak Ibu ini sungguh keterlaluan, seharusnya kamu peka! Ibu punya menantu tapi sampai sekarang belum melihat menantu ibu sendiri."
"Iya, ma-maaf bu. Reza bingung dan panik kemarin, ibu dan ayah tiba-tiba meminta Reza dan kak Ramadhan segera kesini."
"Sebenarnya ada penting apa bu? Hingga mendadak seperti ini? Sebenarnya Ramadhan juga punya hal yang penting untuk dibicarakan. Ramadhan sebenarnya sudah me-"
"Sudah-sudah, cepat selesaikan makan kalian. Kita salat Subuh berjamaah. Nanti siang kita bahas ini lagi, sekalian menunggu keluarga Kinara datang. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan. Cepat selesaikan makannya, selesai Salat kalian bisa segera istirahat." Piring dihadapan Ali memang sudah bersih, sehingga Ali memutuskan untuk sikat gigi lalu mengambil wudhu bersiap untuk salat subuh berjamaah.
"Ada apa bu? Sebegitu pentingnya kah? Sampai harus menunggu keluarga Kinara?" Tanda tanya besar ada dalam benak Ramadhan.
Namun sang Ibu terlihat menyembunyikan sesuatu dari putra sulungnya itu. "Ibu juga kurang mengerti dengan keinginan ayah kamu. Kita lihat saja nanti, sekarang segera bersiap untuk kita salat subuh berjamaah." Untuk beberapa detik Ramadhan dan Reza saling pandang. Namun lagi-lagi Reza hanya bisa mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti.
Niat Sholat Subuh Menjadi Imam
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى.
__ADS_1
"Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati imaaman lillaahi ta’aalaa."
Artinya: Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Shubuh sebanyak dua raka’at dengan menghadap kiblat, sebagai imam, karena Allah Ta’ala.
Salat Subuh berjalan begitu khidmat, Sera yang dari tadi tidur juga sudah muncul dari balik kamarnya untuk melaksanakan salat subuh bersama. Sera merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ramadhan, Reza , Sera. Bahkan sosok Sera yang biasanya kocak dan ramai, saat itu juga tidak mengeluarkan kata sedikitpun. Selesai salat tidak ada perbincangan apapun lagi. Semua masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
🧒Assalamualaikum sayang, sudah bangun?
🧕Wa'alaikumsalam sayang, aku sudah sarapan malah. Kan disini satu jam lebih cepat waktunya dari pada di Jakarta.
🧒 Oh iya- im forget. Hari ini ingin kemana? Kata Azka, sayang sudah boleh pulang hari ini.
🧕 Iya, aku pulang hari ini sayang, nanti rencananya ingin ke Mall Galeria sebentar. Aku ingin beli beberapa novel, dan makan di Yoshinoya sebentar sayang, sama Yuta kok. Boleh ya sayang?
🧒 Boleh, tapi janji hanya sebentar ya. Kamu masih harus banyak istirahat, jangan lupa telepon Aisyah. Mungkin juga dia sedang ingin sesuatu. I love you Khansa😘
🧕 Terima kasih sayang, I love you to...
Tak ada balasan lagi, karena sang pangeran tak berkuda ini tertidur karena kelelahan.
...****************...
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat.
Tok! Tok! Tok!
"Ramadhan, Ibu masuk."
Ceklek!
Anak yang begitu Fatima sayangi sudah besar.
*Rasanya sang waktu bergulir terlalu cepat nak, Ramadhan- Putra kesayangan Ibu.
Semoga kamu bisa bahagia dengan keputusan yang dibuat Ayah kamu.
Sejauh apapun kamu pergi
Sedewasa apapun kamu
Kamu tetap putra kecil Ibu.
Putra yang selalu lebih kuat dari adik-adikmu
Semoga dengan kamu menolong Kinara balasan Surga dan kebahagiaan akan selalu datang untukmu.
Kamu paling paham dan tahu kan nak,
jika ayahmu sudah membuat keputusan, ia paling tak bisa untuk ditolak*.
Air mata runtuh begitu saja, tetes demi tetes berderai. Sementara Fatima begitu menikmati momen itu, ia membelai lembut wajah dan rambut anak sulungnya itu. Mengamati garis-garis di wajah tampan anaknya, tanpa terasa tetesan air mata itu jatuh mengenai pipi Ramadhan.
"Ibu..." Suara serak itu keluar dari bibir Ramadhan yang masih belum penuh mengumpulkan kesadarannya.
"Ibu menangis? Kenapa bu? Siapa yang sudah membuat ibu menangis?" Rentetan pertanyaan dari Ramadhan hanya dijawab sebuah senyuman oleh Fatima.
"Ibu hanya begitu rindu denganmu nak, makanya ibu menangis. Ayo bangun putra Ibu yang paling tampan, Orang tua Kinara sudah ada di bawah. Ayah bilang mereka harus bertemu Ramadhan."
"Aku juga sangat rindu dengan ibu." Ramadhan memeluk erat Fatima. "Memang ada apa si bu? Apa yang mau dibahas? Kenapa harus sama Ramadhan? Tidak bisa sama Reza saja?" Ramadhan seolah sedang bernegosiasi dengan sang Ibu.
"Temui saja dulu nak, hitung-hitung silaturahim. Ibu tunggu di bawah ya. Kamu mandi dulu, bau kecut ih-" Ledek Fatima.
"Mana ada Ramadhan bau kecut, ga mungkin lah Bu, hehehehe."
"Ya sudah, ibu tunggu di bawah ya- 10 menit. Jangan lama-lama."
"Iya bu, 10 menit kalau Ramadhan mandi bebek. Hehehehe."
Rasa penasaran yang amat tinggi membuat Ramadhan bergegas mandi, memakai baju ala kadarnya namun tetap sopan. Lalu Ramadhan menyegerakan diri turun untuk menemui Ayah dan tamunya.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam."
"Nah ini dia pak Wijaya, pangeran berkuda putih kita sudah datang." Ayah terlihat begitu senang melihat kedatangan Ramadhan.
"Bagaimana kabar kamu nak Ramadhan? Bisnis di Bali lancar?" Sapa Pak Wijaya berbasa-basi.
"Alhamdulilah lancar pak." Ramadhan bersalaman dengan bapak dan ibu Kinara.
"Loh, Kinara-nya ga ikut ya pak?"
Wajah Pak Wijaya langsung terlihat murung ketika Ramadhan menanyakan Kinara.
__ADS_1
"Dia ada di rumah nak, sudah seminggu ini dia mengurung diri. Tak mau kemanapun, tak mau berbicara. Sekalinya Kinara berbicara, yang dia tanya hanya nak Ramadhan." Jelas pak Wijaya.
Seketika kening Ramadhan mengkerut, kenapa bisa begitu? Apa yang telah terjadi dengan Kinara? Teman masa kecilnya itu. Batin Ramadhan bertanya-tanya.
"Lalu- "
"Nah, ini minumannya sudah datang. Ayo pak Wijaya, bu Wijaya- diminum dulu tehnya." Ibu memotong pembicaraan Ramadhan begitu saja.
Ruangan yang sudah mulai menuju tegang itu terjeda dengan datangnya beberapa cangkir teh di meja.
"Jadi begini Ramadhan,"
"Ayah..." Sergah Fatima. "Kenapa Bu?" Tanya Ali heran.
"Akh- tidak jadi, ibu lupa mau bertanya apa." Fatima langsung mendekatkan diri, duduk disebelah Ramadhan duduk.
"Ya ayah, lanjutkan saja pembicaraannya." Ucap Ramadhan yang kini tangannya di genggam erat oleh sang Ibu.
Menurut Ramadhan sikap ibu terlalu berlebihan, tapi ia maklum. Mungkin ibu selama ini sangat merindukannya.
"Begini nak Ramadhan, kemalangan telah menimpa putri kami Kinara. Ia mengalami pelecehan seksual oleh teman kampusnya, bahkan Kinara sempat di culik dan disekap. Akar permasalahannya karena Kinara menolak laki-laki itu." Sesekali Pak Wijaya dan Ibu Wijaya menyusut air mata yang telah menetes.
"Astaghfirullah, sekarang apakah pelakunya sudah mendapat balasan setimpal?" Tanya Ramadhan khawatir.
"Sudah nak, sudah. Kamu tahu siapa om bukan? Laki-laki itu sudah mendapat apa yang harus ia dapatkan. Kedatangan om kesini karena meminta bantuan kamu Ramadhan."
Lagi-lagi kening Ramadhan berkerut, entah kenapa pikirannya tengah memikirkan hal yang aneh-aneh. Tapi itu semua berusaha di tepis oleh Ramadhan.
"Ayah sudah sepakat dengan pak Wijaya sebelumnya, jika kami akan menikahkan kamu dengan Kinara nak."
Jeder! Bak disambar petir di siang bolong.
Pikiran yang berusaha Ramadhan tepis, ternyata malah benar adanya. Pembicaraan ini mengarah dan berakhir di kata menikah.
"Youre the only one Ramadhan, selama ini Kinara menolak laki-laki yang datang kepadanya, karena Kinara begitu mencintai kamu Ramadhan. Mencintai kamu sedari dulu, sedari kalian masih kecil. Kinara sendiri yang pernah mengatakan itu langsung kepada ibu." Ibu Wijaya berusaha meyakinkan Ramadhan yang terlihat shock itu.
Tangan Ibu Fatima kini menggenggam begitu erat lengan Ramadhan. Memandang wajah putranya yang pucat pasi.
Terlihat sangat sulit, tapi Ramadhan berusaha berbicara. "Mohon maaf sebelumnya Ayah, pak Wijaya, Bu Wijaya. Tapi Ramadhan terpaksa harus menyampaikan ini, sama seperti Reza. Ramadhan sudah menikah. Istri Ramadhan bahkan adalah kakak dari istri Reza. Ramadhan tidak mengatakan kepada Ayah dan Ibu karena waktu itu istri Ramadhan tidak mencintai Ramadhan. Tapi seiring berjalannya waktu, kini istri Ramadhan sudah sangat mencintai dan menyayangi Ramadhan. Maka niat Ramadhan kesini adalah untuk mengatakan hal ini.
Untuk beberapa detik, ruangan besar ini diam tak bersuara. Namun diluar dugaan, tiba-tiba Pak Wijaya berdiri dan menggebrak meja.
Brak!
"Saya tidak mau tahu Ali. Aku menagih janji kamu dulu sekarang! Aku dulu sudah menyelamatkan hidup kami dari bibir kematian! Sekarang giliran saatnya kamu menolong putri semata wayang ku dari bibir kesengsaraan!"
"Tenang dulu pak, kita bicarakan ini baik-baik. Malu sama adik-adiknya Ramadhan, mereka semua menjadi mendengar hal ini." Bu Wijaya melirik ke arah tangga, yang ternyata sudah ada Reza dan Sera berdiri di sana.
"Biarkan saja! Biarkan mereka tahu, jika ayah mereka pernah berhutang nyawa sama seorang Wijaya! Kini seorang Wijaya menagih janji seorang Ali!"
Ramadhan yang merasa geram karena perlakuan pak Wijaya kepada ayahnya mengepalkan tangan dan hendak ikut berdiri. Namun hal itu urung ia lakukan, karena tangan Ibu Fatima masih mencengkeram erat lengannya.
"Sabar nak, sabar." Ibu Fatima setengah berbisik di telinga Ramadhan.
"Begini pak Wijaya, saya tidak bermaksud mengusir. Tapi sebaiknya pak Wijaya pulang dulu. Saya akan coba bicara baik-baik dengan Ramadhan, karena saya juga tidak mengetahui jika Ramadhan sudah menikah." Ayah Ali berusaha menenangkan Pak Wijaya.
"Saya pegang janji kamu Ali! Segera hubungi saya jika kamu sudah berbicara dengan anakmu! Permisi! Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam," Punggung Pak Wijaya dan Bu Wijaya menghilang dibalik pintu.
"Ramadhan!"
Plak!
"Ayah!" Teriak bu Fatima.
Bersambung...
***Terima kasih sudah membaca Ramadhan Imamku
Mohon dukungannya untuk selalu like, comment dan vote yah
Terima kasih...
Selamat menjalankan ibadah puasa...
Untuk kita semua
Semoga seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah
Dan seluruh dosa-dosa kita di ampuni
Amiin***...
__ADS_1