Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Ingin Suntik Mati


__ADS_3

Happy reading❤️


"Apa masih ada pasien jadwal dengan saya sus?"


"Tidak ada dok, tadi yang terakhir. Hanya saja ada yang ingin bertemu dengan dokter sudah menunggu di depan."


"Siapa?"


"Nama beliau Ramadhan, dok."


"Suruh dia masuk."


"Baik dok, saya permisi."


......................


"Assalamualaikum dokter Azka."


"Waalaikumsalam, Ramadhan?" Kening Azka mengkerut, tak mungkin tidak ada hal yang sangat urgent sampai seorang ramadhan kesini.


"Perkara sepenting apa sampai kamu menemui ku kesini? Bukan Ramadhan banget tentunya."


"Ini tentang kebahagiaan Khansa, apa itu tidak penting? Tidak Urgent?" Timpal Ramadhan.


"Oh- tentang Khansa. Ya- sangat penting, tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan Khansa, Naura dan Yuta bagiku." Jawab Azka begitu yakin. "Ada apa dengan Khansa?" Kali ini Azka bertanya penuh selidik.


"Diantara kamu, Hilal dan Hafiz yang terlihat paling tenang dan paling dewasa adalah kamu Azka, sehingga aku memutuskan untuk menemui kamu."


"Dimana Khansa?"


"Khansa sedang tidur siang."


"Lalu? Bicaralah, aku mendengarkan." Tak bisa di tepis, memang sosok Azka adalah pria yang dewasa dan tak gegabah dalam mengambil keputusan.


"Bagaimana pendapatmu jika sampai aku menikah lagi?" Pertanyaan Ramadhan berhasil memantik amarah Azka, namun Azka berusaha untuk menahannya. Terlebih saat ini ia tengah berpuasa.


"Segera tentukan jadwal dan waktu kamu untuk aku suntik mati, jika kami akan menikah lagi. Itu akan membuat Khansa hancur, kenapa kamu masih bertanya padaku akan hal yang kamu sendiri tahu jawabannya." Azka menatap tajam pria yang berada didepannya.


"Izinkan aku bercerita dulu, baru kamu bisa memberikan solusi yang terbaik untukku."


"Lebih baik kamu ceraikan Khansa, biarkan Khansa kembali bahagia. Jika tak bersamaku. Khansa masih bisa memilih bersama Hilal, pria yang setidaknya dulu pernah ia cintai."


"Sepertinya aku sudah salah mendatangi orang. Aku butuh jalan terang, bukan kegelapan yang juga menghancurkan aku. Bahkan kamu saja tidak mau mendengarkan duduk permasalahannya terlebih dahulu dariku." Kali ini Ramadhan tak kalah tajam menatap sosok dokter didepannya.


"Ya- maaf, aku langsung terbawa suasana jika perihal Khansa. Ceritakan, aku akan mendengarkan." Kali ini Azka pasrah.


Ramadhan menceritakan perihal Abati dan Amati tentu ia juga menceritakan tentang Kinara, tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Sesekali mata Azka terbelalak, namun setelah itu keningnya berkerut, ditambah tangannya juga memijit kepalanya beberapa kali.


"Haduh... complicated banget sih. Di satu sisi aku jadi pengen poles isi otak pak Wijaya sama babe kamu, biar bisa di reparasi. Dan di satu sisi aku juga pengen poles jiwa cewek bernama Kinara itu. Dan yang terakhir adalah, sungguh aku tetap ingin suntik mati kamu."


Ramadhan sekilas menatap Azka, "Aku sedang tidak bercanda Azka."


"Kamu harus berbicara dengan Kinara dan Khansa. Hal seberat ini, tak bisa terus kamu tutupi Ramadhan. Jika kamu menemui ku berharap untuk mendapat solusi yang terbaik dariku, kamu salah besar. Yang punya andil untuk mengambil keputusan tetap ada pada dirimu. Salat Ramadhan, bukankah ilmu agamamu jauh melebihi kami semua? Kenapa kamu tidak meminta kepada Sang Pemilik seluruh kehidupan?"


"Astaghfirullah," Setetes air mata Ramadhan mengalir. Kekacauan hati dan peliknya permasalahan yang harus ia hadapi, membuat ia lupa meminta kepada Sang Pencipta.


"Terima kasih Azka, terima kasih sudah mengingatkan aku dan mau mendengarkan permasalahan ku. Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam."


Dengan langkah yang begitu lunglai Ramadhan melangkah untuk pulang.


"Tunggu, aku ikut. Apa kamu akan mengatakan pada Khansa sekarang?"


"Tidak, tidak sekarang. Aku butuh ketenangan dulu untuk mengadu pada Rab ku."


...****************...


3 Hadist nabi tentang orang tua.


Pertama,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

__ADS_1


Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Kedua,


سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى


Artinya: “Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.” Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).


Kedua,


سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى


Artinya: “Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.” Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).


Ketiga,


Hadis Nabi Tentang Kewajiban Berbakti Pada Kedua Orang Tua


Lufaefi 


 Rabu, 25 November 2020 17:10 WIB  


Ilustrasi Mendidik Anak | Pixabay/Skalekar1992


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟) ثَلاَثًا، قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : ( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ ) وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرُ ) مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْتُ لَيْتَهُ سَكَتَ


Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan [pada tangannya]. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Yuk, renungkan hadis-hadis nabi di atas dan berbaktilah kepada orang tua secara maksimal. Agar Allah selalu menjadikan kita anak-anak yang selalu berbakti kepada orang tua dan kelak akan masuk ke surga-Nya. Amin.


...****************...


Ramadhan tak langsung melajukan mobilnya menuju rumah. Ia justru mencari masjid besar yang ia lalui saat itu, menempatkan semua masalah dan dosa yang ada pada pundaknya.


Salat Tahiyatul masjid, salat sunnah sebelum Dzuhur lalu salat Dzuhur telah Ramadhan laksanakan. Ada ketenangan yang ia dapatkan saat itu, dan telinganya tergelitik mendengarkan seseorang yang tengah mengisi acara di ruangan sebelah masjid. Hanya berbatas pintu kaca lebar dan terbuka, sehingga Ramadhan bisa dengan jelas mendengarkan isi ceramahnya.


...Surat An-Nisa' Ayat 34...


الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا


Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.


Kewajiban laki-laki perjaka adalah keluarganya,


kewajiban laki-laki yang sudah menikah (suami) adalah istrinya. Jika sang ibu kaya raya, namun sang anak yang sudah mempunyai istri pas-pasan atau sederhana bahkan kurang, maka gugur kewajiban sang anak. Namun apabila sebaliknya, maka sang anak wajib menafkahi penuh terhadap ibunya.


Sang penceramah tak sengaja menoleh ke sudut dimana Ramadhan berada, betapa kagetnya Ramadhan. Ternyata sosok sang penceramah itu adalah adiknya sendiri Reza.


"Reza! Ya Allah ya Karim, terima kasih. Terima kasih sudah memberiku petunjuk dari hal yang tak terduga." Gumam Ramadhan dengan penuh rasa syukurnya.


...****************...


"Mama cudah bangun?" Naura menyapa Khansa yang baru saja mengikat rambut yang terurai lalu mengenakan hijab instannya.


"Sudah sayang sini peluk," Dengan penuh rasa sayang Khansa memeluk tubuh kecil itu.


"Mama Khansa, di luar sudah ada Mama Yuta. Lagi ngoblol sama Bude."


"Oh begitu, ya sudah kita keluar. Ajak Mama Yuta salat Dzuhur yuk."


"Ayok Ma, Mama Khansa tantik."


"Hm- anak Mama sudah pintar merayu sekarang ya." Khansa mencubit kecil hidung mancung milik Naura lalu berjalan menuju ruang keluarga. Terlihat Yuta tengah mengiris beberapa bumbu untuk memasak bersama Bude dan bi Karsih.


"Belajar masak apa Yut?"


"Lagi belajar masak rendang, biar lebaran nanti sudah bisa masak sendiri dong."


"Iya Ma, Naura cuka rendang. Enaak."


"Oke sayang, Mama berusaha sampai bisa memasak rendang."


"Biar nanti kalau suami betah dirumah, istri juga harus pintar masak." Jelas Bude. "Tugas perempuan ya masak, manak, macak."


Yuta melirik ke arah Khansa, tapi Khansa hanya menaikan kedua bahunya.

__ADS_1


"Masak berarti bisa masak, Manak berarti melahirkan anak, Macak berarti bisa dandan dan tampil cantik di depan suami. Betul kan bi Karsih?" Seolah Bude sedang mencari kawan untuk meng-iyakan perkataannya.


"Enggeh, bu Aminah."


"Oh- begitu." Ucap Yuta manggut-manggut tanda mengerti.


"Yut, kamu sudah salat Dzuhur? Aku mau salat sama Naura."


"Enggak, aku lagi dapet. Tamu merah lagi datang, jadi aku ga salat."


Deg!


Saat Yuta membahas tamu merah, otak Khansa baru berpikir. Kapan dia terakhir datang bulan?


"Kenapa Sa? Ada yang salah?" Yuta heran melihat perubahan wajah Khansa begitu saja.


"Em- ga papa Yut- Nanti selesai aku salat, kamu jaga Naura dulu ya. Aku mau keluar sebentar."


"Mau kemana? Perlu aku antar?"


"Ga perlu, kan ada kak Ramadhan."


"Suami kamu masih ke masjid, tadi telepon."


"Ya sudah, kalau begitu aku diantar pak supir saja. Aku salat dulu ya."


"Oke," Yuta kembali sibuk berkutat dengan bumbu-bumbu dihadapannya.


......................


Salat Dzuhur selesai Khansa laksanakan, ia langsung bergegas menuju apotek terdekat untuk membeli alat yang tiba-tiba menjadi sangat ia butuhkan itu apalagi kalau bukan alat tes kehamilan.


"Ya Allah, hamba tidak ingin punya khayalan dan praduga sendiri terlebih dahulu. Tapi bila engkau sang maha pemilik kehidupan mengizinkan kepadaku dan kak Ramadhan untuk segera memiliki amanah kehidupan kecil dari-Mu. Hamba siap ya Rob, hamba siap menjaga amanah itu."


Hati kecil Khansa bergumam tiada henti, kalimat tasbih juga ia ucapkan agar tak kecewa jika nanti hasilnya ia belum pantas menerima amanah kehidupan baru itu.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu kak." Sapa penjaga apotek dengan begitu ramah.


"Saya butuh alat tes kehamilan yang kalian punya, berbagai merek beri saya masing-masing merk dua." Ucap Khansa dengan cepat dan lantang.


"Kami punya 7 produk dari berbagai merk kak, akan kami bawakan untuk kakak, apa ada hal lain lagi yang perlu ditambahkan?"


"Tidak perlu, itu saja."


"Baik,"


Khansa kini sudah menenteng satu kantong plastik yang berisi alat tes kehamilan, tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata baru kali ini dia merasakan nervous dengan dirinya sendiri. Pikirannya berkelana membayangkan hal yang belum pasti itu.


"Pak, agak cepat ya pak." Titah Khansa kepada sang supir.


"Baik non." Bahkan jarak rumah dengan apotek yang hanya 2 km saja sudah ia anggap begitu jauh kali ini.


Biasanya ia akan berpendapat terlalu lebay kepada pasien yang terlihat sangat nervous untuk melakukan pengecekan urine. Hari ini , detik ini, dia merasakannya sendiri bagaimana rasanya diposisi demikian.


Mobil Khansa berhenti, terparkir dengan cantik di halaman rumah yang bersebelahan dengan pondok pesantren itu.


Khansa langsung berhambur menuju rumah,


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam, dari mana aja si kamu Sa?" Tanya Yuta yang penasaran dengan tingkah sahabatnya itu.


"Nanti aku ceritain, aku ke kamar mandi dulu."


Ucap Khansa sambil berlalu begitu saja.


"Ye- kalau bukan temen udah aku sleding kamu Sa, ditanya malah ngeloyor gitu aja."


"Mama, cleding itu apa?" Tanya Naura kepo.


"Aduh apa ya? Mama lupa, mending sekarang Naura maem ya. Mama Yuta suapin, sambil nunggu Mama Khansa keluar."


"Oke Ma."


Di wastafel kamar mandi Khansa berderet rapi 7 alat tes kehamilan yang sudah Khansa pakai bercampur dengan urine. 5 menit Khansa sudah menunggu, dan dari seluruh alat tes kehamilan itu menunjukan garis yang sama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2