Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Atur Strategi


__ADS_3

Pagi menjelma menjadi sebuah ruh dalam jiwa. Pada hakikat sang kehidupan adalah bekerja atau melakukan aktifitas. Khansa yang sedari sahur tidak tidur, membereskan piring-piring dan perabotan sisa makan sahur mereka bersama. Salat Subuh berjamaah, lalu mengaji bersama ibu Fatima sambil menanti fajar menyingsing.


Suara ketukan pintu mengejutkan seisi rumah pagi ini. "Siapa yang pagi-pagi sudah bertamu?" Ucap Ibu Fatima lirih.


"Biar Khansa saja yang buka bu,"


"M- tidak sayang aku saja, kamu lanjut mengaji saja bersama ibu." Potong Ramadhan yang tengah berdiri di ruang tamu.


"Bu, Khansa sampai halaman 30 dulu ya bu. Khansa harus bersiap-siap ke klinik, lokasi klinik jika dari rumah ditempuh kurang lebih satu jam bu."


Fatimah dengan lembut mencium puncak kepala menantunya, "Apa tidak sebaiknya kamu dirumah saja bersama ibu? Kehamilan kamu masih sangat rawan nak. Apa Ramadhan mengizinkannya?"


Khansa mengangguk cepat, walau harus melewati perdebatan sengit. Akhirnya Ramadhan bersedia untuk memberi izin sang istri.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Niko! Reza! Aisyah! Kenapa tak memberi kabar jika akan kesini?" Ramadhan menyambut mereka dengan senyum yang sangat lebar.


Niko langsung berhambur memeluk Ramadhan, mendengar nama Kak Reza diucapkan. Sera sontak langsung berlari-lari kecil menuju ambang pintu dan memeluk Reza.


"Kak Reza! Sera kangen!"


"Sama Kak Reza juga."


"Ada om Niko juga, kapan datang om? Jadi menetap di Indonesia juga kan? Dia siapa kak Reza?" Kali ini Sera menunjuk ke arah Aisyah.


"Ah- iya, perkenalkan Sera. Ini istri kak Reza, namanya kak Aisyah."


Reflek Aisyah mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sera. "Are you sure? Kak Reza ga sedang prank aku kan?"


"Kenapa kak Reza harus prank Sera? Dia benar-benar istri kakak."


Sera lagi-lagi menunjukan mimik tidak suka kepada Aisyah. "Nanti sore kita nonton ya kak Reza? Bioskop premier XXVII baru di buka loh."


"Kak Reza ga janji y dek, kakak kesini juga sama istri kakak. Jadi ga bisa janji."


"Kenapa aku jadi merasa ga ikhlas ya, kalau kak Ramadhan dan kak Reza sudah menikah." Sera yang merajuk segera merangsak menuju mobil yang sudah stay menanti dia dan ayah Ali.


"Ayo kita berangkat Sera, nanti ayah telat berangkat ke kantor. Kenapa jadi pada kumpul di pintu begini? Di dalam saja. Loh Niko!"


Ali begitu terkejut melihat keponakannya ternyata datang.


"Om!" Niko memeluk Ali.


"Kapan datang ke indonesia? Yang om pernah tawarkan sudah kamu pikirkan dengan matang?"


"Aku sudah di Indonesia 3 hari yang lalu om, tapi baru bisa ketemu Reza kemarin."


"Oh begitu, ya sudah istirahat saja di dalam. Om sama Sera berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


**


"Assalamualaikum tante!"


"Wa'alaikumsalam Niko!" Ibu Fatima juga berhambur, memeluk Niko.

__ADS_1


"Ini siapa tante?" Niko melihat Khansa yang baru saja meletakan Alquran kedalam Almari buku.


"Kenapa Niko? Dia istriku Khansa, ga usah punya pikiran macam-macam. Istriku sedang hamil." Kali ini muka masam Ramadhan di pasang, bisa-bisanya keponakannya kepo dengan istrinya.


"Khansa..." Khansa mengatupkan kedua tangannya.


"Oh begitu, hehehehe maaf. Saya Niko." Niko membalas senyum kecut karena salah praduga.


Khansa juga langsung memeluk Aisyah, Khansa sangat bahagia melihat kedatangan adiknya.


"Niko puasa?" Tanya Fatima membelah keheningan.


"Puasa tante, tante ada kamar kosong untuk Niko ga?"


"Ada dong, tante sama Khansa siapkan dulu ya kamarnya. Ayo menantu-menantu Ibu, kita kumpul sambil menyiapkan kamar buat Niko. Biar para lelaki menunggu di sini dulu."


Genk para wanita menghilang di balik tangga.


Niko langsung merapat ke telinga Ramadhan.


"Om- eh maksud aku kak."


Suara benturan ruas-ruas jari-jari menggesek kepala Niko menggema.


"Auw sakit kak Ramadhan, uh-" Niko mengusap-usap kepalanya yang baru saja di jitak.


"Belum juga punya anak, udah dipanggil om aja."


"Aku mau bicara serius, kita harus punya ruangan khusus kalau tidak bisa keluar dari rumah ini." Niko memandang kaki Ramadhan yang masih sedikit pincang berjalan.


"Jangan macam-macam rencananya Za,"


"Siap,"


****


Para peri-peri cantik akhirnya keluar dari kamar singgasana yang sudah mereka siapkan untuk Niko.


"Kamarnya sudah siap Niko, silahkan kalau kamu mau istirahat." Ibu Fatima mempersilahkan.


Reza mengedip-ngedipkan matanya kearah Ramadhan. Sejurus kemudian Ramadhan paham akan kode itu.


"Akh- sayang, kamu tidak jadi berangkat praktek?" Ramadhan memancing umpan.


"Apa kak Ramadhan mengizinkan?" Khansa takut jika suaminya itu berubah pikiran karena datang keponakan dan adiknya.


"Oh- tentu boleh, yang terpenting harus diantar sama pak supir."


"Sayangku Aisyah, apa kamu tidak keberatan ikut dengan Khansa pulang lebih dulu? Aku ada urusan mendadak sayang,"


Haduh, bertumpuk sudah dosa-dosaku sama kak Ramadhan. Gara-gara cecunguk Niko, awas saja kalau hal yang dibicarakan nanti ga bermutu. Pasti akan ku jadikan kamu bakso bakar Niko. Batin Reza menggerutu sendiri.


"Ibu kalau mau ikut juga tidak apa bu, sekalian ibu bisa lihat klinik Khansa langsung."


"Wah kalau begitu ayo kita segera berangkat Khansa, mumpung para laki-laki mengizinkan kita pergi."


Khansa sebenarnya menaruh curiga dengan gelagat para laki-laki dihadapannya, namun kecurigaan itu hanya ia simpan sendiri.

__ADS_1


"Baiklah kita berangkat, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam,"


Ramadhan dan Reza melambaikan tangan kepada mobil yang mulai berlalu pergi meninggalkan rumah.


"Ayo cepet, awas aja kalau ga bener-bener penting ya Niko. Aku kasih bogem mentah kamu." Bahkan untuk mempercepat langkah mereka ke kamar Niko, Ramadhan digendong dibelakang oleh Reza.


...****************...


Reza mulai membuka laptop dari dalam tasnya.


"Lihat dengan seksama kak Ramadhan, kamu pasti ingat dia siapa."


Foto demi foto terpampang dengan jelas di hadapan Ramadhan, kening Ramadhan mulai berkerut dan tengkuknya mulai terasa gatal.


"Bukankah dia Alex?"


Ramadhan masih ingat teman seperjuangan yang dulu pernah bergelut di bidang yang sama. Dunia mafia, namun mereka sempat berpisah karena perbedaan pandangan tentang target misi selanjutnya. Pada dasarnya Ramadhan bukanlah seorang laki-laki kejam yang berbakat menjadi seorang mafia dingin dan bengis.


Penekanan sampai Ramadhan terpaksa harus berkecimpung di dunia mafia karena paman yang memaksanya masuk, kematian paman yang tepat didepan matanya juga menjadi batu pemberat terakhir ia haru masuk dunia mafia yang bukan menjadi latar belakangnya.


Apabila ada penobatan mafia paling sopan dan sangat mencintai perempuannya, pasti Ramadhan akan langsung menjadi juaranya.


Ini bukan masalah cacat logika, seorang mafia yang begitu baik dan begitu mencintai istrinya. Tapi lihatlah latar belakang dan hal apa yang membuat ia harus masuk dalam dunia mafia dulu.


Bagi reader yang membaca dan mengikuti novel ini dari awal, pasti tahu adegan itu.


*


"Right! Kita sedang berada di posisi silent danger kak Ramadhan. Karena Alex merupakan kakak dari Gabriel, gembong ******* cyber yang meninggal di tanganmu." Niko menelan saliva-nya dengan berat.


"Tunggu! Sebenarnya apa yang sedang kita bahas kak Ramadhan? Reza tak mengerti!"


Niko mengangkat kedua bahunya, dan melirik ke arah Ramadhan.


Gaswat, ternyata kak ramadhan belum menceritakan permasalahan ini dengan Reza sebelumnya.


"Sudahlah Niko, nasi sudah menjadi bubur." Ucap Ramadhan lemah.


"Jelaskan kepadaku kak Ramadhan." Desak Reza, memaksa.


Ramadhan menghembuskan napas beratnya, "Harus darimana aku menjelaskannya kepadamu Reza, kejadian ini bahkan sudah berlalu berpuluh-puluh tahun yang lalu."


Dengan berat hati, Ramadhan mulai menceritakan kenapa ia dulu tidak pernah pulang dan sering berpindah-pindah negara. Awal kekacauan ini berasal dari paman, ayah Niko. Ramadhan tak bisa berbuat banyak, karena Ayah selama ini mendapat modal besar dalam setiap investasi dan propertinya di sokong dana oleh Paman. Bahkan Khansa yang tidak tau apa-apa juga ikut menjadi korban saat Ramadhan mencoba melarikan diri dari musuh-musuh paman.


"Lalu, rencana kita selanjutnya apa?" Terlihat Reza sudah mampu menerima segala penjelasan Ramadhan.


"Mulai?"


"Mulai!"


"Oke! Kita atur strategi."


Menumpuk ketiga tangan bersamaan Niko, Reza dan Ramadhan antusias mengatur strategi, menantang maut yang menghadang..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2