
Happy Reading❤️
Malam ini buat NOVEL sambil nongkrong...
Inspirasi dari lagu ❌
Inspirasi dari perdebatan orang nongkrong di sebelah we✅
Sampe adu argumen dan saling ngotot euy...
Seruuu deh, merapat yuk.
☺️☺️☺️☺️🤣🤣🤣
Tema perdebatan nongkrong kali ini adalah suami yang tidak menafkahi istri dan anak-anaknya. Sudah berlangsung selama 6 bulan. Sang ibu menjadi tipikal orang yang kasar dan cenderung frustasi, sering menyakiti sang anak. Memukul secara berlebihan, hal-hal sepele yang sang anak lakukan seperti makan berantakan juga memantik emosi yang amat berlebihan. Menurut pendapatku sang ibu mengalami gejala baby blues.
Saya sendiri pernah mengalami Baby blues setelah melahirkan anak saya yang ke dua.
Kelahiran anak pertama dan kedua hanya berjarak 4 tahun dan sebelumnya saya mengalami keguguran sebanyak 2 kali.
Masalahnya hanya sepele, dari lingkungan saudara yang suka membandingkan dengan kata "Saya dulu tidak ... bla bla bla"
Bisa ini bisa itu tapi kenapa kamu tidak?
Masya Allah, rasanya seperti hati itu di iris-iris pisau belati, hanya saja kali ini pisau belatinya berbentuk lidah. Kembali ke case tongkrongan ya..😁
Posisi sang ibu yang melakukan percobaan bunuh diri dan menyiksa anaknya ini, baru saja melahirkan setahun yang lalu, dan anak sebelumnya baru berumur 4 tahun.
Ya Tuhan, sudah bisa dibayangkan bagaimana keadaannya. Orang-orang di tongkrongan banyak yang menyalahkan suaminya karena lari dari tanggung jawab dan bertindak sebagai pengecut. Kalau pendapat author itu tidak sepenuhnya benar. Karena dari pengalaman author sendiri, bukan suami yang menjadi pemicu utama baby blues. Seorang suami hanya menjadi peran pendukung saja waktu itu.
Pesan ini ku sampaikan untuk kita semua, jika kalian laki-laki. Dengan segenap hatiku yang paling dalam, seberat apapun masalah kita didunia ini. Saya mohon jangan pernah tinggalkan Anak dan Istri kalian sendirian menghadapi kerasnya dunia ini. Hadapi bersama, posisi kalian sudah berada di samping sang istri saja terkadang seorang istri masih sakit. Apalagi jika kalian tinggalkan begitu saja? Ingat kembali perjuangannya mempertaruhkan nyawanya demi menghadirkan buah cinta kalian.
Bagi pembaca yang wanita, jika suatu saat kita punya saudara ipar, tetangga, menantu dsb yang habis melahirkan. Please, jika mulut kita hanya ingin menyakitinya lebih baik kita diam. Bicara yang penting dan membangun saja, wanita yang baru saja melahirkan rata-rata hatinya lebih sensitif. Lebih bagus jika kita bisa mengurangi sedikit beban atau membuatnya tersenyum, insyaAllah Allah akan membalas setiap kebaikan walau hanya sebesar biji Zarah.
...****************...
Rintik-rintik hujan yang cukup deras sore hari ini, membuat Fitria yang baru saja selesai menangani pasien terakhirnya. Keluar dari ruangan praktek menuju meja pendaftaran di mana Mira berada.
Ingin tapi tak ingin, Fitria terpaksa lebih lama lagi berdiam di klinik, menunggu sang hujan reda mengeluarkan air basahnya. Bahkan kilatan-kilatan cahaya yang diiringi suara gemuruh petir yang saling bersahut-sahutan, membuat gadis itu cukup terkejut dan secara refleks menutup hidungnya. Eh salah, menutup kedua telinganya maksudnya.
"Hahahahaaha," Tawa Mira pecah.
"Ngapain lo ketawa, ada yang lucu?" Sepertinya Mira melihat kelakuan absurd nya tadi, Fitria sendiri bahkan heran sedari kecil dia selalu konslet jika melihat kilatan petir.
"Aku jadi teringat teman masa kecil aku dokter Fitria."
"Kenapa?"
"Dulu aku punya teman kecil, tetangga aku waktu masih di kampung. Kalau ada petir juga kaya dokter Fitria gitu, bukannya refleks menutup kedua telinganya temenku malah menutup hidungnya, hehehehe maaf ya dok. Mira ga bermaksud untuk mentertawakan, tapi merasa Dejavu tu lucu. Jadi kangen kampung."
"Aku kira cuma aku aja yang punya kelakuan aneh gini dari kecil. Tahunya juga ada yang sama seperti aku juga entah di bumi belahan mana. Hihihi."
Tak lama kemudian, seorang pria tampan berbadan tegap, mengenakan baju batik dan jas putih sejuta umat berjalan menghampiri dirinya. Rambutnya yang sedikit basah menambah damage kegantengan maksimal pada dirinya.
"Tunggu di sini saja dulu, jangan maksain pulang sekarang, di luar masih hujan." ujar Hafiz tersebut seraya mengacak puncak kepala Dyra.
"Memang aku mau nunggu hujannya reda kok, kenapa si selalu saja mengacak rambut aku. Kan jadinya berantakan."
Hafiz duduk di samping Fitria dan seraya memberikan boneka beruang madu kecil kesukaan Fitria. Huft untuk yang satu ini harus saya ralat, tentu kesukaan semua wanita.
"Aki kode tapi kamu ga peka, semoga suatu saat nanti kamu mau berhijab Fit. Semoga..." Suara Hafiz menggantung di udara.
Fitria menganggukkan kepalanya."Semoga Amiin."
"Masih ada tugas ga Mir?" Tanya Hafiz untuk mengalihkan rasa canggungnya.
__ADS_1
"Sudah selesai kak, tinggal tunggu yang jaga shift selanjutnya sama dokter jaga." Ucap Mira memperjelas tugasnya.
"Ooo, baguslah."
"Penyuluhan lancar?" Kini Fitria mencoba mengisi obrolan sembari menunggu sang hujan berhenti.
"Alhamdulilah lancar."
"Bagus deh, gue jadi kangen berat sama Khansa kalau kaya gini. Mau sampai kapan dia ga buka praktek? Pasien juga banyak banget yang nanyain dia, yang sudah rencana lahiran di tanganin dia juga banyak yang kecewa." Ungkap Fitria kesal menahan rindu kepada sang sahabat.
"Keadaannya sudah berbeda Fit, bagi wanita yang sudah menikah. Ridho suami itu ridho Allah. Jika sang suami ridho, apa yang dikerjakan sang istri akan menjadi ladang pahala. Tapi jika suami tidak ridho, maka yang didapat sang istri hanya dosa."
"Iya pak Haji Hafiz, hamba mengerti."
"Amiin ya Allah. Jadi Haji hehehhe."
"Kapan-kapan main ke rumah Khansa yang baru yah?" Mode manja Fitria sudah On sepertinya.
"Kalau Kak Ramadhan dan Khansa mengizinkan pasti aku antar kesana,"
"Janji?"
"InsyaAllah tuan putri."
"Ehem-ehem lupa kayanya kalau masih ada Mira di sini. Jadi kambing nyamuk aku di sini."
"Sorry ya Mir, aku ga bermaksud."
...----------------...
Suara deru kendaraan bersamaan datang, sudah bisa dipastikan jika Ibu, Ayah dan Sera sudah datang. Sangat tepat dengan suara Adzan Maghrib yang baru saja berkumandang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sambut Khansa dan Ramadhan yang sudah menanti mereka diambang pintu.
"Ibu lebay banget deh, perasaan baru seminggu kita ga ketemu."
Wajah tak sumringah terpancar dari Ayah Ali dan Sera.
"Ayo kita buka puasa bu, Khansa sudah masak untuk kita semua."
"Oya? Alhamdulilah, terima kasih ya sayang." Ibu Fatima mencium kening menantunya dengan lembut.
Ya Rob, betapa bahagianya hatiku. Aku memiliki ibu mertua yang sangat baik dan sangat menyayangiku, Dede Ramadhan junior juga pasti senang punya Nenek yang cantik dan baik. Batin Khansa merasakan penuh kebahagiaan.
Semuanya langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan Khansa.
"Pasti masaknya pakai bumbu penyedap ya? Lain kali pakai Totole jamur aja kak, jangan pakai penyedap atau micin. Sera ga suka."
"Oke dek, besok-besok kak Khansa akan pakai totole jamur. Ga pakai penyedap rasa lagi."
"Sera! Jaga cara bicara kamu, masih untung kak Khansa mau masak buat kita. Kamu bicara seperti itu seolah menganggap kak Khansa datang ke rumah ini sebagai pembantu." Sebenarnya Ramadhan hanya ingin memperingatkan cara bicara Sera. Tapi karena Ramadhan terbawa suasana jadi terlihat seperti sedang memarahi Sera.
"Ga papa Kak Ramadhan, Khansa malah suka kalau masakan Khansa di kasih saran."
"Kamu lebay banget si Ramadhan, masa hanya demi istri kamu, kamu jadi marah-marahin Sera. Sera itu adik kamu. Ternyata keputusan Ayah untuk memblokir kartu-kartu kamu tidak salah, sudah terlihat kamu lebih memilih membela istri kamu dibanding adik kamu sendiri." Ayah Ali sekarang jadi ikut campur.
"Oh- jadi Ayah yang sudah memblokir kartu-kartu Ramadhan? Salah Ramadhan di mana Ayah? Perusahaan yang menjadi sumber keuangan Ramadhan tidak ada sangkut pautnya dengan harta ayah."
Deg! Jantung Khansa berdegup kencang, apa sebenarnya yang Ayah dan anak itu sedang ributkan. Perusahaan apa? Suamiku punya perusahaan? Kenapa selama ini aku tak tau? Batin Khansa bertanya-tanya.
"Kamu lupa Ramadhan, kamu bisa membeli aset-aset itu karena sebelumnya kamu dapat uang dari siapa kalau tidak dari Ayah?!"
"Kenapa jadi berantem begini? Sudah-sudah, Ayah sama Ramadhan malah jadi kaya anak kecil berantem. Ibu minta Ramadhan tinggal di sini yah, biar kita kumpul. Saling melengkapi, saling mengisi. Ini kenapa malah pada berantem?"
__ADS_1
"Ramadhan mau nafkahi istri Ramadhan pakai apa bu? Kalau semua tabungan Ramadhan di blokir Ayah? Makanan yang kita santap sekarang ini bu, itu bayarnya pakai uang Khansa. Ramadhan merasa jadi laki-laki yang ga berdaya bu. Ramadhan tidak bermaksud untuk melawan atau menyanggah Ayah, tapi Ramadhan katakan jika ayah sudah keterlaluan, Ramadhan sekarang sudah jadi imam yah. Ramadhan punya tanggung jawab seorang istri dan bayi didalam perutnya. Ramadhan bukan lagi seorang anak sulung yang hanya memikirkan diri sendiri yah." Dada Ramadhan naik turun, hatinya kalut. Seumur-umur dia tidak pernah berdebat dengan ayahnya masalah uang.
Khansa menitikan air matanya, bangun dari duduknya dan meraih pundak suaminya. "Kak, kita masuk ke kamar dulu yuk. Ayah masih capek dan kak Ramadhan juga capek. Tidak akan menemukan titik mufakat, yang ada hanya pertengkaran. Khansa masih punya uang dan pekerjaan, kak Ramadhan fokus sembuh dulu. Uang bisa di cari, kebahagiaan tidak bisa dibeli sayang. Aku mohon, jangan lanjutkan ini lagi." Khansa merasakan sedikit kram pada perut bagian bawahnya. Sesekali ia memegangi perutnya. Melihat hal itu emosi Ramadhan langsung menurun, menggenggam erat tangan sang istri.
"Maafkan Ramadhan bu, Ayah. Ramadhan akan masuk dulu, sepertinya Khansa kecapean."
Perlahan Khansa dan Ramadhan berjalan menuju kamarnya. Sera membanting sendok dan garpu ke arah piring, dentuman suaranya masih bisa Ramadhan dengar.
"Adikku telah banyak berubah, dulu Sera tak seperti itu. Salahku juga bertahun-tahun tak menemaninya. Atas nama adikku, aku minta maaf sayang." Ramadhan membiarkan Khansa merebahkan diri dikasurnya. Genggaman tangan itu tak lepas, Ramadhan bahkan menciumi punggung tangan itu beberapa kali.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan sayang, bolehkah aku beristirahat sebentar?"
"Tentu, istirahatlah."
"Tapi aku minta sayang berjanji, tidak akan bertengkar dengan ayah lagi."
"Iya."
"Aku akan bicara empat mata nanti dengan ayah, janji... tanpa ada pertengkaran. Sekarang sayang tidur dulu, jangan banyak memikirkan yang tidak-tidak. Aku tidak mau Ramadhan Junior kenapa-kenapa di dalam sana."
Khansa mengangguk, sang suami terlihat pergi meninggalkannya sendiri. Agar memudahkan Khansa beristirahat.
Khansa perlahan memejamkan matanya, bulir-bulir air mata kembali luruh.
Khansa teringat akan pesan Ummi dulu sewaktu masih ada.
"Nak, suatu saat kalau sudah menikah. Lebih baik kontrak kalau memang belum punya rumah sendiri. Untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Sebaik apapun mertua atau orang tua kita sendiri, jika sudah berumah tangga lebih baik tinggal terpisah. Setiap biduk rumah tangga pasti ada senang dan berantemnya, ga mungkin lurus terus. Kalau tinggal berdua bisa kita selesaikan sendiri, tapi kalau tinggal bareng orang tua atau mertua jadi ada yang ikut campur. Masalah kecil jadi besar Nauzubillah, semoga rumah tangga anak-anak Ummi selalu dalam lindungan Allah."
"Amiin... kan yang mau nikah Aisyah mi, tapi tetap Khansa sayang Ummi." Pelukan hangat menjadi akhir dari perbincangan anak dan ibu itu.
Ummi...
Abah...
Khansa kangen banget, andai Ummi dan Abah masih ada. Pasti Ummi dan Abah akan bahagia punya cucu dari Khansa.
Menangis hingga lelah, akhirnya Khansa ketiduran.
*****
"Sera,"
Sera yang melihat kakaknya berdiri diambang pintu tetap berusaha cuek. Walau didalam hatinya sangat ingin memeluk kakaknya itu.
"Maafkan kakak. Kak Ramadhan tidak bermaksud marah kepada Sera." Ramadhan mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut.
"Sudahlah kak, urus saja istri kakak. Anggap saja tidak ada Sera di sini. Bukankah seperti biasanya sudah begitu? Sera sudah terbiasa tanpa kak Ramadhan." Ucap Sera ketus.
"Jangan seperti ini dek, Kak Ramadhan punya alasan sendiri kenapa kakak jarang pulang dan berkumpul bersama kalian. Jika Sera membenci kak Ramadhan silahkan, tapi kakak mohon jangan benci kak Khansa. Dia tidak tahu apa-apa dek. Suatu saat Sera juga akan bertemu jodoh dan menjadi menantu di keluarga jodohmu. Kakak juga tidak akan ikhlas jika sampai Sera di benci atau tidak di sukai oleh saudara-saudara dari suami Sera."
"Tolong keluar kak, Sera ingin sendiri."
"Sera," Wajah teduh Ramadhan bahkan tak dilirik sedikitpun oleh Sera.
Ramadhan bisa melihat, buku yang berada di depan Sera sedikit basah. Bulir-bulir air mata Sera jatuh di sana, tapi dengan sangat pandai Sera menyembunyikan tangisannya.
"Jika kamu sudah lebih baik, kita akan bicara lagi Sera. Tidurlah, jangan lupa salat Isya terlebih dahulu. Kakak keluar."
Sera menundukkan wajahnya, ia menangis sejadi-jadinya ketika Kak Ramadhan menutup pintu kamarnya.
Kak Ramadhan benar-benar sudah tidak sayang Sera. Bahkan kak Ramadhan tidak memeluk Sera sama sekali. Kakak sudah banyak berubah, Kak Ramadhan tidak adil dengan Sera.
Kak Reza... Sera kangen kak Reza, kak Ramadhan di sini tidak mau memeluk dan menyayangi Sera kak.
Suara isak tangis yang ia sembunyikan di balik dekapan kedua tangannya. Mampu Sera simpan dengan baik di dalam hatinya...
__ADS_1
Bersambung...