
Happy reading❤️
Tak mudah tuk melepas bayangmu
Kau yang pertama mengisi relung hatiku ooh
Tak mudah tuk melepas rasa ini
Tapi ku sadari diriku lebih berarti
Berlari dan terus ku berlari
hingga rasa ini pergi
Apa yang harus ku lakukan untuk melepaskanmu
Sampai mati kan ku coba, aku tak bisa
Apa yang harus ku lakukan untuk menghapuskanmu
Yang terukir di hatiku
Pernah ku berpikir semua salahku
Kau berpaling pada cinta yang lain
Namun akhirnya aku mengerti
Yang kau miliki bukan cinta sejati
Berlari dan terus ku berlari
Hingga rasa ini pergi
Apa yang harus ku lakukan untuk melepaskanmu
Sampai mati kan ku coba, aku tak bisa
Apa yang harus ku lakukan untuk menghapuskanmu
Yang terukir di hatiku
Ku kira kita kan berdua selamanya
Tak ku duga kau kan mendua
Tapi buat apa ku bersama dia
yang tak mencintaiku
Apa yang harus ku lakukan untuk melepaskanmu
Sampai mati kan ku coba, aku tak bisa
Apa yang harus ku lakukan untuk menghapuskanmu
Yang terukir di hatiku...
Menghapus Yang Teukir...
Mytha L
"Ini gimana nih? Lo yakin mau nikah sama tu cewek Azka? Gila lo ya, kenal kagak. Tau isinya kagak main samber aja mau nikahin anak orang." Siapa lagi yang akan protes sedemikian rupanya jika bukan sosok Fitria.
"Tau isinya? Emang lo kira kita lagi beli Misteri box di online shop, hahahha." Yuta tertawa terbahak-bahak.
"Ish, lagian kamu Yuta. Ngapain juga nyuruh si kampret dateng kesini. Bukannya bantuin malah bikin ribet iya." Keluh Azka yang sedari tadi hanya merebahkan dirinya di sofa.
"Kak, kamu juga buat aku ribet malam ini. Niat hati pengen jenguk sama nemenin Khansa, malah kakak buat acara nikah dadakan kaya gini. Untung aja nanti ga judulnya suami dadakan, ahahaha." Ocehan Yuta membuat Naura terbangun dari tidur sorenya.
Perkiraan Yuta, Naura akan rewel dan meminta ini itu. Namun kali ini pra duganya salah.
"Mama, kapan mau ketemu mama Khansa? Naura uyah kangen, hoam."
Naura menghampiri Azka dan ikut merebahkan dirinya disebelah Azka lalu tertidur lagi.
"Yah, ambruk lagi dia Yut. Hahahaha, lo si berisik." Fitria melipat bungkus kado terakhir di tangannya.
"Eh kampret Azka, cincin nikah lo udah beli apa belum?"
Azka hanya menggeleng.
"Gimana si lo, niat nikah kagak?"
"Kagak!"
"Emang bener-bener abang lo ini Yut, minta di giling biar jadi bubur. Terus kita sumbangkan ke Panti Asuhan." Gerutu Fitria kesal.
"Jangan begitu Fit, gini-gini abang gue pahlawannya Khansa. Jarang ada laki-laki mau nikah, mengorbankan dirinya karena begitu cintanya sama seorang wanita. Terkadang yang membuat aku iri sama Khansa ya begini Fit, ada banyak lelaki yang sangat tulus mencintai dia. Sedangkan aku? Hah, sudahlah. Kamu juga tahu jawabannya."
"Ye- jangan melow gitu dong, kamu ga sendirian kok beb. Gue juga sama, untuk masalah yang satu ini. Kita berada di jalur yang sama, mencintai seseorang tulus. Namun orang yang kita cintai justru mencintai dan menyayangi orang lain."
"Ye, malah reuni bahas mantan di sini. Sana pergi ah, aku mau istirahat. Bobo sama Naura."
"Terus cincin gimana kampret! Nyebelin banget si."
"Tolong beliin Fit, sama Yuta sana. Nih kartu gue. Pake aja kalau kalian juga mau beli yang lain, terserah. Gue ngantuk mau tidur." Azka merasa kepalanya mulai berkunang-kunang karena kurang tidur.
"Abang, Ayah sama Mamah ga kamu kasih tau kalau kamu mau nikah?" Kali ini Yuta terlihat sangat serius.
"Ga perlu, jangan ganggu Ayah sama Mamah. Biarkan saja, toh juga gue ga tau pernikahan gue bakal lama atau ga. Udah cepet sana pergi, pusing kepala kalau kurang tidur begini."
"Astaghfirullah, mending ga usah nikah sekalian kak. Daripada kaya lagi mainan begini,"
"Ya sudahlah Yut, kita pergi aja. Percuma juga ngomong sama abang lu yang udah ke alam mimpi gitu." Fitria menggandeng tangan Yuta dan berjalan menuju teras.
__ADS_1
"Bentar Fit, terus darimana kita tahu ukuran cincinnya itu cewek?"
"Kira-kira aja dulu, badannya dia sama kok kaya Khansa."
"Yakin?" Tanya Yuta ragu.
"Yakin, kan gue udah lihat tu cewek pas di rumah sakit."
"Oh iya ya, ya udah semoga ukurannya nanti pas."
"Yuk Markicus! Mari kita cuss."
...****************...
"Selamat hari kartini untuk wanita-wanita tangguh di dunia ini
Wanita kuat, tidak pernah menangis saat tersakiti.
Impossible sih, hehehe
Tapi yang masih kuat berdiri meski banyak luka menghampiri
Selalu kuat dan berdiri tegap, walaupun harus banting tulang hanya untuk sekadar mengisi perut."
"Kamu ngomong apa si nduk, bapak sama mamak ga ngerti." Ucap Pak Parto sambil mengipas wajahnya dengan topi lusuhnya. Topi yang selalu Pak Parto pakai untuk mengurangi sengatan matahari langsung di wajah dan kepalanya.
"Hari ini hari Kartini Pak," Jawab Prita dengan wajah sumringahnya.
"Oo gitu, ga ada hari Pak Kartini ya nduk? Bapak perhatikan dari kemarin kamu keliatannya seneng sekali nduk." Pria paruh baya itu memang, sangat memperhatikan putri mereka satu-satunya.
"Bagaimana ga senang dia Pak Parto, lha wong kemarin dia di tolongin sama cowok kaya pake mobil yang beli tanah satu kompleks di perbatasan TPA itu." Sisil mengadu kepada Bapak Parto.
"Benar nduk?"
"Awas kamu ya Sil, habis ini tak jamin ga bisa kentut kamu!" Ancam Prita.
"Coba kalau berani, kan ada pak Parto dan bu Parto yang jagain aku sekarang. Ga takut welk😛"
"Ye- udah berani ngejek kamu sekarang yah. Awas lo abis ini."
"Nduk Prita, jangan begitu. Kok Nduk ga cerita sama bapak?"
"Itu lo Pak, Sean bilang kecelakaan. Biaya Rumah sakitnya Satu Juta, jadi Prita pinjem uang di Cungkring dan-"
"Dan tahunya si Sean ngibulin si Prita Pak Parto, Hahahahha." Penjelasan Prita di potong begitu saja oleh Sisil.
"Emang kurang di lakban kayanya bibir lo Sil."
Prita geram, penjelasannya terpotong begitu saja.
"Hush, hush. Sudah, nduk. Ga boleh seperti itu sama temen." Pak Parto berusaha menengahi.
Sret! Tin! Suara ban bertemu batu-batu di luar dan suara klakson mobil tentunya.
"Wa'alaikumsalam."
"Permisi, apa betul ini rumah mba Prita?"
"Betul, saya bapaknya. Anak muda siapa?"
"Saya Hamid pak, asistennya tuan Hilal."
Kening Pak Parto berkerut, dia sama sekali tak mengenal tamu dan tuan yang pemuda ini katakan.
"Siapa Pak, tamunya?" Teriak Prita dari sofa tambalan kebanggaannya.
"Katanya namanya Hamid, nyari kamu nduk. Monggo silahkan masuk pak Hamid."
"Nggeh, terima kasih." Jawab Hamid santun.
Prita dan Sisil langsung berdiri, "Masya Allah, itu malaikat turun dari mana Prit? Jadi ini yang nolongin lo kemarin."
"Diem Lo Sil, bukan dia. Jangan buat gue malu."
Prita mencubit lengan Sisil.
"Iya jangan cubit juga tapi." Bisik Sisil lirih.
"Maaf mba Prita, saya di utus oleh tuan Hilal untuk menjemput mba Prita. Tidak sesuai kesepakatan memang, karena nona Khansa jatuh sakit dan sekarang hamil. Jadi untuk sementara pekerjaan baru mba Prita di kantor di alihkan dulu untuk menemani dan membantu nona Khansa."
"M- bukannya kak Khansa isterinya kak Ramadhan?" Otak Prita loading, bagaimana tidak. Kak Khansa isteri kak Ramadhan, tapi kenapa Hilal mempekerjakannya untuk membantu dan menemani Khansa?
"Betul, nona Khansa isteri dari tuan Ramadhan. Tuan Ramadhan juga mengalami kecelakaan kemarin, jadi beliau semua ada di rumah sakit sekarang. Jika tidak ada pertanyaan lagi bisa kita bergegas sekarang? Tuan Hilal menyerahkan ini untuk ganti baju anda sekarang." Jelas Hamid dengan sabar, dan menyerahkan Tote bag berisi satu pasang baju dengan celana.
"Baiklah, tunggu 5 menit."
"Anak saya bekerja dengan tuan mulai sekarang?" Tanya Pak Parto untuk mengulik lebih dalam.
"Yang mempekerjakan tuan saya pak, nama beliau pak Hilal."
"Yang katanya membeli tanah satu komplek itu?" Pak Parto kembali bertanya.
"Betul Pak."
"Mau minum apa tuan? Saya hanya punya air putih dan Kopi." Sapa Bu Parto dengan ramah kepada Hamid.
"Maaf tidak perlu repot-repot bu, saya akan segera pamit. Karena agenda tuan Hilal sangat padat hari ini Bu."
Sekian purnama Hamid menjawab pertanyaan kedua orang tua Prita, akhirnya Prita muncul juga dari balik tirai kamarnya.
"Ayo, saya sudah siap. Pak, Mak- Prita berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum."
"Assalamualaikum Pak, Bu." Pamit Hamid.
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Prita dan Hamid berlalu pergi dari rumah petak itu.
"Ya Alla itu bibir di tutup, nanti lalat masuk semua Sisil." Ucap Bu Parto sambil menekan kedua bibir Sisil agar tertutup.
"Kapan ya Sisil punya kenalan kaya Prita gitu Bude?"
"Bude juga ga tau Prita kenalnya dimana."
"Semoga anak kita kerjaannya enak ya bu, belum mulai kerja saja sudah di kasih baju bagus begitu." Pak Parto menatap langit-langit rumah petak yang lusuh.
"Amiin semoga pak." Timpal Bu Parto.
"Pasti enaklah Pak De, memang Pak De ga lihat itu mobilnya udah licin begitu. Lalat di sini kalau menclok pasti langsung kepleset."
"Bisa saja kami Sil, ayo- bantuin Bude masak dulu. Baru kita kerja lagi."
"Yah aku pengen kerja kaya Prita Bude,"
"Jangan begitu, nanti kalau ada lowongan lagi pasti Bude tanyain ke Prita. Nanti emak kamu denger Prita punya kerjaan enak pasti minta uangnya kesini, Prita juga ga mungkin langsung di gaji."
"Iya Bude, iya."
...****************...
Sang malam melewati dengan begitu cepat, mengikis habis sisa waktu yang tersisa untuk Azka.
Jika orang lain akan menikah dadakan pasti pusing, ga bisa tidur, nervous atau belajar kata-kata ijab Qabul agar tidak salah nantinya. Hal itu tidak berlaku untuk seorang Azka.
Dia justru bisa tidur nyenyak, menghabiskan malamnya dengan Naura tidur di sofa.
Walau paginya ia bangun Naura sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Entah benar atau tidak, jika tubuh kita tidur berdekatan dengan anak kecil atau bayi. Tubuh kita merasakan rileks yang senada dengan bayi atau anak kecil rasakan. Tak ayal banyak kasus terjadi sang ibu sudah membuat planning akan cuci piring, cuci baju, sapu rumah dan mengepel. Kenyataannya ketika bayi atau anaknya tidur, sang ibu juga ikutan tidur😁🙌
"Mama, kok kita di dandanin kaya latu atau putri? Memangnya kita au apa Ma?"
"Om Azka mau menikah, katanya Naura juga ingin ketemu Mama Khansa? Mama Khansa juga ada di sana." Jelas Yuta sambil mengikat rambut Naura.
"Om Aska nikah cama mama Khansa Ma?"
"Bukan, om Azka nikahnya sama tante- siapa namanya Kak?" Yuta mendongak ke arah di mana Azka berada.
"Kinara-" Jawab Azka jutek.
"Namanya tante Kinara sayang, nanti Naura ga boleh nakal ya."
"Tantik kaya Naura ga Ma?"
"Cantik dong sayang, kalau ga cantik om Azka ga mungkin mau nikahin, hehehhe Mama bercanda sayang jangan di masukkan ke otak ya."
"Yut, nikahnya kan jam 10.00 ini masih jam 06.00 lo Yut. Yang bener aja."
"Ya ampun kak, memangnya kita ga siap-siap dulu di sana? Memangnya kita asal dateng udah beres gitu aja? Ya Allah kak, beneran masih ada waktu buat ga jadi nikah lo kak. Jangan siksa anak orang dengan sikap dingin kamu nanti. Aku memang tidak membenarkan kehamilan dia dengan orang lain, tapi kalau kakak bersikap seperti ini, sama saja kakak menyiksa hatinya dia. Yuta pernah di posisi seperti ini kak, jadi Yuta tau rasa sakitnya bagaimana. Jangan buat orang lain berpikiran jahat seperti Yuta dulu kak. Aku ga mau nangis kak, nanti make up aku luntur. Walaupun aku udah pake yang waterproof tetap aja aku ha mau make up aku belepotan."
"Mama jangan angis," Kali ini wajah Naura juga ikut sedih melihat sang ibu sedih.
"Maafkan kakak." Azka memeluk Yuta sambil menggendong Naura.
"Aku memang tidak mencintainya Yuta, jangan paksa kakak untuk bisa mencintainya. Kamu sudah tau siapa pemilik hati kakak, kakak melakukan ini semua demi Khansa. Tidak lebih dan tidak kurang." Ucap Azka masih dalam pelukan bersama Yuta dan Naura.
Yuta melepaskan pelukan itu sejenak. "I Know kak, tapi bukan berarti kakak berhak juga untuk menyakiti hati Kinara. Paling tidak hormati dia kak, itu saja. Aku sudah bilang lo kak, aku ga mau nangis. Make up nanti luntur."
"Baiklah baik, ayo kita berangkat sekarang. Paling tidak masih ada waktu untuk berbicara dengan Khansa. Sebelum akhirnya aku benar-benar berstatus milik orang lain."
"Apapun yang kakak pilih dan jalani, aku hanya bisa berdoa kakak akan selalu di limpahi kebahagiaan yang tiada tara. Amiin"
"Ayo, kita berangkat."
Azka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Yuta duduk di samping kemudi dengan memangku Naura. Di bagasi dan kursi belakang jangan di tanya, pernak pernik bingkisan dan beberapa barang sebagai pengantar penuh menjejali mobil Azka.
"Kak, pengantar dari kita cuma segini. Sedikit banget ga si kak?"
"Sudah cukup, namanya juga menikah dadakan."
Ting! Ting!
"Ada massage masuk tuh kak,"
"Biarkan saja, nanti sampai rumah sakit baru aku buka." Jawab Azka yang masih fokus di balik kemudinya.
"Aku baca ya kak, siapa tau penting." Yuta menawarkan diri.
"Ya- baca saja."
Mimik wajah Yuta langsung berubah ketika membaca massage yang masuk itu.
"Kak, tepi dulu kak. Ini massage penting yang harus kakak baca."
Tanpa perlawanan Azka langsung menepikan mobilnya, dan langsung meraih ponselnya, membaca massage yang masuk.
"Assalamualaikum dokter Azka, ini aku Kinara.
Setelah semalaman suntuk aku berpikir. Sepertinya aku salah, terlalu memaksakan kehendak untuk menikah dengan kak Ramadhan atau dokter Azka.
Maafkan aku yang sudah merepotkan kalian semua. Setelah aku pergi, aku tidak akan mengganggu ketenangan kalian lagi.
Salam maaf yang terakhir...
Kinara
"Kak, firasat Yuta ga enak kak. Aku mempunyai firasat dia mau bunuh diri, dia lagi hamil lo kak. Nanti kalau bunuh diri bahaya, bisa jadi hantu kuntilanak atau sundel bolong rumornya."
"Sama Yut, Semoga itu belum terjadi." Azka langsung tancap gas menuju rumah sakit, jika menurut rencana mereka akan melangsungkan pernikahan di masjid rumah sakit.
Bersambung...
__ADS_1