Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Hilal


__ADS_3

Hai teman-teman masih betah kan?


Nuansa romance religi?


Semoga betah terus ya


dan support lewat like dan comment disetiap bab-nya.


Happy Reading❤️❤️❤️


"Dah dari tadi beb?" Tanya Khansa yang baru duduk bersanding dengan Ramadhan.


"Assalamualaikum Fitria, Boby." Sapa Ramadhan ramah.


"Wa'alaikumsalam," Jawab Fitria dan Boby bersamaan.


"Luka belum sembuh, udah dipake pergi-pergi aja. Awas aja kalau infeksi nanti tuh." Boby mulai nyinyir dengan sikap Ramadhan yang seolah menganggap enteng lukanya.


Sementara itu Ramadhan hanya diam saja.


"Maaf, ini semua gara-gara aku yang kelaparan. Jadi terpaksa harus makan keluar."


Ramadhan dan Fitria terkejut seorang Khansa meminta maaf.


"Ga perlu minta maaf sayang, aku sudah agak lebih baik. Justru keadaanku memburuk jika melihat orang yang aku sayangi lama menahan rasa laparnya. Tanggung jawabku adalah menafkahi lahir batin menjaga dan merawat hingga ajal nanti kan."


Hem, dikasih hati langsung terobos ke jantung ke limpa ke seluruh organ dalam ini suami liar gue. Batin Khansa menggerutu.


Liar maksudnya disini adalah pembohong ya.


"Uwuh-uwuh so sweet banget si kalian berdua. Aku juga ga mau kalah sweet dong sama kalian. Buah kedondong buah srikaya,"


"Cakep!" Boby menimpali.


"Mas Boby ganteng, hanya Fitria dong yang punya, Hehehehe."


Boby hanya tersipu malu dengan rayuan pacarnya itu.


"Fitria yang punya bagaimana, tidur kamu terlalu miring deh beb. Boby yang punya ya Allah dan kedua orang tuanya lah, secara ya kan kamu belum dihalalkan sama Boby.


Yang nikah bertahun-tahun aja bisa cerai apalagi yang cuma pacaran." Khansa menimpali dengan ucapan berapi-api.


"Ya elah beb, kan aku cuma pengen sweet-sweetan aja. Aku pasti belajar dari pengalaman kamu kok beb." Sejurus kemudian Fitria menutup mulutnya. Dia keceplosan bicara, Fitria lupa jika ia sedang bersama dengan Ramadhan juga disana.


Khansa hanya bisa menundukkan pandangannya saja ketika sahabatnya itu tidak bisa mengerem arah pembicaraannya.


Ramadhan menatap Khansa penuh pertanyaan, namun juga penuh dengan rasa sayangnya.


"Jangan terlalu bertumpu dan berharap dengan sesama ciptaan Allah, karena pasti akan berujung dengan kekecewaan. Bertumpu dan berharap lah kepada Allah, insyaallah Allah tidak akan pernah mengecewakan hambanya.


Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan, apa yang terbaik untuk kita. Karena terkadang apa yang kita sangat inginkan itu, terkadang tidak baik untuk kita."


Lalu pembicaraan mereka terjeda dengan datangnya pelayan yang membawa pesanan mereka masing-masing.


Tidak ada perbincangan lagi setelah itu, mereka berempat menikmati hidangan dalam diam.


Khansa benar-benar menyukai menu bebek tepi sawah ini. Terbukti semua hidangan yang ia pesan habis tak bersisa.


"Mau aku pesankan lagi untuk makan nanti malam? Reza dan Aisyah pasti juga suka kalau kita bawakan makanan ini." Ramadhan mencoba sedikit lebih dekat dengan istrinya yang keras kepala itu.


"Hm- boleh kak, Bude dan Pakde juga ya. Ini kartu ATM ku." Khansa menyodorkan kartu atmnya untuk membayar makanan yang mereka pesan.


"Kamu jangan meremehkan suamimu Khansa, jika ia mau mungkin resto ini juga bisa ia beli sekarang," Boby menambah pelik keadaan setelah Fitria tadi.


"Jangan didengarkan Boby sayang, dia hanya bercanda. Aku tidak sekaya itu. Kekayaan hanya milik Allah semata. Bob ayo kita pesan di meja kasir bersama, aku mau ke toilet juga." Pinta Ramadhan.


Boby yang mengetahui kesalahannya hanya menurut dan mengekor Ramadhan.


"Beb?" Fitria tahu jika ada hal yang tak beres sedari ia dirumah sakit.


"Hm-" Jawab Khansa singkat sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Kamu udah lebih baik kan sekarang? Maksudku trauma kamu, dan kamu ga jadi minta ceraikan beb?" Fitria tak bisa menampik rasa penasarannya itu.


Khansa memandang sahabatnya itu sesaat, lalu menatap ponselnya lagi.


"Aku mau ke toilet sebentar Fit, kamu tunggu disini aja ya,"


Tanpa menoleh kanan kiri Khansa langsung berjalan dari meja makannya dan,


BRUGH!


"Auuu," Kepala Khansa terbentur logo pin pada jas yang pria itu gunakan.


Sontak kening Khansa berdarah, karena pin itu lumayan tajam untuk ukuran benturan.


"Makanya kalau jalan lihat- li-hat," Ucapan pria itu tersendat ketika melihat wanita yang baru saja ia tabrak itu.


Sementara Khansa memegang keningnya yang semakin lama terasa semakin perih.


"Ma-af," Suara Khansa juga tercekat ketika melihat pria yang baru saja ia tabrak.


Pria itu langsung menyodorkan sapu tangannya.


"Usap dulu, kening mu berdarah." Ucap pria sedingin es itu.


Khansa juga baru melihat ketika tangannya sudah berubah warna merah setelah menyentuh keningnya.


"Astaghfirullah sayang, kening mu terluka. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Bob, tolong urus jika bapaknya ada kerugian karena istriku. Aku akan membawa istriku untuk mengobati keningnya."


"Baiklah, hati-hati."


Pria dingin itu hanya bisa terdiam sambil memandangi punggung wanita itu berlalu pergi, hilang bersama suaminya.


"Apa yang ada yang perlu aku ganti?" Pertanyaan Boby itu membuyarkan lamunan pria es batu itu.


"Tidak perlu." Jawab pria itu dingin lalu pergi diikuti beberapa orang dibelakangnya.


Fitria yang terkejut juga hanya bisa terdiam di kursi ia duduk sambil memegangi dadanya.


ya Allah cobaan apalagi yang akan kamu berikan kepada sahabatku itu ya Rob. Tolong lindungi rumah tangga sahabatku ya Rob.


"Sayang, are you oke?"


"Hah, iya-iya aku oke kok. Kita ke klinik ya, aku akan menggantikan jadwal Khansa hari ini."


"Baiklah, aku antar sekarang." Jawab Boby tanpa curiga.


...----------------...


"Apa masih terasa sakit?" Tanya Ramadhan saat menyelimuti tubuh istrinya itu.


"Tidak usah berlebihan, keningku hanya tergores. Bukan luka dari Medan perang seperti kak Ramadhan." Jawab Khansa jutek.


Ramadhan hanya bisa tersenyum simpul, "Baiklah, kita istirahat bersama. Agar waktu Ashar tiba nanti kita sudah bangun dan shalat bersama." Tak ada jawaban dari istrinya, Ramadhan juga memutuskan untuk beristirahat merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Mata Khansa terpejam, namun hati dan pikirannya berkelana kemana-mana.


Kenapa aku selalu menjadi bahan kekacauan dalam keluarga ini.


Keluarga yang bahkan hanya tersisa aku dan adikku Aisyah.


Dan sekarang aku dan suamiku sendiri juga selalu membuat rumah tangga yang baru terhitung hari dan bulan ini selalu kacau.


Abah, Ummi andai kalian berdua masih ada


*Pasti kalian bisa menasehati dan memberi solusi dengan apa yang terjadi dan selalu menimpaku


Apa aku masih bisa layak bahagia?


Hilal, kenapa ia muncul lagi dihidupku sekarang


Sebenarnya apa yang kau rencanakan dalam hidupku ya Allah.

__ADS_1


Disaat aku mencoba memaafkan kebohongan suamiku dan mencoba menerima kehadirannya sebagai suamiku


Engkau mempertemukan aku kembali dengan orang yang juga pernah membohongiku dimasa laluku.


Jika aku harus belajar apa yang harus pelajari dari kejadian ini?


Harus kepada siapa aku bertanya?


Tak mungkin jika aku bertanya kepada Aisyah.


Aku seorang kakak, malah aku bertanya kepada seorang adik. Bukankah itu tidak lucu*?


Saat Khansa sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk, tangan Ramadhan perlahan mengelus kepala Khansa.


Tangannya juga mengabsen kedua alis Khansa.


Bibir Khansa hingga dagunya.


Sudah pasti Khansa berakting diam saja. Walau sebenarnya ia sangat ingin menampik sentuhan-sentuhan diam-diam dari suaminya itu.


"Istriku, semoga Allah memberikan kelembutan hati kepadamu. Semoga Allah memperlihatkan kamu bahwa sejujurnya cintaku sangat dalam untukmu. Akan ku tebus semua kesalahanku dengan sisa hidupku kepadamu Khansa, sayangku. Dan semoga Abi dan Umi datang nanti, kamu sudah mencintaiku sepenuh hatimu. Amiin,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Orang baik pasti punya masa lalu buruk


Orang jahat pasti juga punya masa lalu baik


Tak selamanya hitam akan terus hitam


Dan tak selamanya putih tetap putih


Kita tak akan bisa


dan takkan pernah bisa menghakimi dan membenci seseorang begitu saja.


Lihatlah kembali pada diri kita sendiri


Disaat kita menginginkan jodoh yang baik.


Apa kita sudah tergolong pada orang yang baik?


Jika kita selalu menuntut kesempurnaan pada pasangan tanpa mau melihat diri kita sendiri.


Percayalah itu semua takkan pernah kita dapatkan.


Pasangan akan berproses menuju kebaikan jika kita juga berproses menuju kesana.


Tanpa ada usaha, tidak akan ada hasil.


Tanpa ada niat, tidak akan ada pelaksanaan.


"Yang terbaik bukanlah ia yang datang dengan segala kelebihannya, tapi yang terbaik ialah ia yang tidak pernah pergi karena segala kekurangan kita,"


"Dan terkadang yang sempurna tidak slalu bahagia, tapi jika kamu dapat menerima kekurangan jadi kelebihan, itu adalah kesempurnaan yang sebenarnya ada."


...Cerbung...


...Hai semuanya!...


...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....


...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....


...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....


↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️


...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...


...~Siapakah Jodohku?...

__ADS_1


...~Obsesi Tingkat Tinggi...


__ADS_2