Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Cara Lembut Suami Menyapa Sang Istri


__ADS_3

Happy reading❤️❤️


Ku lirik tajam arloji di lengan kiriku, waktu menunjukan sudah pukul 00.10 WITA.


Aku sangat yakin, jika istriku pasti sudah terlelap.


Ku buka pintu secara perlahan, dan benar saja. Separuh jiwaku sedang tertidur di kasurnya.


Ku dekati dia, ku amati dia dari balik pintu.


Tetap saja, yang ku lihat tetap kecantikannya.


Untuk istriku tercinta...


selamat malam, mimpilah dengan indah


Laksana matahari terbit yang mengawali hari


lalu berakhir diujung malam yang gelap


Aku menyandarkan tubuhku di samping mu


Wangi semerbak dari setiap helai rambutmu


Memberikan ketenangan tersendiri untuk jiwaku


Ekspresi wajahku pasti sangat lucu


Ketika aku melihat cara tidurmu yang tak imut kali ini


Apakah istriku terlalu lelah hari ini


Dengan posisi merentangkan tangan seperti adegan wanita cantik di film Titanic


Istriku yang begitu letih ini berposisi tidur sedemikian rupa


Bukan seperti disaat aku berada di samping tubuhmu


Aku akan selalu mendekapnya, memelukmu dalam hangat yang kita miliki berdua


Bahkan yang tak kalah lucu, bibir imut milikmu itu tidak tertutup sempurna kali ini


Itu semua sudah cukup memperjelas bahwa kamu begitu lelah melewati hari ini.


Insting jahilku bergejolak


Menekan sedikit dagu lancip mu, agar kedua bibirmu bertemu dan tertutup


Tapi itu hanya sementara, bibir atas dan bawah mu berpisah lagi


Aku tersenyum geli dengan kelakuan nakal ku sendiri.


Perlahan ku cium kedua pipimu


Menyapa lembut kening dan bibirmu menggunakan jari-jariku


Istriku Khansa...


Pernah aku berpikir, mengapa harus engkau yang dipertemukan Allah denganku


Bisakah waktu diputar kembali?


Aku merasa takdir begitu menyedihkan untukmu


Terkadang aku merasa jika aku tak pantas untukmu Khansa...


Entah bagaimana aku bisa merubah setiap kesedihan menjadi kebahagiaan untuk hidupmu


Sungguh, aku begitu mencintaimu Khansa...


Walau hadirnya aku dihidup mu, menorehkan luka yang begitu dalam pada ragamu


Kelam pada harapan yang inginku kikis menjadi kebahagiaan


Aku tak ingin memadamkan cinta yang berkobar


Aku hanya ingin menyiram setiap luka yang ada


Ketika aku merasa begitu siap untuk menghabiskan hari bersamamu

__ADS_1


Selalu saja ada tugas yang begitu rapat yang harus terus ku kerjakan


Sabar,


Sabarlah sayang


Tak lama lagi aku tidak akan diposisi seperti ini terus


Sebulan lagi, ya- hanya sebulan lagi


Aku akan memperlihatkan jati diriku dan keluargaku yang sebenarnya, termasuk Reza sayang.


Maafkan aku yang belum bisa menceritakan sepenuhnya siapa diriku, dan keluargaku


Aku tidak akan pernah lupa


Bagaimana Allah mempertemukan ku denganmu


Dan bagaimana Allah membuatmu berjodoh denganku


Baiklah, mari kita saling merengkuh setiap kepingan-kepingan kepedihan di setiap masing-masing pada kehidupan kita dimasa lalu


Semoga Allah selalu membimbing kita untuk tetap berjalan dijalan kebenaran.


Naluri seorang suami kepada istrinya tak dapat dibendung lagi. Tak sadar aku mencium dalam bibirnya yang begitu ranum.


Khansa menggelinjang, karena ia merasa bibirnya basah. Dengan jiwa yang belum berkumpul penuh, Khansa mengelap bibirnya yang di alam bawah sadarnya terasa begitu basah. Khansa panik, mengira ia ngiler saat tidur. Namun saat Khansa membuka matanya bulat-bulat, ternyata iler hidup yang sudah membasahi bibirnya.


"Kak Ramadhan sudah datang?" Khansa berniat akan bangun dari posisi tidur telentang itu. Namun Khansa juga sibuk menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Tunggu, ku mohon diam saja sejenak sayang. Aku masih ingin memelukmu seperti ini beberapa menit kedepan." Ramadhan membenamkan wajahnya di dada Khansa yang berukuran 34 D itu.


"Tapi kak," Khansa merasa tak nyaman dengan posisi seperti ini.


Ramadhan tak bergerak barang satu centimeter, "Apa kamu tidak rindu suamimu yang tampan ini? belahan bumi dan langit seperti ini masa disia-siakan?"


Wajah dan bibir mereka begitu dekat, hanya tinggal beberapa centimeter, mengikis jarak secara perlahan.


"Maaf kak Ramadhan, tapi perutku terasa tidak nyaman jika posisi seperti ini."


Mendengar kata perut, Ramadhan langsung bangun dari posisi manjanya itu. "Maaf-maaf sayang, apa sekarang sudah lebih nyaman perutnya?" Wajah cemas Ramadhan sangat terlihat.


"Sudah sayang, ini sudah lebih baik. Aku malu sayang, wajahku sekarang pasti jelek." Ucap Khansa masih dengan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kesukaanku martabak spesial sayang, apa sayang lupa pesan yang spesial sama akang dagangnya?" Ucap Khansa sambil mengikat rambutnya yang terurai lalu menggunakan jilbab simpel berwarna putih.


"Bagiku yang spesial hanya kamu seorang sayang," Ramadhan terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Hm- ga lucu deh kak, Oia kak Ramadhan mau nyobain Opor Ayam buatan Khansa tadi siang ga? Kalau mau, biar Khansa angetin dulu Opornya. Tapi nanti sayang jujur ya- kalau enak bilang enak, kalau ga enak bilang ga enak. Jangan seperti waktu kak Ramadhan minum teh rasa asin, tapi sayang diam saja." Khansa terlihat begitu antusias, ia ingin melihat ekspresi suaminya pertama kali memakan masakannya.


"Iya sayang, tadi Riko bilang sih sudah lumayan rasanya. Aku shalat Sunnah dulu ya sayang, setelah itu baru nyusul sayang ke dapur."


"Oke sayang, aku ke dapur dulu ya-"


***


"Astaghfirullahhaladzim!" Khansa begitu terkejut, saat ia dengan santai memasuki pintu dapur. Langsung disuguhkan dua sosok makhluk ciptaan Allah tengah makan bersama dalam satu piring saling menyuapi satu sama lain. Dan tanpa merasa berdosa, mereka justru memasang wajah nyengir kuda.


"Beruntung jantungku ga copot, ga suara apa-apa tapi taunya ada yang lagi suap-suapan disini." Khansa masih dengan setia mengelus-elus dadanya yang baru saja mengalami senam jantung dadakan. Meraih mangkuk anti panas, memindahkan opor ayam kedalam wadah, lalu memasukannya kedalam microwave.


"Enak ga dek opornya?" Khansa meminta pendapat Aisyah yang terlihat lahap makan.


"Enak kak, enak banget. Kakak keren, batu belajar sekali udah enak masakannya." Puji Aisyah kepada kakaknya.


"Aku kurang setuju sayang, kita berdua makan lahap karena habis olahraga malam. Jadi terkesan kita sangat doyan, padahal karena kita memang benar-benar sedang lapar." Ledek Reza sambil melirik teman, sekaligus kakak iparnya itu. "Mas Reza," Aisyah mencubit perut suaminya yang pipinya denok deplung itu.


Ting! Khansa mengeluarkan opor ayam yang sudah hangat dari microwave.


"Jangan suka meledek istriku, ingat! dia itu kakak ipar kamu lo Reza." Ramadhan menghampiri istrinya, lalu mencium kening istrinya itu didepan Reza dan Aisyah.


"Hm- sayang, ayo cepat minum air putihnya. Kita harus segera kembali ke kamar, karena ada pasangan bucin yang mau makan." Ucap Reza asal sambil bersiap mendorong kursi roda Aisyah.


"Itu yang ngomong ga nyadar, pasangan bucin juga apa ga?" Ramadhan kembali meraih pinggang istrinya lalu kali ini, mencium pucuk kepala istrinya.


"Iya deh iya, kabuuurr..."


Reza dan Aisyah sudah kembali ke kamar mereka, Ramadhan dengan tenang menikmati semangkuk Opor Ayam ditemani sepiring nasi.


"Bagaimana kak? Enak?" Khansa masih penasaran dengan komentar suaminya.

__ADS_1


"Alhamdulilah sayang, beneran enak. Terima kasih banyak sayangku, yang lelah pasti bagian sini ya sayang? Nanti dikamar aku pijit ya." Opor Ayam dan nasi telah tandas, habis tak bersisa.


"Kalau Umi lihat sayang makan seperti ini, pasti Umi bahagia sekali." Saat meminum air putih disesi akhir Ramadhan melirik sang istri.


"Jangan mulai melantur ngomongnya, istirahat yuk." Ramadhan mencuci bekas makannya di wastafel lalu meletakan piring-piring bersih kembali di rak piring.


Ramadhan merengkuh tubuh istrinya dalam sekali cakupan, kini Khansa berada di gendongan Ramadhan menuju ke kamar.


Secara perlahan dan lembut, Ramadhan meletakan tubuh sang istri kembali ke empuknya sang kasur.


"Terima kasih," Wajah Ramadhan terlihat begitu berbinar, menatap mata teduh sang istri. "Baca doa lalu kita istirahat ya."


Cap cip cup kembang kuncup


Ramadhan nakal, sosor sana sosor sini kaya angsa.


Haduh, apaan si- ga nyambung.


Ramadhan mencium kening, kedua pipi, bibir, lalu Khansa membalasnya dengan mencium punggung tangan Ramadhan.


Lampu ruangan dimatikan, lalu digantikan lampu sang tidur.


...****************...


Mentari pagi bersinar, setia menemani langkah-langkah kecil Yuta untuk menghentikan Taxi. Yuta tak ingin jika ia terlambat menuju bandara, hari ini benar-benar hari keberuntungan terakhirnya di Singapura.


Megahnya bandara negara singa keluar air dari mulut ini menyapa matanya yang mengedar menikmati sekeliling. Seluruh rangkaian yang harus ia lewati sebelum menaiki pesawat juga sangat mudah ia hadapi.


Damn! Anjim! Parah! Dari sekian juta jiwa, kenapa aku harus duduk di kursi sebelah Hilal! Kenapa ia bisa berada di Singapura? Akh! Apa yang harus ku perbuat? Hadapi atau tinggalkan penerbangan ini? Arrrgh!


Baru saja aku berbalik badan, hendak turun lagi dari pesawat ini. Tiba-tiba pramugari cantik mengucapkan salam manis kepadaku, menilik tiket yang ku pegang. Ia meraih tanganku berjalan mengarah dimana Hilal juga duduk disana.


Ah- Beruntung aku membawa kaca mata besar hitam ku, setidaknya Hilal pasti tidak akan mengenaliku. Tapi lagi-lagi itu hanya angan belaka, suara beratnya mengagetkanku, membuat jantungku hampir lepas dari gantungannya.


"Untuk apa kamu kembali ke Indonesia lagi? Mau menyakiti Khansa lagi? Aku tak akan tinggal diam jika itu terjadi lagi!" Mulut Hilal berbicara kepadanya, namun matanya tetap fokus pada majalah bisnis dihadapannya.


"Satu! Aku masih punya rumah di Indonesia.


Dua! Aku tidak akan menyakiti Khansa, justru aku akan minta maaf dan berterima kasih kepadanya.


Tiga! Anggap saja kita bersikap seperti orang yang tidak pernah kenal sebelumnya.


Empat! Terima kasih dan jangan bicara kepadaku lagi."


Yuta membuang pandangannya kearah luar jendela yang berada di sisi kanannya. Terlihat beberapa pekerja melambaikan tangan, memberikan tanda perpisahan terakhir dan sepucuk doa selamat sampai tujuan.


Perjalanan 3 jam telah ditempuh, kini Hilal dan Yuta telah tiba di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.


Hilal langsung dijemput oleh Hamid dan para pengawal lainnya, sedangkan Yuta memilih berdiri sejenak ditepi jalan. Menunggu Taxi online yang ia pesan tiba menjemputnya.


Akh--- Khansa kapan kita bisa baca novel bersama lagi


Kapan kita nongki-nongki makan bareng dan nonton film bareng lagi


Kapan kita bisa merangkul satu sama lain lagi, berjalan bersama ditepi jalan sambil bercerita tentang cita-cita kita lagi


Kapan bahu yang kamu miliki itu bisa berdiri tegak menerima kesedihanku lagi


Aku malu Khansa...


Aku malu kepadamu


Tak salah jika Tuhan selalu memberi pria yang selalu dan sangat mencintaimu


Karena kamu berhati putih dan sangat pantas mendapatkannya


Maafkan aku Khansa...


Maafkan aku...


Air mata jatuh begitu saja membasahi pipi putih Yuta yang bertabur blush on tipis itu.


"Gek, sudah sampai. Apa benar yang ini rumahnya?" Pertanyaan sopir Taxi Online itu membuyarkan lamunan kesedihannya.


Yuta sengaja turun dirumah Hilal, ia ingin mengambil potongan-potongan bajunya yang masih banyak tertinggal disini. Beruntung para satpam dan pembantu masih mengenali dirinya, dengan mudah ia masuk ke rumah besar itu. Perlahan Yuta berjalan menuju bekas kamarnya dulu, namun langkahnya tertahan ketika melihat sekaligus mendengar Sinta tengah sibuk berbincang ditelepon bersama seseorang.


📞Baiklah, kamu atur saja. Khansa pasti melakukan kegiatannya sesuai jadwal, telepon saja. Bilang jika suaminya ingin bertemu dengannya di kantor polisi, dengan begitu ia pasti akan segera menuju lokasi. Jika sudah berada dititik lokasi, itu sudah menjadi negosiasi dan urusanku sendiri. Tugas kamu hanya membawa barang itu kedalam pangkuan Khansa.


"Apa yang sedang kamu rencanakan kepada Khansa, Sinta?" Suara Yuta membuat Sinta kaget bukan kepalang.

__ADS_1


Bersambung...


Hai para readers Ramadhan Imamku, jangan lupa untuk selalu like dan comment di setiap bab-nya yah, agar aku makin semangat menulis episode selanjutnya. Salam sehat dan bahagia selalu untuk kita semua🙏🙏🙏


__ADS_2