Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kebahagiaan yang hakiki


__ADS_3

Gelak tawa memenuhi kediaman Maholtra, kedua keluarga telah berkumpul di sana. Termasuk pengantin baru, yang beberapa jam lalu sah menjadi sepasang suami-isteri. Mereka berdua memilih bermalam pertama di rumah, bukan di hotel-hotel mewah seperti kebanyakan orang. Bukan tanpa alasan, keduanya melakukan itu. Aira ingin, malam pertama mereka dilalui bersama keluarga besar. Bukan hanya berdua dengan Suraj.


Awalnya Suraj tidak setuju, alih-alih ia sudah mendambakan momen itu dari lama. Setelah benar terjadi, Aira justru mengambil keputusan yang tak bisa dibantah olehnya.


"Kalian ini lucu, ya? Bukannya nyicil bikin adonan anak, malah gabung sama kita-kita, para sesepuh kek gini!" seloroh Maholtra, mewakili pertanyaan mereka.


"Kasihan Suraj, dah ngebet pengen belah duren tuh!!!" timpal Yuni, menggoda anak lelakinya. Mereka semua tertawa, melihat ekspresi keduanya yang kikuk.


"Lagian, kan masih banyak waktu, Mi. Aira kangen kalian, kangen pengen kumpul kek gini," sahut Aira, menatap haru satu persatu keluarganya.


"Iya, Sayang. Mami juga kangen kamu," sambut Yuni, matanya mengembun. "Bahkan, tiap malam mami selalu berdoa, semoga Tuhan mempertemukan kita lagi. Mami gak nyangka, akan secepat ini Tuhan mengabulkan doa mami." Yuni, menggenggam erat tangan menantunya. Wanita yang bisa menggetarkan jiwa anak lelaki satu-satunya. Yang susah untuk mengenal wanita, paska putus dengan mantan pacarnya.


Lain dengan Citra, yang hanya diam seribu bahasa. Mengingat kejahatannya yang lalu. Wanita itu bahkan tak kuasa memperlihatkan wajahnya di depan mereka.


"Ini semua gara-gara mami. Andai mami tidak serakah, kamu gak akan menderita, Sayang," timpal wanita yang duduk di sebelah kanannya.


"Mi, Aira udah lupain itu. Jangan diingat-ingat lagi, ya?" Aira merangkul pundak Citra, tak ingin melihat wanita itu bersedih.

__ADS_1


"Iya, Bu Citra. Semua yang sudah berlalu, jadikan pelajaran untuk kita. Untuk melangkah, agar selalu berhati-hati," timpal Maholtra, bijaksana. "Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Hanya saja, bagaimana caranya kita memperbaikinya."


Haru, bahagia, itu yang dirasakan oleh Citra maupun Aira. Mereka bersyukur bisa diterima dengan baik di keluarga Maholtra. Terlepas masa lalunya yang buruk. Semua itu tak menjadi penghalang jarak antara mereka.


"Udah, cukup melow-melownya. Udah malam, mami ngantuk mau istirahat." Mawar menengahi, diantara mereka dia yang sangat beruntung. Memiliki kebahagiaan, yang ia sendiri tidak pernah membayangkannya. Mawar pikir, setelah Aira tahu siapa dirinya. Wanita itu tak akan menerimanya lagi. Apalagi, dengan jelas ia meninggalkan Aira saat masih bayi. Yang mana masih butuh kasih sayang darinya, saat itu. Ternyata ia salah, Aira cukup berbesar hati menerima dirinya sebagai ibu kandung yang tak pernah dianggap ada. Itulah, kebahagiaan yang selama ini impikan. Bisa memeluk kembali putri kecilnya.


"Setuju, mami juga dah ngantuk," timpal Yuni, mengerlingkan mata pada suaminya.


"Iya, papi juga mau sayang-sayangan sama mami, iya kan Mi?" canda pria paruh baya itu, mendapat tatapan tajam dari sang istri.


Satu persatu dari mereka beranjak, mulai meninggalkan ruangan keluarga. Tinggal Aira dan Suraj, yang sengaja pergi belakangan.


"Sayang, kamu gak mau ke kamar nih?" tanya Suraj, menunggu Aira bangkit. Namun, tak ada tanda-tanda Aira beranjak dari sana.


Aira yang saat itu gugup, bingung harus melakukan apa. "Em, iya Sayang. Sebentar lagi, ya?" jawabnya, mengangguk.


Suraj tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. Tak ayal, ia pun mendekatinya. Memberi ruang, untuk wanita itu mencurahkan isi hatinya. "Sayang, aku gak akan memaksa. Kalau kamu belum siap, malam ini," ucapnya, menatap lekat wajah Aira yang terlihat pucat. "Jangankan menunggu kamu siap, menunggu kamu tiga tahun aja aku bisa. So, gak usah khawatir, ya? Kita tidur sekarang."

__ADS_1


Suraj berdiri lebih dulu, mengulurkan tangannya untuk Aira. Cukup lama untuk memikirkan itu, dengan terpaksa Aira menyambut uluran tangan dari sang suami. Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar.


Jantung Aira berdegup sangat cepat. Tak seperti biasanya, tulang-tulang dalam tubuhnya seolah melebur. Menciptakan hawa panas dalam dirinya. Apalagi, saat Suraj mengalungkan kedua tangannya ke pinggulnya. Dengan tatapan penuh damba.


Desir darahnya mengalir deras, dari ubun-ubun ke kaki. Gugup, gelisah, mendera jadi satu. Statusnya sebagai istri, akankah berawal dari malam ini.


Gejolak memburu masuk ke tubuh Suraj, saat bibir mereka saling menempel. Geleyar aneh mulai menguasai dirinya, seolah menuntut lebih dari itu. Dalam hitungan detik, mereka menyatu dalam cumbu mesra khas pengantin baru. Meski masih malu-malu, keduanya menikmati masa-masa itu.


Lenguhan kecil tercipta dari keduanya, menikmati gelora dalam setiap detiknya. Menuntun Suraj untuk mulai menjajaki tubuh mulus istrinya yang masih terbungkus rapi dres tidur.


Keduanya saling melepaskan pangutan, mencari celah udara agar bisa masuk ke paru-paru. Yang sempat kehabisan oksigen, deru napasnya menghangat, menyapu kulit wajah keduanya. Seulas senyum malu-malu menghiasi bibir mereka.


"Terimakasih ya, Sayang. Udah menungguku kembali." Dikecupnya kening Suraj penuh kasih sayang. Aira merasakan kebahagiaan yang tiada Tara, malam itu.


"Stttt, kamu gak boleh ngomong itu lagi, Sayang. Biarlah, waktu yang akan menjawabnya nanti. Sampai kapan, cinta ini bersemi di hatiku. Kamu akan tahu, Sayang."


Ungkapan itu mengandung makna yang dalam. Seolah menjadi pertanda, masih akan ada badai yang menyertai perjalanan cinta keduanya. Mereka percaya, cinta mereka tak akan lekang oleh waktu. Tak akan terbatas oleh jarak, tak akan goyah dengan badai. Akan tetap, kekal. Hingga mautlah yang memisahkan.

__ADS_1


__ADS_2