Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Akal busuk Citra


__ADS_3

Seorang pria meringis kesakitan memegangi tengkuknya yang terasa berat. Akibat pukulan yang dilakukan Suraj, membuat pria itu merasakan nyeri yang luar biasa. Di tambah, luka lebam yang ada di beberapa titik tubuhnya. Menyempurnakan penderitaan Raka.


"Sial!!! Sakit banget ini, mah!" umpatnya, tertatih meraih segelas air putih di atas meja. "Brengsek kamu, Suraj. Kamu menggagalkan rencanaku."


Mangsa yang sudah ada di depan mata, terpaksa harus lolos karena ulah pahlawan kesiangan itu. Rumah yang berantakan, semua berserakan di lantai. Semaksa Raka untuk segera membereskannya. Sebelum Citra datang, dan curiga padanya.


"Kemana wanita ****** itu? Gue sakit kek gini, bukannnya nemenin. Malah pergi semalaman gak pulang, dasar ******!!!" Raka mengumpat kesal.


Belum juga beranjak dari tempat itu. Orang baru saja ia katai berjalan sempoyongan dari balik pintu ruang tamu. Dengan mulut yang meracau, khas orang mabuk.


"Akhirnya...." Citra mengambil benda dari dalam tasnya. "Aku akan segera memiliki harta kamu!!!!" Sembari tertawa lepas, menyemburkan kertas yang diapit map berwarna biru. "Tinggal selangkah lagi, aku bisa memiliki semuanya."


Melihat hal itu, Raka pun mendekat. Menghampiri wanitanya yang ada dalam awang-awang.


"Kamu kenapa, sayang?" Raka bertanya, mengajak Citra duduk di sofa. "Orang suruhan kita sudah berhasil membuat surat kuasa penyerahan semua harta warisan Abdullah ke tangan kita," racaunya tertawa lepas. "Sebentar lagi, semua akan menjadi milikku," sambung Citra memandang wajah Raka, dengan pandangan tidak jelas. Tak berapa lama, tubuhnya linglung. Jatuh dalam dekapan pria itu.


"Sayang, kamu kenapa?" Raka menepuk-nepuk pipi Citra, yang tak sadarkan diri.


************


Seorang wanita terbaring lemah di ranjang. Dengan mata yang masih terpejam. Hangatnya mentari, tak mampu mengusik tidurnya. Tak berapa lama,pintu kamar terbuka. Suraj dan Yuni membawakan Susi hangat untuk wanita itu.


"Kayaknya Aira belum bangun. Kasihan dia, semalam gak bisa tidur dengan baik." Yuni duduk di samping ranjang, dengan tangan yang mengelus lembut wajah Aira. "Dia pasti trauma, atas apa yang menimpanya, semalam."

__ADS_1


Suraj ikut duduk di sebelahnya. Menyusuri tubuh kecil itu yang masih terbungkus selimut tebal. "Papi, punya solusinya, Mi. Tapi, itu semua tergantung Aira," timpal Suraj, beralih memandang Yuni.


Mendengat suara berisik dari sampingnya. Aira mulai terjaga, matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka. "Aku dimana?" Aira mengedarkan pandangannya, bingung merasa bukan berada di kamarnya.


"Suraj, mami Yuni," lirih wanita itu, menunduk lesu. "Maafin aku, sudah membuat kalian repot." Aira mulai beranjak duduk, menyenderkan kepalanya di dinding ranjang. Dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.


"Gak, sayang. Kami tidak merasa kerepotan," sahut Yuni, merangkul pundak wanita itu. "Mami justru senang, kamu ada di sini."


"Sayang, kamu minum susu hangatnya dulu, ya? Biar lebih tenang." Dengan sigap, Suraj memberikan segelas minuman itu kepada Aira. "Kamu gak usah takut, ada kami di sini. Yang akan membantunya kamu," sambung Suraj, yang ikut menenangkan kekasihnya.


"Untuk sementara, kamu tinggal di sini. Gak usah pulang dulu," usul Yuni yang masih tak terima, jika Aira kembali ke rumahnya.


"Makasih, Mi."


*************


Matahari sudah mentereng di singgasananya, Citra dan Raka baru saja bangun. Panggilan alam yang mengusik tidur mereka. "Laper," keluh Citra, dengan tubuh yang masih linglung.


"Ra!!!!!" serunya, memanggil Aira. Wanita itu tidak sadar, kalau hari sudah siang.


"Kamu nyariin siapa, sayang?" tanya Raka, mengerjap-ngerjap.


"Aira. Siapa lagi?" Citra mengkerut heran. "Kenapa wajah kamu memar-memar, gitu?" Citra memandang aneh Raka.

__ADS_1


"Semalam, aku di serang sama si brengsek Suraj," jawab Raka jujur.


"Kok bisa?"


"Biasalah, sayang. Mereka berbuat mesum di rumah ini. Aku tegur, eh malah di pukulin sama si brengsek itu," jawabnya, kali ini tak berkata jujur.


"Astaga, mereka sangat keterlaluan. Untung, aku udah berhasil menyingkirkan Aira dari sini. Sebentar lagi, aku akan mengusirnya dari sini. Gak mau memelihara benalu di rumah ini!" Citra meremas tangannya, menumpahkan keluh kesahnya di sana.


"Kamu hebat, sayang?" Raka kembali memeluknya.


Orang suruhan Citra sudah berhasil membuat dokumen surat kuasa, yang nantinya semua harta warisan Abdullah akan menjadi miliknya. Dengan syarat, Aira mau menandatangani dokumen itu.


Untuk mengelabuhi Aira. Dokumen itu akan disisipkan diantara dokumen gugatan cerai, yang akan dilayangkan Raka pada Aira. Dengan begitu, Citra akan sangat mudah mendapatkan tanda tangan dari anak tirinya itu.


"Mana Aira? Aku sudah gak sabar ingin cepat memberikan dokumen itu padanya?" Citra bangkit dari ranjang, diikuti oleh Raka.


"Sayang, Aira gak ada di rumah." Raka menjawabnya dengan sedikit gugup.


"Kemana?"


"Di bawa Suraj pergi," jawab Raka lagi.


"Apa yang terjadi? Kamu gak berbuat apa-apa sama wanita itu, kan?" tuduh Citra, dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2