Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Dituntut


__ADS_3

Usai mengantarkan Aira pulang, Suraj gegas kembali ke rumah. Dua bahkan melewatkan jatah makan malamnya bersama keluarga, hanya demi menunggu gadis itu menutup cafenya. Sudah ia duga sebelumnya, kalau Raka dan Citra tidak akan pulang tepat waktu.


Siraj harus menyiapkan diri dengan omelan papi dan maminya. Handphone dimatikan, bahkan ia tak mengabari mau pergi kemana.


Sesampainya di rumah. Mobil diparkiran oleh satpam yang masih berjaga.


"Makasih ya, Bang." Suraj lekas beranjak, masuk ke dalam.


Lampu di ruang tamu sudah padam. Artinya, untuk malam ini Suraj aman. Tidak mendengar ocehan dari maminya. Dengan santai ia berjalan. Baru juga menginjakkan kakinya di lantai ruang tamu, Suraj harus dikejutkan dengan lampu yang tiba-tiba menyala.


Dengan menggaruk tengkuknya, Suraj tersenyum getir. Dengan sorot mata yang tajam, wanita paruh baya yang mengenakan dres tidurnya berjalan ke arahnya. Siap untuk mengintrogasi dirinya.


"Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang?" tanya wanita itu dengan tatapan membunuh.


"Hehehe, Mami. Belum tidur, ya?" Suraj bergelayut manja di lengan wanita itu. Mencari pembelaan, agar bisa selamat dari maminya.


"Mami tanya, Suraj? Ayo, jawab!" Yuni memicingkan sebelah alisnya.


"Itu lo, Mi. Biasalah, tadi nongkrong sama temen-temen." Suraj berusaha santai menjawabnya. Dia tidak mau, maminya semakin curiga.


"Kamu ini, bukannya nyari istri. Malah nongkrong gak jelas sama temen-temen kamu!" Imel wanita itu, menghempas pelan tangan Suraj.


"Ah Mami ini, pasti ngomongnya gitu. Bosen lama-lama," balas Suraj dengan menggerutu.

__ADS_1


Yuni menggeleng. Entah berapa kali mereka berdebat tentang masalah yang sama. Suraj adalah putra satu-satunya, yang akan mewarisi semua aset milik keluarga. Khawatir, kalau pria itu akan salah memilih wanita, untuk dijadikan strinya.


Sudah belasan anak dari rekan bisnis suaminya yang dikenalkan pada Suraj. Tidak ada satu pun yang cocok. Uang klik dihati anaknya.


"Suraj, kamu ini sudah tua. Gak malu masih melajang terus?" Yuni menyindir anaknya.


"Aduh, Mi. Umur Suraj baru dua puluh sembilan tahun. Belum tua, Mi. Masih kinclong gini, kok." Suraj membela diri. Dia paling anti, dikatakan tua oleh siapa pun.


"DUA PULUH SEMBILAN TAHUN, SURAJ!!!?" geram Yuni yang mulai kesal. Wanita itu iri dengan teman-temannya yang sudah memamerkan cucu-cucu mereka. Sementara dia, jangankan cucu. Menantu saja belum punya. Sungguh memalukan.


"Ya ampun, Mi. Santai dong! Nanti kalau udah waktunya, pasti datang kok Mi. Gak usah buru-buru. Sambil memilih, mana yang klik di hati." Suraj tersenyum kuda. Menenangkan maminya.


"Lagian, Suraj udah menemukan wanita yang membuat hati Suraj bergetar," sambungnya, membayangkan Aira yang tersenyum malu, saat ia goda. "Dia itu gadis yang sederhana."


Mendengar hal itu, wajah yang tadi penuh kekesalan. Sedikit melebur. Yuni langsung mendekati Suraj, yang sudah sampai di depan kamar. "Kamu serius, sayang?" tanyanya bersikap manis.


Pria itu tampak buru-buru menghampiri mereka. "Ada apa ini, Mi?" tanya Pria keturunan negeri Taj mahal, panik.


"Itu Pi, anak kita." Yuni kegirangan mendengar kabar baik itu. Tak sabar, ingin secepatnya mengenal gadis yang di maksud Suraj.


"Mami, apaan sih!" seloroh Suraj, dengan tatapan tidak suka. "Pake ngomong-ngomong sama Papi. Lagian belum jelas, Mi." Raut wajahnya nampak berubah sayu. "Udah, ah. Suraj mau tidur dulu. Good night Mi, Pi."


Suraj melambaikan tangannya pada kedua orang yang sedang menatap bingung, pintu yang sudah di tutup rapat olehnya.

__ADS_1


"Suraj, buka!!!" teriak Yuni menggedor pintunya. "Suraj, Mami mau kamu bawa pulang gadis itu!!" sambungnya masih dengan nada tinggi.


"Udahlah, Mi. Ini udah malam, gak baik teriak-teriak begini. Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Maholtra, menarik tangan istrinya pergi.


********


Pagi-pagi sekali, Suraj sudah bangun dari tidurnya yang singkat. Semalaman, dia tidak tidur. Kepikiran dengan Aira. Bayangan gadis itu, selalu menyusup dalam setiap aktivitasnya. Menguat dua sedikit takut. Takut, patah hati. Jika Aira tetap menolaknya.


"Suraj," panggil Yuni, yang baru saja melihat dirinya.


Kening Suraj mengkerut, menggaruk kepalanya. "Apa, Mi?"


"Mau kemana?" Wanita biru bergegas menarik tangannya, diajak duduk di meja makan. "Sekarang ceritakan sama mami. Beneran kamu punya pacar?" tanya Yuni dengan wajah penasaran.


"Aduh Mi, Suraj belum pacaran sama tu cewek. Masih di awang-awang," celetuknya kesal. "Makanya, Mami doain deh. Buat Suraj bisa meluluhkan hatinya."


Yuni menepuk jidat. Kasihan dengan anaknya. Yang kurang beruntung dalam urusan asmara. Sekalinya suka sama wanita, berujung menyedihkan. Cinta tak dapat memiliki. Dan kini, harus terulang lagi. Apa sih dosanya Suraj. Hingga kesulitan mencari pendamping hidup.


"Ya udah, kamu kasih liat fotonya," ucap Yuni dengan nada memaksa.


"Untuk apa sih, Mi!"


"Udah, kasih liat aja!" Yuni merebut paksa ponsel Suraj yang ada di saku. Kemudian, menyerahkannya pada pria itu. "Yang mana fotonya?"

__ADS_1


Dengan terpaksa, Suraj memberitahu. Foto Aira pada maminya. Berharap, wanita itu suka dan tidak protes.


Begitu melihat foto gadis itu. Wajah Yuni langsung berubah.


__ADS_2