
Setelah melakukan interaksi lewat ponsel mereka. Raja dan Citra janjian di tempat yang sudah mereka sepakati. Dan di saat itulah, Raka harus mencari alasan yang tepat. Agar Aira tidak curiga padanya.
"Sayang, aku ada kerjaan penting. Maaf ya, gak jadi anterin kamu!" seru Raka saat masih bersama dengan istrinya.
Aira termasuk hangat, sungguh pria yang sempurna di depan matanya ini. Selain tampan, Raka juga bertanggung jawab. Memberikan nafkah untuknya. "Iya, Mas. Aku malah seneng, kalau kamu bisa kerja."
"Makasih ya, sayang." Raka mengecup kening Aira, sebelum meninggalkan wanita itu.
Untuk mengelabui Aira, Citra berangkat lebih dulu. Menunggu di tempat janjian mereka.
"Lama banget sih, Raka. Sebel deh." Wanita itu menggerutu kesal di dalam mobil. "Mama panas lagi, huhhh."
Tak berapa lama, seorang pria yang mengenakan motor ninja datang dari arah lain. Berhenti tepat di samping mobil yang di tumpangi Citra.
"Nah itu dia!" Citra tersenyum manis menyambut kedatangan berondong kesayangannya. "Kok lama sih, Yang." Tanpa segan, Citra langsung menghambur dalam dekapan Raka.
"Maaf, sayang. Aku harus menyakinkan Aira dulu. Agar dia gak curiga." Raka membalasnya, mengecup pucuk rambut Citra berulang-ulang kali. "Kita langsung berangkat?" ujar Raka dengan nada bertanya.
"Kita mampir dulu ya ke apotik langganan aku. Mau beli obat, penguat stamina. Aku gak mau hanya melakukannya sekali. Kayak tadi malam." Citra menggerutu, tidak puas dengan pelayanan Raka semalam.
"Hmmm iya sayang." Raka mulai menghidupkan mesin mobilnya. "Sayang, aku butuh sesuatu ini!" sambungnya, sedikit segan.
"Uang?" sambar Citra, yang langsung mengerti arah pembicaraan Raka.
"Iya, sayang. Kamu gak mau Aira curiga kan? Kalau aku sebenarnya tidak bekerja, tapi ajeb-ajeb sama kamu." Raka melirik nakal ke arah Citra. Mendapat cubitan kec dari wanita itu. "Arggh, sakit sayang."
"Ya kamu nakal, sih! Kamu butuh cash apa transfer?"
__ADS_1
Raka berpikir. "Cash aja," jawabnya yakin.
"Lima juta, cukup?"
"Cukup, sayang." Raka tersenyum lebar. Matanya langsung hijau mendengar rupiah akan masuk ke kantongnya.
"Ok, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa, sayang?" Raka mengerutkan keningnya.
"Kamu harus buat aku puas, siang ini."
Sebuah syarat yang mudah untuknya. "Itu mah gampang."
"Hahahaha.
Citra memang memiliki hypersex, kelainan itu susah ia alami sejak dulu. Jauh sebelum mengenal Raka, saat masih menjadi istri Abdullah. Papinya Aira. Karena penyakit yang menyerang pria itu, membuat hasrat Citra tidak terpenuhi. Terkadang, ia harus bermain solo untuk menuntaskannya.
Akan tetapi, saat Abdullah meninggal. Wanita itu mulai mencari kepuasan sendiri, dengan cara membayar berondong yang bis memuaskan dirinya. Kebanyakan dari berondong itu, tidak bertahan lama. Paling lama hanya satu bulan. Dan Raka lah pemecah rekornya. Karena dia sendiri juga memiliki kelainan yang sama. Tidak akan kuat, jika menahan terlalu lama hasratnya.
Saat sedang dalam perjalanan menuju hotel. Raka menangkap sesuatu yang aneh. Sejak, ia menggerakkan mobilnya tadi. Mobil sedan berwarna putih, seperti mengikutinya. "Sayang, kayaknya ada yang ngikutin kita deh!" seru Raka yang mulai curiga.
"Siapa sayang?" Citra menoleh ke belakang. Menurutnya tidak ada yang aneh. Lazimnya jalanan Jakarta yang ramai. Mobil pun berjejer memanjang ke belakang. "Gak ada, kok!" sambungnya yakin.
"Mobil sedan putih dengan plat nomor B. ***** Kl, dari tadi ngikutin kita." Raka berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
"Itu cuma perasaan kamu, sayang. Udahlah, buruan tancap gas. Aku udah gak sabar," ujarnya menggigit bibir bawah.
__ADS_1
Seperti yang di perintahkan oleh Citra, Raka mempercepat laju kendaraannya. Hingga tak memakan banyak waktu untuk sampai tujuan. Mereka turun, langsung menemui meja receptionis untuk meminta kunci.
"Makasih, Mbak."
Kamar hotel nomor 1234 yang ada di lantai delapan, akan menjadi saksi bisu pertempuran panas mereka. Kamar nusnsa modern, dengan wangi lavender di sekitarnya. Menambah kesan romantis untuk pasangan mesum itu.
"Are you ready, Beb?" Citra mulai mengalungkan tangannya di leher Raka. Membungkam bibir pria itu dengan sempurna. Kemahirannya dalam bercumbu, meningkatkan jiwa kelakian Raka membumbung tinggi.
Bibir yang saling menyatu, tangan yang mulai bekerja melucuti apapun yang menempel di tubuh mereka. Saking bringasnya, mereka mengakhiri pangutan itu, karena kehabisan napas.
"Good, Sayang. Ayo kita mulai," ujar Citra dengan napas yang mulai tersengal.
Raka mengangkat tubuh wanita itu, untuk di baringkan di ranjang. Tubuhnya yang masih singset, membuat air liurnya keluar. Tanpa ragu-ragu lagi. Dengan lihainya lidah Raka menyapu ke seluruh tubuh Citra. Membuat sang empu menggeliat, mengerang kecil saking nikmatnya.
Saat Raka sudah menyatukan tubuhnya, dan pinggulnya mulai bergerak. Di sat itu juga, pintu kamar itu terbuka dari luar.
To be continued
Masih mau lanjut?
Hayo siapa yang datang?
Jangan lupa tekan tab like, komen, dan hadiahnya. Kalau masih punya vote. boleh lah bagi untuk mereka.
Alur akan saya rubah. Biar kalian gak bosan dan gak ngatai bertele-tele lagi. Nikmati di part selanjutnya.
NB
__ADS_1
Kalau belum nyampe 200 like, up selanjutnya akan saya tunda. Jangan pelit-pelit sama jempolnya 🤪🤪🤪🤪🤪