
Tak ada yang bisa melakukan apapun lagi. Seorang gadis menjadi bulan-bulanan Citra. Selain ia harus mengikuti apa yang wanita itu perintahkan.
"Sudah berapa kali, mami bilang sama kamu! Jangan usik kehidupan mami. Kalau kamu, cukup diam dan jangan banyak bicara!" tegas Citra lantang meluapkan kekesalannya pada gadis itu.
"Tapi apa? Kaku justru menabuh genderang perang dengan saya.", Citra menunjuk wajah Bellian. "Apa kamu udah siap, melihat orang tua kamu menderita?" sambung wanita itu mengancam.
Diam, hanya itu uang bisa Bellian lakukan saat ini. Posisinya sangat sulit. Ia harus mengorbankan salah satunya. Di sisi lain, tidak tega melihat Aira menderita. Di sisi lain. Dia belum sanggup jika harus membuat keluarganya tersiksa. Citra, wanita yang ia kenal tidak pernah main-main dengan ucapannya itu. Mampu menenangkan kegundahan hati Bellian.
"Kamu harus ngaku sama Aira. Kalau cowok yang sama mami itu bukan Raka, tapi temen mami yang sebentar lagi akan ke sini."
Benar, yang dikatakan oleh Citra. Tak berapa lama, seorang pria uang berperawakan seperti Raka datang dari luar. Pria itu tiba-tiba masuk, tanpa mengucap salam lebih dulu. Seolah kedatangannya memang sudah di tunggu.
"Nah ini dia orangnya." Citra menunjukkan pria itu pada Bellian. Sekilas memang mirip, jika di lihat dari belakang. "Dion, kamu tolong mami. Yakinkan anak mami, kalau kamu kekasih mami." Sekarang, pandangan wanita itu beralih pada Dion.
"Siap, Mi." Dion menyeringai, sambil mengacungkan jempol.
"Bellian, apa kamu dengar mami?" tandas Citra kembali mengusik lamunan Bellian.
Tak ada pilihan lain. Bellian pun mengangguk pasrah. Biar bagaimanapun, adik-adiknya masih kecil. Masih sangat membutuhkan dirinya.
__ADS_1
Citra bisa tersenyum puas dan lega. Dia yakin, Aira akan percaya dengan semua kebohongan yang ia lakukan. Aira gadis yang baik. Selalu berpikiran dengan baik. Saking baiknya, di manfaatkan oleh orang lain. Termasuk maminya sendiri.
Tak berapa lama, dua orang yang di tunggu pun tiba. Tidak seperti tadi malam, Aira sedikit lebih tenang. Akan tetapi, masih terlihat jelas kesedihan dalam dirinya.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Mami udah gak sabar mau kenalin kamu sama seseorang." Citra menyambutnya dengan hangat, menuntun Aira sampai di depan Dion. "Ini Dion, sayang. Cowok yang ada di video itu," sambung Citra tersenyum getir ke arah pria itu.
Aira memperhatikan orang yang sama sekali belum pernah ia temui itu. Dari ujung rambut, sampai ke kaki. Memang mirip dengan orang yang sedang bercumbu dengan maminya. Setelah itu membandingkan dengan Raka, yang berdiri tepat di sebelah maminya.
"Seperti yang aku katakan sama kamu, sayang. Kemarin, aku gak ke sini. Aku sibuk nyari dres untuk kamu," timpal Raka menyakinkan sandiwara itu.
Mendapat kode dari Citra. Bellian pun angkat bicara. Menyempurnakan akting mereka berempat. "Kak Aira, maafin aku ya?" ujar Bellian dengan berat. "Aku udah kasih info palsu sama kakak." Gadis itu bahkan tak berani menatap wajah Aira. "Sebenarnya yang aku liat itu bukan Mas Raka. Tapi, orang ini," sambung Bellian menyesal. Bahkan, ia menjilat ludahnya sendiri di depan Aira.
"Tapi kenapa, Yan? Kamu tega nglakuin itu. Bilang sama aku di wa, kalau cowok itu adalah mas Raka?" Setelah sekian lama hanya diam. Akhirnya, Aira pun bicara.
"Itu karena Bellian suka sama aku, sayang!" sambar Raka, yang mendapat ide cemerlang.
Pandangan Aira beralih pada Raka. Mendengar ucapan pria itu tadi, telinganya geli. Dengan pedenya, menyebut Bellian suka sama Raka. Padahal terang-terangan, Bellian sangat ilfil melihatnya.
"Suka? Itu gak mungkin! Bellian sendiri yang bilang. Apa sih yang diharapkan dari seorang pengangguran kayak kamu!"
__ADS_1
Citra memberi kode lagi, dengan kedipan mata. Dengan cepat, Bellian meresponnya.
"Bener, Mbak. Aku memang suka sama Mas Raka."
Kecewa, itu yang dirasakan oleh Aira. Setelah mendengar langsung dari bibir Bellian. Ia hanya bisa memejamkan mata, berharap ini adalah mimpi. Jauh, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia ragu dengan semua ucapan mereka. Tapi, dia bisa apa. Tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak punya bukti. Kecuali, kalau melihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Mungkin, Aira akan mengelaknya.
Tiba-tiba saja, Aira dikejutkan dengan sikap Raka. Yang tersimpuh di kakinya. Untuk lebih menyakinkan gadis itu.
"Aku sangat mencintaimu, sayang. Aku gak mau kehilangan kamu." Dengan wajah yang berbinar. Hati siapa pun akan luluh mendengarnya.
"Aku gak mau pisah dari kamu. Aku mohon, percaya padaku."
Hati wanita mana yang tidak akan meleleh melihat perlakuan Raka. Sejenak, keraguan itu terhapus sudah dengan kesungguhan Raka, yang menurutnya tulus dalam hati.
Aira menyambut uluran tangan Raka. Mengajaknya untuk berdiri. Setelah itu, ia berucap, "Aku sudah maafin kamu. Aku percaya sama kamu."
"Kalau begitu semuanya sudah beres. Dan mami akan nikahkan kalian, hari ini juga."
"Tapi, Mi." Aira menolaknya.
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapi, sayang. Maki gak mau kesalahpahaman ini terjadi lagi."
Bellian tidak menyangka, keegoisannya menghancurkan hidup Aira. Bagaimana nasibnya nanti, setelah menikah?