Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Melanjutkan yang tertunda


__ADS_3

Aira yamg melihat kejadian itu, hanya bisa melongo. Tak menyangka, kalau Citra akan lebih memeluk tubuh suaminya di bandingkan dia. Panas, sudah pasti iya. Siapa yang tidak akan marah, jika suaminya di peluk oleh wanita lain. Walaupun itu, maminya sendiri.


Aira mengumpulkan keberaniannya untuk menarik tubuh Citra dari dekapan sang suami. "Mami, lepas!!" Sedikit keras, Aira menariknya. Memaksa Citra, menjauh dari pria itu. "Gak sepantasnya mami peluk tubuh suami Aira!" ucapnya dengan tegas.


Baru kali ini, Aira bertindak berani pada wanita itu. Bagaimana pun juga, Raka hanya miliknya. Tak ada seorang pun yang bisa membuat dirinya berbagi. Walaupun itu adalah Citra.


"Maaf, Ra. Mami gak sengaja. Refleks aja," kah Citra, semakin geram. Dia tidak menyangka, kalau Aira akan bertindak seberani itu.


Tidak ingin mengacaukan semua. Raka mencoba melerai. Apalagi, dia sudah membuat Citra kecewa. Bisa-bisa, tidak akan mendapat jatah bulanan dari wanita itu.


"Udahlah, sayang. Mami hanya ketakutan. Gak sengaja juga, kok." Raka menenangkan Aira, agar suasana tidak semakin memanas.


Apalagi, saat melihat Citra langsung menunduk penuh penyesalan. Membuka hati Aira untuk memaafkan wanita itu.


"Aira yang harusnya minta maaf, maafin Aira ya, Mi." Wanita itu langsung menekuk tubuh lemah maminya. "Gak seharusnya, Aira bersikap begitu."


Merasa berhasil menyakinkan Aira, Citra tersenyum penuh kemenangan. Namun, masih ada kilatan marah untuk Raka, yang saat itu juga merasa lega.


"Tapi mami takut, sayang."


"Ada Aira, Mi. Gak ada apa-apa. Mungkin cuma bayangan kucing aja," ujar Aira menenangkan.

__ADS_1


"Iya, Mi. Gak usah takut, ada kami di sini." Raka menimpali.


**********


Pasangan pengantin baru itu kembali masuk ke kamarnya. Setelah menemani Citra sampai terlelap. "Sayang, aku ke kamar mandi dulu, ya?" pamit Raka pada istrinya, sambil menunjuk sebuah ruangan kecil di sisi kanannya.


""Iya, Mas. Aku tunggu, ya?" jawab Aira malu-malu.


Raka hanya tersenyum tipis, menanggapinya. Segera menuju ke kamar mandi. "Brengsek!! Sial!" Raka mengumpat kesal, saat apa yang ia inginkan tidak bisa terwujud. "Dasar nenek-nenek peyot, dia gak bisa melepaskan aku. Padahal aku penasaran banget, kek apa rasanya." Ia tumpahkan rasa kesalnya di sana. Gagal merawanin Aira. Membuat dirinya frustrasi.


Tak berapa lama, notif pesan muncul di layar ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Citra yang kembali mengingatkan Raka agar tidak menyentuh Aira.


Pesan singkat dari Citra, sedikit mengurangi rasa kesalnya. Meski tidak berhasil merasakan bercinta dengan Aira. Paling tidak hasratnya bisa tersalurkan untuk malam ini. Lagipula, Citra juga sangat lihai membuat dia mendesah nikmat.


Sementara di luar, Aira tampak jenuh menunggu Raka tak kunjung keluar dari sana. Sedikit khawatir, terjadi sesuatu buruk pada pria itu.


"Mas, kamu kok lama sih!!" teriak Aira, mengetuk pintu kamar mandi. Untuk memastikan kalau Raka baik-baik saja.


"Mules, sayang." Di sahut oleh Raka dari dalam, berlaga orang yang lagi membuang hajat. "Kamu tidur aja duluan, nanti aku nyusul. Ini sakit banget, loh!" sambungnya lagi.


"Astaghfirullah, aku buatin kunyit tawar ya?" tawar Aira, gegas di tolak oleh Raka.

__ADS_1


"Nggak usah, sayang. Kamu capek, lebih baik istirahat dulu. Siapkan tenaga untuk nanti," balas Raka gregetan. Padahal ia juga ingin menyelami kenikmatan dari istrinya.


Aira tersenyum geli, membayangkannya. "Em, ya udah Mas. Kalau emang kamu baik-baik saja!"


Aira memutuskan untuk merebahkan diri. Sambil menunggu suaminya kembali. Akan tetapi, dinginnya malam itu menyapu permukaan kulitnya. Memaksa Aira untuk menutup mata. Rasa kantuk mulai menyerang. Tak berapa lama, Aira sudah terlelap. Berkelana ke alam mimpi.


Tak lagi mendengar suara berbisik dari luar. Raka pun keluar. Berharap, Aira sudah tidur. Ternyata memang benar, wanita itu sudah terkapar tak berdaya. Ini kesempatan untuk dirinya kabur, menyelinap ke kamar sebelah. Di mana, kenikmatan menunggu dirinya.


"Maaf sayang, tidak untuk malam. Aku janji, suatu saat akan bisa menikmati tubuh kamu. Menjebol gawang pertahanan kamu." Raka menyeringai, sambil mengelus pelan pipi wanita itu.


"Tunggu aku, Mi. Malam ini, akan aku buat kamu mendesah manja dalam dekapan ku." Tanpa menunggu lama lagi, Raka beranjak menuju ke kamar Citra.


Bak gayung di sambut. Ternyata Citra memang sudah menunggunya. Baju tidur yang tadi wanita itu pakai, sudah berganti lingerie seksi berwarna merah. Menunjukkan bagian intim dari tubuhnya.


"Sayang, aku udah gak sabar lagi." Citra menarik kasar tangan Raka hingga jatuh ke dalam rengkuhannya.


Dua malam tidak menyalurkan hasratnya. Wanita itu tampak bringas, tanpa aba-aba ******* kasar bibir Raka. Pun dengan Raka yang membalasnya tak kalah bringas. Mereka seperti sepasang singa yang sedang kawin. Buas, menegangkan.


"Buat aku puas malam, ini." Citra menggerayangi tubuh Raka dengan lihainya.


"Pasti, sayang. Aku akan membuatmu tak berdaya," balas Raka dengan suara berat. Bagian bawahnya mulai menegang. Minta keluar dari sarangnya.

__ADS_1


__ADS_2