Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kejutan dari mami


__ADS_3

Bagi Suraj, mantan adakah kenangan yang harus dilupakan. Bahkan, sesaat setelah pernikahan Nadine dengan mantan suaminya. Siraj berjanji, tidak akan pernah menjalin hubungan dengan wanita itu. Walau hanya sebatas teman.


Bukan tanpa alasan, Suraj melakukan hal itu. Sulit melupakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Nadine. Di saat dia ingin memberikan kejutan dengan melamar wanita itu. Di saat itulah, ia dikejutkan dengan perselingkuhan mereka. Nadine tidur seranjang dengan pria lain. Tanpa sehelai benang menutupi tubuh mereka.


Rencana lamaran yang sudah di rancang sedemikian rupa. Harus tandas, setelah kejadian itu terjadi. Tak sampai di situ. Di saat itu juga, dia trauma membuka hati untuk wanita lain. Sebelum mengenal Aira. Gadis biasa yang mampu menghancurkan benteng pertahanannya.


"Ada apa ya? Mami nyuruh aku jemput di cafe mami Citra," gumam pria itu, saat mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri untuk menyeberang.


Setelah berhasil menyeberang, Suraj memarkirkan kendaraannya di depan cafe. Gegas turun dari sana untuk masuk ke dalam. Dia begitu bersemangat, jika sudah berada di area itu. Bisa mrlihat gadis pujaannya.


"Sayang," panggil Yuni dari kejauhan. Tangannya melambai, menuntut Suraj untuk mendekat.


Segera Suraj menuju ke tempat maminya. "Mi. Tumben, minta jemput." Suraj meraih punggung tangan maminya, setelah itu di tempelkan di kening. Beralih pada mami Citra yang menatapnya penuh kekaguman.


"Iya, soalnya supir mami pulang. Kamu udah selesai 'kan, ngajarnya?" jelas Yuni, bertanya balik.


"Udah, Mi. Suraj mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Namun, yang di cari tidak berhasil ia temukan.


"Nyariin siapa, kamu?" tegur Yuni, tersenyum mengejek.


"Arggh, Mami."


"Aira lagi keluar sama temennya. Ya udah, ayo kita pulang." Yuni beralih pada Citra yang tak henti-hentinya menatap wajah tampan milik Suraj. "Jeng, saya pulang dulu ya?" pamitnya, lekas beranjak.

__ADS_1


"Kok buru-buru sih, masih siang juga," ujar Citra berusaha menahan temannya itu.


"Iya, besok kapan-kapan aku ke sini lagi," balas Yuni menyeringai.


Suraj pun ikut berdiri. Secara bersamaan Raka dan Aira datang, dengan tangan yang saling menggenggam. Wanita itu tersenyum ramah pada Yuni. Namun, setelah beralih Suraj, Aira langsung menunduk. Menyembunyikan wajahnya dari Suraj. Terbesit rasa bersalah dalam diri wanita itu.


Pun dengan Suraj, tubuhnya langsung memanas melihat Aira bergandengan tangan dengan Raka. Itu yang menjadi pusat perhatian pria itu. Rasanya ingin menarik wanita itu dari sana. Tidak rela, gadis setulus Aira. Hanya dimanfaatkan oleh Raka.


Aira pun sadar, akan hal itu. Segera, ia tarik tangannya dari genggaman tangan Raka.


Hening sesaat, mereka hanya saling pandang. Hingga suara dari Yuni, mencairkan suasana.


"Ini pasti Aira, ya?" Yuni beralih pada Citra.


"Iya, jeng." Dan di jawab oleh Citra.


"Mi, ayok kita pulang!" ajak Suraj, yang tak ingin lama-lama berada di tempat itu.


"Iya, sayang. Saya permisi dulu ya, jeng?"


Mereka pun beranjak, sesaat kemudian. Citra memanggilnya lagi. "Jeng, tunggu!" Citra mendatangi mereka berdua. "Aira, tolong kamu bungkusan pizza untuk teman mami ini," titahnya pada Aira yang masih berdiri mematung di sana.


"Iya, Mi."

__ADS_1


Aira pergi ke dapur, untuk menyiapkan makanan yang disebut maminya tadi. Kurang lebih lima menit, gadis itu sudah kembali dengan membawa kantong plastik berisi makanan tadi.


"Wah jeng Citra, pake repot-repot segala." Yuni mengambil bungkusan itu dari tangan Aira.


"Nggak, apa jeng."


"Mi, Aira ke belakang dulu ya? Mau bantuin Bellian dulu." Aira pamit mau ke dalam. Akan tetapi pergerakannya tersekat, saat kakinya tak sengaja kesandung kaki meja. Sehingga, tubuhnya nyaris jatuh ke lantai. Beruntung, dengan cekatan. Suraj yang menangkapnya. Sehingga tubuh wanita itu, berada di dalam dekapan Suraj.


Kelopak mata mereka saling bertemu. Ada debaran halus dalam hati mereka berdua. Terlihat jelas di mata Suraj. Cinta yang kuat untuk Aira. Dan itu di sadari oleh mereka yang ada di tempat itu. Termasuk Raka. Tak sadar, tangannya mengepal. Langsung menarik tubuh Aira dari sana.


"Sayang, kamu gak apa, 'kan?" tanyanya, memeriksa tubuh Aira.


Sekarang, giliran Citra yang nampak murka dengan perhatian Raka. Dada wanita itu naik-turun, menahan amarah yang siap meledak.


"Aku nggak apa, kok!" Aira berusaha melepaskan diri dari Raka. Entah mengapa, ia merasa tak nyaman saat dihadapkan Siraj. Bersentuhan dengan kekasihnya itu.


***********


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Suraj hanya melamun. Menyetir pun tidak fokus. Beberapa kali, ia hampir melakukan kesalahan. Beruntung, tidak terjadi sesuatu buruk menimpanya.


"Mami liat, Raka tidak tulus mencintai Aira."


Ucapan Yuni, menarik perhatian Suraj untuk memandang wajah wanita itu.

__ADS_1


"Kok, Mami tahu?"


"Tahu dong, sayang. Tapi kamu tenang aja. Tunggu kejutan dari mami." Yuni tersenyum licik, membayangkan sesuatu terjadi pada Suraj dan Aira.


__ADS_2