Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Memalukan


__ADS_3

Dering ponsel Aira berbunyi, entah berapa kali ia mengabaikannya. Bingung, ragu untuk menjawab telpon dari Suraj. Setelah berjanji pada pria itu, untuk secepatnya meminta cerai dari Raka. Kenyataannya, dia tidak bisa mengabulkan untuk saat ini.


Aira bukan sayang dengan harta peninggalan papinya. Tetapi, ia tahu persis perjuangan sang papi dalam membangun cafe itu. Hingga maju pesat, seperti saat ini. Jatuh bangun, bangkrut bahkan sudah pernah di lalui. Mereka tidak pernah menyerah. Hingga menemukan cara untuk kembali meningkatkan peminat di cafe itu.


Setelah perjuangan dan air mata menjadikan cafe itu sukses. Apa iya, Aira akan tega untuk melepasnya begitu saja. Itulah yang sekarang ada dalam benak wanita itu yang bersender di dinding ranjang.


"Ya Tuhan, gimana ini. Apa yang akan aku katakan pada Suraj? Gak mungkin aku berkata jujur, aku sudah banyak merepotkan dia," gumamnya dalam Isak.


Suraj tidak akan menyerah, sebelum ia menjawab telponnya. Aira mengusap wajahnya yang basah, menarik napasnya dalam-dalam. Berharap akan sedikit lebih tenang.


Aira menggeser tombol telpon berwarna hijau ke atas. Terdengar suara panik dari seberang. "Sayang, kamu gak apa, 'kan?"


Pria itu begitu mengkhawatirkan dirinya. Aira tidak tega, melibatkan masalah ini pada Suraj. Tanpa terasa, air matanya kembali menetes. Gemuruh dalam dadanya menumpuk. Hingga ia kesulitan untuk berbicara. Yang terdengar hanya Isak tangisnya saja.


"Sayang, apa yang terjadi?"


Suraj kembali bersuara. Karena ia tak kunjung menjawabnya. "Sayang, kamu di rumah, kan? Aku ke sana sekarang."


Tak sanggup lagi, Aira menutup panggilan teleponnya. Ia menangis tersedu-sedu. Meratapi nasib buruk. "Ya Tuhan, apa salahku. Hingga Engkau memberikan cobaan ini."


***************

__ADS_1


Suasana tegang memenuhi teras belakang kediaman Maholtra. Begitu mendengar Aira menangis, dan tak bisa bicara. Menimbulkan kekhawatiran pada Yuni dan suaminya. Terlebih Suraj.


"Mi, Suraj ke rumah Aira dulu ya?" pamit pria itu pada ke dua orangtuanya.


"Iya, sayang. Lebih baik, kamu bawa Aira ke sini. Mami gak tega membiarkannya sendiri," jawab Yuni, memberikan usul.


"Iya, Papi setuju. Apalagi kalau sampai Citra menyiksanya. Kita bisa laporkan ini ke pihak berwajib," timpal Maholtra ikut geram mendengar kejahatan Citra.


"Iya Mi, Pi. Suraj berangkat dulu. Assalamualaikum."


Jalanan ibu kota yang padat, jika malam tiba. Tak menyurutkan niat Suraj untuk datang ke kediaman Aira. Kekasihnya dalam bahaya, dia tidak akan membiarkan Aira lebih sakit lagi. Baginya, cukup sudah air mata yang keluar dari pelupuk wanita itu hari ini. Dan ia bersumpah, tidak akan membiarkan air mata itu kembali menetes. Kecuali, air mata kebahagiaan.


Tekadnya yang bulat, memperlancar semua. Tidak sampai satu jam, mobil Suraj sudah sampai di depan pagar rumah Aira. Bergegas, pria itu turun. Dan langsung membuka gembok gerbang, yang kebetulan tidak di kunci. Setelah terbuka, Suraj langsung masuk ke dalam.


"Sayang, buka pintunya. Aira, Aira, tolong buka pintunya." Dengan tak sabar, Suraj mengetuk pintu berulang-ulang kali.


"Sayang, tolong buka pintunya," racaunya frustrasi, karena tidak ada sahutan dari dalam. "Ya Tuhan, aku mohon, lindungi Aira."


Bingung harus melakukan apa lagi, Suraj kembali menghubungi nomor Aira. Berharap, wanita itu bisa menjawabnya. Belum sampai, ia menekan tombolnya. Terdengar dari dalam suara berisik, seseorang sedang memutar kunci. Tak lama, pintu pun terbuka.


Seorang wanita mengenakan dres tidur, dengan mata sembab berdiri di ambang pintu. "Sayang, kamu kenapa nangis?" Suraj langsung merengkuhnya dalam pelukan.

__ADS_1


Aira hanya bisa menangis dalam diam. Punggungnya bergetar hebat, menahan sesak memenuhi dadanya. Mau cerita, takut akan menjadi beban pria itu.


"Bawa aku pergi dari ini, aku mohon." Dengan tersedu-sedu, ia meracau. "Aku gak sanggup," sambungnya masih dalam isakan.


"Iya, sayang. Kita pergi sekarang!" Suraj merenggangkan pelukannya. Merangkul pundak Aira, dan akan membawa wanita itu pergi dari sana. Tiba-tiba saja, terdengar suara tegas dari dalam. Menghentikan langkah mereka.


"Jangan coba-coba bawa pergi istriku!" seru Raka dengan tangan yang bersedakap di dada.


Suraj menoleh, di ikuti oleh Aira. Suraj menunjukkan wajah garangnya, mendekati pria yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Hah! Istri kamu bilang!!!" Suraj menunjuk wajah Raka. "Masih pantaskah kamu di sebut suami?" tegasnya mengeratkan rahang.


"Hahaha, apa kamu lupa? Kami sudah melakukan ijab qobul?" Raka menarik kasar tangan Aira, hingga berdiri bersejajar dengannya.


"Lepaskan dia!" sentak Suraj tak terima dengan perlakuan Raka.


"Siapa, kamu berani-beraninya membentak saya. Kaku bukan siapa-siapanya Aira. Saya yang berhak atas dia!" seru Raka enteng.


Plakkklkk


Aira menamparnya, hingga membekas kemerahan saking kerasnya. "Kamu tidak berhak sedikit pun atas aku!!!!"

__ADS_1


"Aira!!!!"


__ADS_2