
Citra merasakan ada yang ganjal dengan perubahan sikap Raka akhir-akhir ini. Yang jarang sekali memberi nafkah batin padanya. Kerap kali di ajak, pasti menolak. Banyak alasan yang keluar dari bibir pria itu.
"Kamu mau kemana pagi-pagi gini udah rapi?" tanya Citra, saat Raka baru saja menapakkan kaki di lantai satu.
"Aku ada kerjaan di luar," jawab Raka masih bersikap manis pada wanita itu. "Sekarang cafe pendapatannya menurun, aku harus mencari alternatif kerja. Untuk menghidupi kamu juga," sambungnya merayu.
Tak percaya begitu saja dengan ucapan Raka, Citra hanya mengangguk. Seraya berpikir keras bagaimana caranya membuktikan kecurigaannya itu.
"Ya udah, kalau gitu. Kamu hati-hati, ya?" balas Citra, percaya.
"Iya, sayang. Aku berangkat dulu, ya. Muachhhhh." Satu kecupan dihadiahkan oleh Raka untuk wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Setelah itu ia beranjak pergi.
Tak mau membuang kesempatan, Citra mengikuti kemana Raka pergi. Dia bukan wanita yang bodoh, yang percaya begitu saja pada buaya darat seperti Raka.
Mobil yang dikendarai oleh Raka berhenti di sebuah rumah. Yang letaknya tidak jauh dari cafe. Rumah itu tidak asing untuk Citra. Ia bahkan sering lewat daerah itu.
"Ini kan rumah Melissa, ngapain Raka kesini?" gumam Citra, mulai berpikir keras. "Atau jangan-jangan kecurigaan aku benar. Mereka menjalin hubungan," sambungnya lagi dengan dada mulai bergemuruh.
Raka turun, dengan gagahnya berjalan ke depan pintu. Tak berapa la, Melisa membukakan pintunya. Wanita itu langsung bergelayut manja di leher Raka.
"Sayang, aku udah gak sabar. Kamu kemana, sih!" gerutu Mellisa, mulai terlihat merengut.
__ADS_1
"Gak sabar untuk apa, ink?" balas Raka menggoda. "Unyuk bercinta atau untuk ini." Secepat kilat, Raka menyambar bibir Mellissa. Memberikan sapuan indah, meremangkan tubuh keduanya yang mulai terbumbung gairah.
Egghhhh.... ******* Mellissa, terdengar syahdu di telinga Raka. Mereka melakukannya, dengan sangat buas. Saling menikmati permainan itu, mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang sudah siap menerkamnya.
"Brengsek!!!" umpat Citra, turun. Segera mendekati mereka berdua yang sedang berdesah manja, bertukar ludah dengan sangat buas. Pintu dibiarkan terbuka, sedangkan ke duanya masih larut dalam kenikmatan dunia yang terbalut limpangan dosa.
Brak!!!!!! Pintu yang masih setengah menutup itu di tendang oleh Citra. Manik matanya merah, siap untuk menerkam mereka yang terkejut melihatnya. Segera, Raka melepaskan pangutan itu. Menyeka bibir mereka.
"Jadi ini yang kamu bilang kerja?" teriak Citra terbawa emosi. "Iya!!!"
Panik, tentu saja itu yang dirasakan oleh Raka. Ini belum saatnya Citra tahu semuanya. Gak, ini gak boleh terjadi. Dia mencari cara agar Citra tidak berbuat nekat padanya.
Plakkklkk
Tamparan keras, melayang begitu saja dari tangan Citra. Sontak, wajah pria itu langsung memerah. Dia sudah pasrah untuk ini semua. Ia biarkan Citra berbuat sesuka hati. Memukul, bahkan apa pun ia terima. Tanpa ada rencana untuk membalasnya.
Sementara Melissa, bergedik ketakutan dengan wajah pucat. Saat Citra mulai mendekat. "Kamu!!! Brengsek!!!" Citra menbabi buta, menyerang Mellissa.
"Sayang! Jangan! Lepasin dia," cegah Raka menarik tubuh Citra, ke dalam rengkuhannya.
"Lepasin, aku!!" Citra megempaskan tangan Raka. "Mulai saat ini, kamu bukan suamiku lagi! Urus tuh cewek murahan kamu!" tandas Citra yang sudah kesal dengan perlakuan Raka, kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
"Sayang, tunggu! Aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku khilaf, sayang. Aku gak mau, aku gak mau pisah dari kamu." Raka terus terus memohon, agar Citra tidak mengusirnya. Bahkan pria itu sempat berjongkok memohon di kaki Citra.
"Kamu udah khianati aku, aku gak perduli lagi sama kamu. Sekali pengkhianat, tetap pengkhianat!"
Citra menginjak tangan Raka, pria itu meringis kesakitan. Melepaskan tangannya dari kaki Citra. Dan dengan mudah, dia bisa melarikan diri dari pengkhianat seperti Raka.
****************
"Apa? Kok bisa sih ya Tuhan!!!!" Masalah dengan Raka belum juga selesai. Datang masalah baru, yang membuat Citra harus berpikir keras sendirian. Beberapa pelanggan komplains, bahkan minta ganti tiga karena makanan yang mereka makan bikin sakit perut.
Suasana cafe cukup ramai dari biasanya. Bukan karena ingin membeli dagangan Cafe. Mereka justru sedang berdemo meminta ganti rugi untuk pengobatan perut yang sakit.
"Kenapa bisa gini!" Citra begitu syok melihat banyaknya orang yang ada di sana.
"Makanan yang dijual di sini basi!" seru salah satu pelanggan.
"Kita minta ganti rugi!!" teriak yang lain.
Citra panik dan bingung harus berbuat apa sekarang. Gak mungkin juga memberi ganti rugi pada mereka yang jumlahnya lumayan banyak.
"Ya Tuhan....."
__ADS_1