
"Malam Tante, Om," sapa Nadine pada kedua orang tua Suraj.
"Malam, Nadine." Di jawab kompak oleh mereka. "Ada apa, ya? Malam-malam begini datang ke rumah. Dan itu, siapa?" Yuni mencecar pertanyaan pada Nadine. Kemudian menunjuk ke arah Raka dan ibunya.
"Kedatangan saya ke sini mau menawarkan sesuatu pada Om Maholtra. Temen saya ini mau jual emas batangan. Apa Om bisa bantu jualkan. Soalnya, dia udah keliling-keliling ke toko emas. Meraka gak mau nampung," jelas Nadine sedikit berharap.
"Emas batangan?" Maholtra mengrenyitkan kening. Kalau dilihat dari penampilan Raka, rasanya sulit untuk percaya. Kalau emas itu benar-benar miliknya.
"Iya, Pak. Saya punya beberapa batang emas batangan. Kata Nadine, bapak pernah punya bisnis di bidang itu. Bapak bisa bantu?" sambar Raka, sedikit berharap.
Maholtra tak begitu saja mengiyakan permintaan mereka. Apalagi, saat istrinya membisikkan sesuatu di telinganya.
"Aku tahu siapa pria yang lagi sama mereka. Dia itu Raka, selingkuhan mantan suami Aira."
Tidak heran bagi Maholtra, menilai Raka. Dari awal dia sudah yakin, kalau pria itu tidak baik. Dari gelagatnya saja sudah kelihatan.
"Saya akan bantu. Tapi ada syaratnya, apa anda sanggup memenuhinya?" tawar Maholtra mengambil alih permainan.
"Katakan saja, apa pun itu akan saya lakukan," sahut Raka tanpa berpikir lebih dulu.
"Syaratnya akan saya katakan. Jika, emas kamu udah laku. Satu lagi, sela saya belum menghubungi anda. Anda tidak boleh menghubungi saya atau datang ke rumah ini. Apa anda bisa melakukan syarat itu?" tawar Maholtra lagi, dia sudah memiliki cara untuk menghancurkan Raka.
"Baik, saya sanggup." Tidak ada pilihan lain, dia menyanggupi syarat yang diminta eh Maholtra. Yang penting bagi pria itu adalah uang. Emas batangan itu bisa berubah pundi-pundi rupiah untuknya.
__ADS_1
"Ok, daya anggap deal dalam perjanjian ini!"
***********
Maholtra dan Yuni tersenyum puas, akhirnya orang yang selama ini mereka cari. Menyerahkan diri, masuk dalam perangkapnya. Dengan cara membantu Raka menjual emas-emas itu, dia bisa dengan mudah melacak keberadaan pria itu. Mana kala semua bukti kejahatannya susah terkumpul. Dan di saat itulah, dengan mudah Maholtra akan menggiring Raka ke penjara.
Apa yang bukan miliknya, perlahan akan hilang bagai debu tertiup angin. Sama halnya dengan Citra, yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan cafe.
"Jadi, cafe harus tutup Mam?" tanya Bellian saat mereka berkumpul di ruang tamu rumah Citra.
"Iya, untuk sementara waktu. Saya harus mencari modal dulu." Citra mendengus kesal, karena kebodohannya ia kehilangan semuanya.
"Baik, Mami. Bellian harap, Mami bisa segera mendapatkan modal itu. Supaya kami berdua bisa kerja lagi di tempat Mami," ujar Bellian sendu. Dia sedih karena harus kehilangan pekerjaan, disaat ekonomi sangat sulit untuknya.
"Kami permisi dulu ya, Mam." Bellian dan Winda kompak berpamitan pulang meninggalkan Citra dalam penyesalan uang tiada henti.
"Sekarang aku harus bagaimana? Siapa lagi yang akan aku mintai tolong," keluh wanita itu sesak, menyenderkan kepalanya di sofa.
Belum berhenti merasakan pedihnya harus kehilangan cafe yang tutup. Seorang pria dengan gagahnya langsung masuk ke dalam. Membawa dua wanita cantik yang ads disisi kanan dan sisi kirinya. Senyumnya terpancar cerah, menunjukkan kemenangan baginya.
"Mau apa kamu?" seloroh Citra geram, melihat kedatangan Raka tanpa dosa. "Kembalikan semua hartaku!!!" Dengan bringas wanita itu mendorong tubuh Raka. Tak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Raka justru menggenggam erat pergelangan tangan Citra.
"Harta kamu?" tandas Raka, semakin erat mencengkam pergelangan tangan Raka. "Ini semua milik Aira!" Kemudian menghempaskan ke belakang. Hingga tubuh Citra tersungkur ke lantai. "Dan sebentar lagi, akan menjadi milikku!!!" sambungnya tertawa lepas, merentangkan tangan. Berhasil membuat Citra tak berkutik.
__ADS_1
"Brengsek kamu Raka!!!" teriak Citra bangkit, kembali menyerang Raka membabi buta memukuli tubuh pria itu. "Apa kamu gak ingat, siapa yang memungut kamu dari jalanan, hah!!!" Sambil memaki Raka dengan kasar. "Dasar bajingan, licik, dasar kurang ajar!!!!"
Sekali gerakan, Raka berhasil mengendalikan Citra. Di cengkeraman erat lagi tangan wanita itu. Dengan mata tajam, siap menerkam. "Gue gak perduli. Yang penting sekarang, aku pemenangnya. Kamu terlalu bodoh, memelihara ular di rumah ini. Dan sekarang, ular itu akan memangsamu!"
"Dewi, Karin, bereskan barang-barang di ****** ini. Lempar keluar, jika sudah!" perintah Raka pada dua orang tadi.
"Mau apa kalian!!" teriak Citra masih dalam cengkeraman Raka. Wanita itu berusaha memberontak. Sekuat tenaga ia kerahkan, tidak berhasil keluar dari jerat Raka. "Jangan macam-macam kalian. Berani mengusir aku, awas aja?!" Umpatan, ancaman bahkan keluar dari bibirnya. Menggelitik tubuh Raka, yang semakin tertawa lepas.
"Dasar bodoh!!! Sekencang apa pun kamu teriak, mereka gak akan perduli. Buang-buang tenaga kamu saja, lebih baik kamu simpan nanti di jalanan!" seru Raka tertawa lepas. Puas, apa yang ia inginkan selama ini tercapai dengan sangat mudah.
Raka benar-benar mengusir Citra pergi dari rumah itu. Seperti, saat Citra mengusir Aira. Dengan sangat kejam, dan tanpa ampun. Bahkan mobil yang sering di pakai Citra, tidak berhasil diselamatkan.
"Lepaskan aku!" teriaknya meronta.
TBC..
Hehe kaget ya.. kok udah up aja.
Hehehe, nyempet-nyempetin nulis. Di saat lagi nyempil menyendiri jauh dari mereka. Rewangan gaes, bantu saudara hajatan. Jadi, mlipir dikit. Dapet satu bab
Mayan lah..
ngobatin rindu kalian sama Citra eh bukan drng sama Aira
__ADS_1