
Hilanglah sudah harapan Suraj menanyakan keberadaan Aira pada gadis itu. Setelah Bellian bertanya padanya.
"Jadi, Aira tidak sana kamu?" Suraj bersuara dengan nada lirih.
"Loh, emangnya mbak Aira kemana?" Bellian terkejut mendengarnya, dua sendiri tidak mendapat kabar dari bosnya itu dari semalam.
"Itu yang akan saya tanyakan sama kamu," ucap Suraj, kecewa. "Mami Citra udah mengusirnya. Dan sampai sekarang, nomor Aira belum bisa dihubungi. Aku kira, semalam dia nelpon kamu." Suraj mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak sanggup, menahan perih dalam hatinya.
"Mas Suraj udah sempet tanya mang Jali. Mungkin dia tahu, dimana mbak Aira saat ini?"
Suraj menggeleng. Percuma juga bertanya pada pria itu, ia mengira saat kejadian Aira diusir dari rumah. Jali belum kembali ke rumah itu. "Ya sudah, saya ke kampus dulu." Suraj pamit pada Bellian.
"Iya, Mas. Semoga mbak Aira cepet ditemukan," sahut gadis itu prihatin. Menyanyangkan sikap Citra yang sudah keterlaluan.
Baru juga akan melangkah dari tempat itu. Suraj sedikit dikejutkan dengan sebuah mobil sedan keluaran terbaru, yang masih jreng berhenti di depannya. Seorang wanita, dengan dikawal beberapa pria di belakangnya turun dari mobil itu. Mengundang tanya untuk Suraj dan Bellian.
"Loh, ibu yang waktu itu datang ke cafe ini kan?" Bellian menunjuk ke arah Mawar, sambil mengingat-ingat sesuatu.
Sementara Suraj, sedikit terpaku melihat wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Aira. Hanya saja, wanita itu lebih terawat dibanding kekasihnya.
"Aira, dimana dia?" tanya Mawar dengan mata mengembun. "Saya ingin bertemu dengan anak saya," sambungnya tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya.
"Anak?"
Kata itu yang terlintas di benak dua orang yang menatap bingung ke arah Mawar. Rasa tak percaya, dengan apa yang baru saja mereka dengar.
__ADS_1
"Iya, Aira adalah putri kandung saya. Dimana dia?"
Hingga kalimat itu, yang menyakinkan keduanya. Suraj dan Bellian saling melempar pandang. Mereka bingung harus menjawab apa. Sedangkan, Suraj sendiri masih mencarinya.
"Maaf Bu, Aira diusir sama Citra tadi malam. Dan sampai sekarang nomornya tidak bisa dihubungi," jawab Suraj, menyesal. "Berarti anda Bu Mawar. Istri pertama almarhum pak Abdullah."
Mawar mengerutkan keningnya. Bingung, dengan pria dihadapannya yang tahu banyak tentang dirinya. "Kok anda busa mengenali saya?"
"Saya akan jelaskan pada Ibu. Boleh kita bicara di dalam," tawar Suraj yang akan membongkar semuanya yang ia ketahui ada Mawar.
"Boleh," sahut wanita itu dengan dada berdegup kencang.
***************
Mata wanita itu terpejam rapat, membayangkan penderitaan Aira tinggal bersama dengan Citra. Lagi-lagi, dia kurang cepat untuk datang. Andai saja, semalam begitu mendengar berita itu, langsung datang. Mungkin, ia masih bisa bertemu dengan anaknya.
"Terus, kemana kita akan mencarinya. Sedangkan nomor ponselnya saja tidak aktif." Setitik harapan yang sempat menguat dua bahagia, terkikis sudah dengan kenyataan itu.
"Saya sudah menyebar foto Aira, di berbagai medsos saya. Papi dan mami saya juga ikut membantu. Semoga saja, kita segera mendapat kabar baiknya," ucap Suraj menenangkan wanita itu.
"Terimakasih, sudah menyanyangi Aira. Dia berhak bahagia, semoga kamulah jodoh yang terbaik untuk dia." Mawar menepuk pundak Suraj, menggantungkan kebahagiaan anaknya pada pria itu.
"Aira pantas mendapatkannya. Dan saya tidak akan menyerah, akan tetap mencarinya sampai kami bertemu. Dan akan menunggunya sampai kapanpun," sahut Suraj, tulus dalam hati.
Mereka memutuskan untuk bekerjasama mencari Aira. Bertukar nomor ponsel, berharap segera mendapat kabar baik itu.
__ADS_1
*******
Seorang wanita sudah siap dengan kemeja panjang berwarna putih, dibalut celana dasar berwarna hitam berdiri di depan cermin. Menatap yakin pads dirinya sendiri. Akan memulainya dari awal. Membuktikan pada mereka yang menghina dirinya.
"Aira, kamu harus bisa!" ucapnya pada diri sendiri.
Dengan modal tabungan yang tidak seberapa, dia harus mencari kerja. Sambil mengumpulkan uang untuk membuka usaha. Kelihaiannya dalam memasak, membuat Aira memiliki cita-cita ingin membangun cafe sendiri. Untuk mengobati rasa kecewanya, tidak berhasil mempertahankan peninggalan papinya.
Sebungkus roti, ditambah sebotol air mineral berharap bisa mengganjal perutnya sampai ia mendapatkan pekerjaan.
Tak jauh dari perumahan yang ia sewa, terdapat banyak tempat yang kemungkinan bisa memberikan ia pekerjaan. Sebuah toko kue, tempat pertama yang ia masuki. Menggantungkan nasibnya di tempat itu.
"Maaf, Mbak. Toko kami tidak sedang mencari pegawai. Anda bisa datang lagi, jika kami sudah punya lowongan pekerjaan."
Ucapan dari pemilik toko itu, sedikit membuat hatinya kecewa. Satu tempat sudah gagal. Namun, tak memutuskan semangatnya untuk tetap mencoba.
Terik matahari mulai menyengat kulit. Entah sudah berapa tempat ia sambangi. Namun, tidak ada satupun yang membutuhkan tenaganya. Rasa penat membawa wanita itu untuk duduk di sebuah bangku taman. Sambil mengamati pejalan kaki yang terlihat meringis kepanasan.
"Mbak mau nyari kerja, ya?"
Tiba-tiba seorang wanita datang dari belakang. Menegurnya, dengan sangat ramah.
"Iya," balasnya semangat.
"Saya bisa bantu."
__ADS_1