Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Tenang, melihat wajahnya


__ADS_3

Suasana tegang, memenuhi salah satu ruangan cafe. Citra sengaja mengumpulkan para pegawainya di sana. Setelah mendapati kecurangan yang akhir-akhir ini ia tangkap.


"Penjualan di cafe sangat ramai. Tapi, penghasilan tidak meningkat. Ada yang bisa jelaskan!" sentak wanita itu, menatap satu persatu dari mereka. Termasuk Raka, yang akhir-akhir ini sering ia minta untuk membantu.


Tidak ada yang berani menatap wajah wanita itu. Mereka hanya menunduk takut. Selain Raka, yang terlihat santai dengan pertanyaan istrinya.


"Sayang, harusnya kita bersyukur. Dengan pendapatan cafe yang segitu. Daripada, gak ada sama sekali!" serunya, seolah tidak terjadi apapun di tempat itu.


"Gak bisa begini, Raka. Aku gak akan membiarkan pengkhianat ada ditengah-tengah kita. Aku gak suka itu. Ngerti!" sahut wanita itu, mulai menaikkan nada bicaranya pada pria yang seharusnya ia hormati.


"Terserah kamu lah. Capek aku, lama-lama ngadapin kamu yang gampang curigaaan. Gini aja, kalau kamu gak percaya sama mereka. Simple aja sih, kamu sendiri yang urus cafe. Urus semuanya sendiri. Mereka cuma sekedar bantu-bantu, gimana?" tawar pria itu memberikan solusi, berharap Citra tak termakan umpan yang ia berikan.


"Apa?" Citra membulatkan matanya sempurna. Tidak setuju dengan usul yang diberikan Raka. "Kok kamu ngomong gitu, sih. Bukannya cari solusi yang terbaik, ini malah tambah gak karuan." Citra menggerutu kesal, dengan sikap Raka yang tidak mendukungnya.


"Benar apa yang dikatakan Mas Raka,Mam. Biar Mami tahu, seberapa pendapatan kota setiap harinya," imbuh Bellian yang juga geram, lagi-lagi mendapat tuduhan yang tidak ia lakukan oleh Citra.

__ADS_1


"Diam, kamu!" bentak Citra menunjuk gadis itu.


"Marissa, kamu yang bertanggung jawab semuanya. Kamu bisa jelaskan sama saya. Kenapa tiap hari hasilnya terus berkurang?" Sekarang pandangan wanita itu beralih pada Chef di cafenya.


Dengan santai Marissa menjawab, "Iya sekarang bahan pokok juga sudah mahal. Minyak mahal, tepung, belum lagi yang lain-lain. Mami hitung sendiri lah, nanti juga ngerti kok." Wanita itu sama sekali tidak terlihat takut dihadapan Citra. Seperti sudah mempersiapkan diri, sebelumnya.


"Arghhhhh, ya sudahlah. Kalian boleh pergi!" Citra mengusir mereka, setelah tidak mendapat jalan keluar dari masalahnya. Percuma juga, bersikap terus terang di hadapan para karyawannya. Sepetinya, dia harus menyiapkan sesuatu agar bisa tahu. Siapa dibalik pencuri yang mengambil uang hasil penjualan cafe.


Sementara Raka dan Marissa, mereka bisa tersenyum puas. Lagi-lagi kecurigaan Citra patah, karena kekompakan mereka berdua.


"Baiklah, sekarang kita umumkan kandidat model yang akan maju ke babak selanjutnya."


Suara dari MC itu menggema di telinga Aira. Hatinya, sontak diliputi ketegangan yang luar biasa. Meski terbesit sedikit keraguan akan lolos ke babak selanjutnya. Entah, kekuatan dari mana yang langsung membabat habis keraguan itu. Dia yakin, bisa melangkah ke babak selanjutnya dengan apa yang sudah ia tunjukkan tadi di catwalk.


Satu persatu nama sudah di sebutkan oleh MC. Tiba saatnya kandidat terakhir yang belum disebutkan. Ketegangan mulai muncul di wajah-wajah finalis lomba. Termasuk Aira, yang duduk di samping Vale. Wanita itu menggenggam tangan Aira. Memberi kekuatan padanya. Kalau nama terakhir itu adalah namanya.

__ADS_1


"Itu pasti kamu, Sayang,", ucap Vale tersenyum hangat kearahnya.


"Aira harap juga begitu." Wanita itu memejamkan mata, tak sanggup untuk mendengar suara MC itu.


"... Dan finalis terakhir yang berhasil memasuki babak selanjutnya adalah ..." MC itu memberikan kesempatan untuk para audiens bertepuk tangan. Memecahkan ketegangan dari wajah-wajah para finalis. "Kettyeira ...," teriaknya lantang, diiringi sorak Sorai dari mereka yang ada di gedung itu.


"Nama kamu, sayang. Itu nama kamu." Vale berteriak histeris, memegang kedua tangan Aira yang juga larut dalam kegembiraan itu.


"Mom, itu nama Aira Mom," ucapnya tak percaya.


"Iya, sayang. Itu nama kamu. Kamu berhasil maju ke babak selanjutnya. Selamat, ya?" Vale memeluk tubuh Aira erat. Ia sudah menduganya, kalau Aira akan mendapat salah satu tiket dari sepuluh besar yang akan maju ke tahap selanjutnya. Mengingat, penampilan wanita itu mampu menghipnotis para dewan juri. Termasuk Mawar yang langsung datang menghampiri mereka.


"Selamat, Ya Ketty. Kamu berhasil maju ke babak selanjutnya," ucapnya memberi selamat pada Aira. Setelah itu mengulurkan tangannya. Ada perasaan aneh, yang tiba-tiba hadir dalam dirinya. Jantung wanita itu berdegup kencang, lebih kencang dari biasanya.


"Terimakasih, Mawar. Kamu udah mau memberi kesempatan untuk anak aku," sambut Vale, yang mulai menguraikan pelukannya pada Aira. "Sayang, kenalin. Ini adalah pengusaha sukses yang mami ceritakan tadi. Namanya, Mawar." Kemudian memperkenalkan temannya itu pada Aira.

__ADS_1


Aira menatap intens wanita yang berdiri di hadapannya. Rasa gugup, menderu jadi satu. Namun, tersisip rasa yang ia sendiri tidak tahu. Pertama kali memandang wajah itu. Perasaan damai, seketika hadir dalam hati wanita muda berbakat itu.


__ADS_2