
Bingung harus menjawab bapa, Citra memalingkan wajahnya ke samping. Aira benar-benar keterlaluan. Sudah mulai berani melawan kehendaknya.
"Ya sudahlah, kalau kamu nggak izininin suami kamu buat antar mami. Mami bisa pergi sendiri, kok." Dengan nada dongkol, Citra meninggalkan Raka dan Aira.
Sepeninggal wanita itu, Aira sedikit menyesali kata-katanya. Sudah berani menentang wanita itu. Akan tetapi, dia harus tegas sekarang. Hal yang ia hindari adalah fitnah dari orang-orang di sekeliling mereka.
"Mas, aku udah buatkan kopi hangat untukmu. Aku taruh di meja makan," ujar Aira beralih ke Raka. Ia mencoba mengusir rasa bersalah itu jauh-jauh demi kebaikannya.
"Makasih ya, sayang." Raka tersenyum getir, dan lekas turun ke bawah. Sementara Aira meneruskan niatnya tadi untuk masuk ke kamar.
Satu persatu pakaian miliknya maupun Raka, ia punguti. Ia letakkan ke ember besar, siap untuk di cuci. "Ya ampun, mas Raka sampe ganti baju dua kali semalam. Pasti gerah."
Setelah selesai urusannya di kamar, Aira melanjutkan ke kamar sebelah. Kamar maminya. Terlihat pintu sudah terbuka, ia pun masuk ke dalam. Sedikit terkejut melihat ranjang yang berantakan. Di tambah pakaian Citra yang masih berceceran di lantai. "Ya ampun mami, selalu kek gini. Dengan sabar, ia memunguti pakaian itu.
"Kok sampai berantakan kek gini, sih!"
Perhatiannya fokus pada noda putih yang sudah mengering di sprai yang berwarna merah. "Apaan ini!" Aira menyentuhnya. "Kok kaya bekas air ...." Ucapannya kembali terpotong saat Citra keluar dari kamar mandi.
"Mi, mami jadi pergi?" tanya Aira, yang langsung menarik sprei itu. Kemudian di letakkan di keranjang.
"Jadi," jawab Citra ketus.
"Kita sarapan dulu, Mi." Aira kembali bersuara.
"Kamu duluan aja!"
"Em, ya udah. Aira pergi dulu ya, nanti cepetan nyusul."
__ADS_1
"Hmmm."
*****""""******
Tak hilang akal, mereka berdua selalu punya cara untuk bisa pergi berdua. Dengan alasan pamit kerja, itu tidak akan membuat Aira curiga.
Sementara Aira, harus sibuk dengan cafe yang sejak kemarin tutup. Selesai beberes. Seperti biasa, wanita itu akan berangkat ke pasar.
Baru saja keluar dari pagar, mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya. "Pagi, cantik!" Senyum menggoda terpancar dari seseorang di dalamnya.
"Suraj," lirih Aira, tak membalas sapaan pria itu.
"Mau ke pasar, ya?" tanya pria itu tidak menyerah.
"Aku gak mau berdebat sama kamu, lebih baik jangan ganggu aku lagi, Suraj." Dengan nada tegas, Aira mengusir pria itu.
"Siapa yang mau ngajak debat, sih. Aku cuma mau nawarin bantuan aja," ujar pria itu gemas, Suraj turun dari mobilnya. Menghampiri Aira.
Tak ingin menyerah, Suraj masih mengejarnya. Ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan siapa Raka sebenarnya.
"Aira tunggu!" cegah Suraj, menarik tangan Aira. "Aku mohon, kali ini saja ikut denganku. Aku mau tunjukkin sesuatu sama kamu."
Aira menoleh, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Suraj. "Lepas, aku bilang gak usah gangguin aku."
"Nggak, Ra. Kamu harus Ikut aku." Suraj sedikit memaksa Aira. Pria itu menarik tangan Aira hingga masuk ke dalam mobil.
"Lepas, Suraj." Aira berusaha melepaskan diri. Keburu Suraj, naik di bangku pengemudi. Dan mobil pun melenggang pergi.
__ADS_1
"Suraj, kamu kok nekat sih!!!"
"Kamu harus ikut denganku. Aku akan tunjukkan sebuah kebenaran."
Mendapat informasi dari orang yang sengaja ia bayar. Suraj pun mengikuti petunjuknya. Mobil yang membawa Citra dan Raka sudah terparkir di sebuah hotel termewah di Jakarta. Dan tempat itu yang menjadi tujuan mereka.
Kurang lebih dua jam, mereka sampai di halaman hotel itu. Di saat itu juga, Suraj menghentikan laju kendaraannya. Mencari tempat parkir yang nyaman, agar ia tenang membawa Aira menemui dua orang yang mungkin sedang di bumbung awang-awang.
"Ngapain kamu ajak aku ke sini?" Aira menatap bingung bangunan bertingkat tinggi menjulang ke langit.
"Kamu akan tahu semuanya. Tunggu di sini, jangan kemana-mana."
Suraj tampak sibuk menghubungi seseorang. Tak berapa lama, seorang pemuda yang seusianya datang. Memberikan secarik kertas, yang tidak tau apa isinya.
"Makasih, kerja bagus!"
"Saya permisi dulu. Sepertinya target sudah mulai beraksi."
"Bagus, dengan begitu Aira bisa memergoki mereka berdua."
Pria itu tersenyum puas, karena berhasil membantu kliennya untuk menemukan di mana kamar Raka dan Citra. Pun dengan Suraj yang sudah tak sabar, ingin menunjukkan kebenaran itu.
"Sekarang, ikut denganku!" titah Suraj pads Aira yang masih tak bergerak dari tempatnya.
"Nggak, aku nggak mau." Aira menolaknya, dan merasa tidak penting mengikuti keinginan Suraj.
"Tolong Aira, kali ini saja dengerin aku. Aku mohon." Suraj memintanya dengan mengiba. Tidak ingin rencana yang susah ia susun gagal begitu saja.
__ADS_1
"Ada apa lagi, sih. Kamu selalu saja mengganggu kehidupan aku."
"Nanti kamu akan tahu sendiri!"