
Kegelisahan Citra semakin menjadi, melihat perubahan sikap Aira yang sulit untuk ia kendalikan. Wanita itu mulai resah, dengan apa yang terjadi nanti. Jika Aira mengetahui semuanya. Apalagi, surat wasiat yang telah di tulis langsung oleh Abdullah. Berisi semua rahasia itu.
Selama ini, Aira tidak pernah tahu. Isi dari surat wasiat itu. Ia sengaja menyembunyikan dari wanita itu.
Melihat kegelisahan yang terjadi pada wanitanya. Raka tak tinggal diam. Pria itu mencoba mendekat, untuk menenangkan Citra.
"Gak usah terlalu dipikirkan, bawa santai aja sayang? Toh Aira juga gak tau, ini." Raka memeluk wanita itu dari belakang, saat mereka sedang berdiri di depan cermin.
"Aku harus gerak cepat, sayang. Aku gak mau semuanya terlambat. Sebelum Aira sadar, tentang rahasia itu. Semua hartanya harus menjadi milikku semua." Citra melirik sekilas wajah Raka.
"Aku harus menghubungi seseorang!" tandasnya, melepaskan dekapan Raka. Setelah itu meraih benda pipih yang tergeletak di meja.
"Gue butuh bantuan Elo, sekarang!" titahnya pada seseorang di seberang sana. "Cafe muriya, gue tunggu Elo di sana!" sambung Citra, sebelum menutup panggilan telponnya.
"Kita harus secepatnya ke cafe itu," ujar Citra bersiap-siap, mengambil tasnya.
"Ngapain kita ke tempat itu, sih!" Raka menggerutu malas. Niat hati mau ***-*** dengan Citra. Gagal semua rencananya.
"Nanti kamu juga tahu!"
Citra dan Raka bergegas menemui orang itu. Yang nantinya akan dimintai tolong oleh Citra untuk mengurus semuanya. Dia tidak pernah kehilangan akal. Karena kejahatan yang ada dalam diri wanita itu sudah sangat mendarah daging dalam tubuhnya. Sehingga, banyak ide yang tercetuk begitu saja.
**********
__ADS_1
Di kamar samping, Aira sedang membereskan pakaian yang belum sempat ia bawa ke laundry. Tiba-tiba saja, wanita itu teringat sesuatu. Segera ia tinggalkan pekerjaannya. Dan memilih mencari ponsel untuk menghubungi Suraj.
Belum juga ia pegang benda itu. Ponselnya sudah lebih dulu berdering. Dan panggilan itu dari orang yang ia harapkan.
"Panjang umur kamu, sayang? Aku baru saja mau nelpon," ucap Aira girang.
Di seberang sana, aura serius tampak jelas di wajah Suraj. Menyimpan pertanyaan yang mengundang penasaran. "Sayang, kita ketemuan sekarang. Ada hal yang ingin aku tanyakan ke kamu?" balasnya dengan nada serius.
"Tentang rekaman itu, ya?" tebak Aira, menggigit bibir bawahnya. Untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Iya, sayang. Aku tunggu ke cafe Muriya, ya? Minta mang Jali untuk antar kamu," jawab Suraj, tak sabar.
Mendengar hal yang penting, yang akan disampaikan oleh Suraj. Aira segera menyiapkan diri. Mengganti pakaian tidurnya dengan dres setengah tiang berwarna cream. "Ada apa, ya? Apa aku melakukan kesalahan?" gumam Aira penasaran.
Yang mereka tunggu, akhirnya datang. Pria yang terlihat wibawa dengan setelan jas warna hitam dan celana dengan warna senada, mengulas senyum ke arah Citra.
"Tumben nyariin gue," sapa pria itu menohok hati Citra. "Elo cuma ada maunya saja, nyariin gue. Setelah dapat apa Elo inginkan. Lo buang gue begitu saja," sambung pria itu santai. Kemudian duduk di kursi dengan wibawa.
"Brengsek, Lo!" balas Citra, sedikit malu dengan rekannya itu. "Gue butuh bantuan Elo. Tolongin gue. Cuma Elo yang bisa." Citra mulai memasang wajah memelas.
"Katakan, apa yang bisa Gue bantu."
Citra membisikkan rencananya pada pria itu. Persiapan untuk menghadapi Aira, jika rahasia itu terbongkar kapan saja. Setidaknya, nasibnya aman. Dan semua harta itu bisa jatuh ke tangannya semua.
__ADS_1
"Bisa, bisa banget gue atur semuanya. Tapi, itu semua tergantung kalian. Bisa gak minta tanda tangan langsung ke cewek itu," jawab orang itu serius.
"Nah itu yang sulit," sahut Citra mulai hilang akal. "Aira bakalan curiga, kalau sampai tiba-tiba saja minta tanda tangannya."
"Aku punya ide, sayang?" sambar Raka, tak kalah liciknya.
Raka mengatakan pada mereka berdua, ide yang baru saja tercetuk dalam pikirannya. Agar Aira tidak merasa curiga, untuk meminta tanda tangan wanita itu.
"Good idea, bagus sayang? Dengan begitu, dia akan setuju menanda tangani surat-suratnya."
Mereka tersenyum puas dengan rencana yang akan menghancurkan Aira. Terlebih Citra, yang sudah tak sabar menunggu saat itu tiba.
Di sisi lain, Aira sudah sampai di cafe itu. Mencari keberadaan Surat. Yang katanya sudah berada di tempat itu lebih dulu. "Itu dia, aku harus secepatnya kesana." Setelah berhasil menemukannya. Aira langsung mendatangi pria itu yang sedang menunggunya dengan perasaan harap-harap cemas.
"Sayang, maaf ya telat?" Aira langsung duduk di seberang Suraj.
"Gak apa, sayang?" Suraj membalasnya, diiringi senyum yang merekah di bibirnya.
"Gimana rekaman itu? Apa kita berhasil merekam perbuatan mereka. Aku sudah gak sabar, untuk segera menggugat cerai Raka." Aira nampak bersemangat, ingin segera mengetahui hasilnya. Beda jauh dengan Suraj, yang terlihat lemas akan memberitahunya.
"Sayang, apa kamu udah pencet tombol on-nya di camera itu?" tanya Suraj sebelum menjawab pertanyaan dari kekasihnya.
"Udah, kok. Emangnya kenapa?"
__ADS_1