
Sampai juga Suraj di tempatnya. Segera ia turun, diikuti oleh maminya. Mereka langsung menemui orang yang bersangkutan, yang memperbaiki benda itu.
Terlihat, pintu sudah separuh tertutup. Pertanda, mereka akan segera mengakhiri aktivitasnya di tempat itu. Buru-buru Suraj menahannya.
"Tunggu dulu, mana bos kalian?" tanya Suraj pada salah satu dari dua orang pria yang terlihat sibuk berbenah. Di duga mereka adalah pegawai di toko itu.
"Bang Woland, ya? Barusan aja pergi, nganterin istrinya. Tunggu bentar lagi juga ke sini," jawab pria itu, melanjutkan pekerjaannya. "Ada yang bisa saya bantu, emmm Mas?" tawar pria itu bingung menyebut Suraj.
"Saya mau ngambil kamera yang kemarin dibenerin di sana. Woland ada nitip ke kalian, gak?" tanya Suraj lagi. Kali ini tertuju pada dua orang itu.
"Oh, kamera atas nama mas Suraj, ya? Saya ambilkan dulu. Tadi, mas Woland nitip ke saya," sahut, pria yang bertubuh tinggi, berkulit putih masuk ke dalam. Tak berapa lama, kembali dengan membawa benda itu yang di bungkus paper bag berukuran kecil. "Ini," ucapnya di berikan pada Suraj.
"Nah iya, ini. Terimakasih ya? Kami permisi dulu," balas Suraj mengecek isi paper bag itu.
Yakin dengan benda yang ia hawa adalah barang yang ia cari. Baik Sorak maupun Yuni, cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Kita cek di rumah aja, Mi!" seru Suraj, pada maminya. Saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Iya, Sayang. Semoga masih bisa terekam semua perbuatan Citra dan berondongnya itu," balas Yuni tak sabar.
Sesampainya di rumah, mereka sudah disambut oleh Malhotra. Pria bertubuh kekar itu, walau usianya tak lagi muda masih terlihat gagah dan tampan.
"Akhirnya kalian pulang juga," ucapnya lega.
__ADS_1
"Ada apa, Pi?" Yuni mendekat ke suaminya. Melihat ada hal serius yang akan disampaikan pria itu.
"Papi cuma mau kasih kabar baik sama kalian," ucap pria itu lagi, dengan wajah yang sedikit semringah. "Papi udah sewakan pengacara untuk Aira. Buat dampingi dia menggugat cerai Raka," sambung Maholtra, senang.
"Kayaknya gak perlu deh, Pi." Suraj menyautnya, membuat orangtuanya sedikit terkejut.
"Loh, kok gitu?" Maholtra yang melempar tanya lagi.
"Aira sudah resmi bercerai dari Raka. Tadi pagi, dia udah tanda tangan surat gugatan cerai dari Raka."
Wajah Maholtra terlihat serius, memperlihatkan kesan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dan rasanya terlalu naif, jika tidak ada sesuatu di balik itu semua.
"Aneh," celetuknya berpikir keras. "Keknya ada yang gak beres, deh!" sambung pria itu lagi.
"Suraj juga mikirnya gitu?" timpal Suraj, sependapat dengan papinya.
"Pasti ada sesuatu di balik itu semua," sambung Maholtra hanya bisa pasrah. Sudah tidak bisa berbuat apapun, selain menunggu kabar selanjutnya dari Aira.
"Aira terlalu lugu, Mi. Jadi, mereka dengan mudahnya mengelabui Aira. Entah rencana apa lagi yang mereka susun." Suraj mulai terlihat gelisah, sampai saat ini tidak ada kabar dari sang kekasih.
"Sayang, kita cek rekamannya dulu. Mami gak sabar, pengen liat semuanya deh!!!"
"Kalian berhasil membawa kamera itu?" tanya Maholtra mulai bersemangat mendengar kabar baik itu.
__ADS_1
"Iya, Pi."
********
Mereka sudah berada di ruang kerja, Suraj sudah sibuk dengan lantob penghubung kamera itu. Dengan harap-harap cemas, mereka menunggu hasilnya. Sedetik, dua detik, video pertama berhasil di putar.
"Alhamdulillah," seru Suraj lega, begitu melihat benda itu berfungsi dengan benar. .
Suraj terpaksa mempercepat waktunya, menunggu sampai beberapa menit gambar masih tetap sama. Dan disaat itulah ketegangan mulai terlihat di wajah mereka bertiga. Saat kamera itu merekam perbincangan antara Citra dan Raka, yang mengatakan bahwa semua harta warisan itu berlimpah atas nama Aira.
"Ya Tuhan, bener dugaan aku!" Suraj mengusap wajahnya kasar, rasa khawatir kembali meliputi hatinya. Mengingat saat Aira mengatakan menanda tangani surat cerainya. Dan mengeluh ribet karena banyak yang harus ditandatangani.
"Ada yang gak beres ini," ucap Maholtra, yang sempat sepemikiran dengan Suraj.
Menit berikutnya tak kalah mengejutkannya lagi. Saat satu persatu masa lalu Citra, terbongkar di sana. Saat ia menjebak mawar, ibu kandung Aira dan pengakuan bahwa Aira bukan anak kandungnya.
Gemuruh dalam dada Suraj kian mencuak, mendengar hal itu. Menyanyangkan kelicikan Citra yang membuat keluarga Aira menderita.
"Bener yang mami pikirkan selama ini. Aira gak mungkin anak kandung Citra, secara dari wajah mereka saja sangat jauh. Dan yang paling penting adalah. Kelakuan Citra, yang tidak bisa di sebut sebagai orang tua." Kali ini Yuni yang berkomentar.
"Iya, Mi. Suraj juga sempat punya pikiran kayak gitu."
Meski sudah mendapatkan bukti-bukti kejahatan Citra dan Raka. Mereka belum berhenti menonton rekaman itu. Hingga puncaknya yang membuat tubuh mereka ngilu melihatnya. Dengan bringasnya, Citra dan Raka bermain di kamar itu. Hingga kamera itu tak merekam apapun lagi.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kok ada manusia yang berhati iblis kek mereka berdua," desis Yuni, benar-benar gemes ingin menyincang daging kedua manusia laknat itu.
"Suraj harus kasih tau Aira sekarang," sambutnya langsung beranjak.