
Tak akan pernah hilang dalam ingatan Mawar. Menapaki jalanan yang terjal menuju ke bekas rumahnya dulu. Di tempat itulah, ia meratapi nasibnya yang malang. Tak tau apa-apa, tiba-tiba suaminya menalak dan mengusir dirinya.
Meski sudah berubah, banyak bangunan baru. Nalurinya tidak bisa di bohongi untuk sampai di rumah itu. Rumah yang penuh kenangan manis dan juga pahit. Bangunan itu sudah banyak berubah, saat terakhir ia tinggalkan dulu. Tepat sembilan belas tahun yang lalu. Di mana, usia Aira saat itu baru menginjak umur tiga bulan.
Tanpa terasa, air matanya luruh. Teringat kejadian itu. Satu hal yang membuat wanita itu menyesal, tidak pernah datang dan menanyakan kabar lagi. Setelah tahu, Citra yang menggantikan posisinya.
Niatnya ingin melihat Aira, berubah nestapa yang menyakitkan. Dengan hina, Citra menyeretnya pergi, sebelum ia berhasil melihat wajah cantik Putri kecilnya. Dan saat itu juga, Citra mengancam akan menyakiti Aira. Jika ia nekat datang lagi ke tempat itu.
Dia bisa apa, selain pasrah menerima keadaan. Apalagi, kehidupannya yang dulu jauh dari kata layak. Jangankan untuk membawa Aira pergi, memberikan anak itu sebotol susu, untuk berteduh saja, dia tidak punya tempat tinggal yang layak. Karena itu, Mawar membiarkan putrinya hidup bersama suami dan istri barunya.
Cukup lama, Mawar berdiri di depan pintu pagar yang tak tertutup. Tak terasa bulir air matanya jatuh membasahi pipi. Setelah sekian lama, hanya satu yang menjadi pengharapan bagi wanita itu. Bisa bertemu kembali dengan Aira.
Tekadnya sudah bulat, untuk masuk ke rumah itu. Dengan langkah yang pasti, ia berhasil menerobos pagarnya.
Sekarang, ia sudah berdiri di depan pintu utama. Tangannya mulai menekan bel yang ada di samping gagang pintu.
"Buka, Citra. Kamu pasti ada di dalam. Itu mobil kamu, masih terparkir di halaman." Dengar perasaan yang bercampur, Mawar menunggu Citra membuka pintu.
Beberapa kali, bel ia tekan. Belum ada tanda-tanda ada orang membuka pintunya. Nyaris putus asa, dan mulai membalikkan badan untuk pergi dari sana. Suara orang membuka kunci dari dalam, mengurungkan niatnya.
"Mawar!!!" seru Citra, dengan ekspresi yang sulit untuk di gambarkan. "Untuk apa kamu datang ke sini?"
Seulas senyum getir, terpancar dari sudut bibir Mawar. Melihat Citra yang terkejut dengan kedatangannya. "Ternyata ingatan kamu kuat juga, ya?" sarkas Mawar, menyeringai.
"Hahahaha, wanita BODOH sepertimu, tidak mungkin bisa aku lupakan. Karena kebodohan kamu menampung aku di rumah ini. Mempermudah jalanku untuk menikmati semua kekayaan dari suamimu," tandas Citra tak ingin kalah.
__ADS_1
"Makan tuh kekayaan mas Abdullah, aku sudah gak butuh itu. Lihatlah sekarang!" Mawar memperlihatkan keanggunannya di depan Citra. "Hidupku jauh lebih baik daripada kamu. Pemakan uang haram!!!"
Merasa tersudut, emosi Citra semakin tak terkendali. "Brengsek, kamu!!!" Satu tamparan melayang ke pipi Mawar. Terapi, wanita itu berhasil mencegahnya.
"Kamu tidak bisa berbuat seenaknya lagi sama aku, Citra!" Di hempasan tangan Citra, hingga wanita mengerang kesakitan. "Dimana anakku?" Mawar menerobos masuk ke dalam. Kebetulan juga Raka baru saja turun dari lantai dua.
"Hey, siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke rumah ini sembarangan." Raka berusaha menghentikan langkah Mawar.
Terbesit di benak Mawar, siapa pria itu? Dimana Abdullah? Kenapa dia tidak menemukan mantan suaminya itu. Hingga langkahnya tercekat, saat melihat foto seorang wanita yang mirip dengannya terpampang di ruang tengah.
Mawar berbalik arah, mendekati Citra yang menyusulnya. "Apa itu, Aira?" tunjuknya pada benda yang menempel fi dinding. "Katakan, dimana anakku? Katakan?" Mawar mengguncang-guncang tubuh Citra. Memaksa wanita itu untuk bicara.
"Dia sudah mati!!!" tandas Citra berbohong.
"Lepas!!!!!" sentak Citra, menghentakkan bahunya. "Aira sudah mati tiga tahun yang lalu. Meninggal, nyusul papinya yang sakit-sakitan. Dan sekarang, tinggal aku dan suami baruku yang tinggal di sini," sambung Citra mengarang cerita.
Raka hanya bisa melongo mendengar perdebatan mereka. Dia tidak menyangka. Alam begitu cepat, menjawab kegundahan hatinya. Terbesit rencana kotor dalam pikiran pria itu. Hingga akhirnya, uluran tangan Citra menghentikan lamunannya.
"Kenalin, ini suami baruku. Masih muda, 'kan?"
"Ini gak mungkin." Mawar menggeleng tak percaya. "Kamu bohong, kan Citra!!!"
"Terserah, mau percaya atau tidak!! Kamu boleh pergi, sekarang!" usir Citra mendorong tubuh mawar.
*******"*
__ADS_1
Pyarrrrr
Aira menyenggol gelas kaca, hingga terjatuh ke lantai. Tiba-tiba saja, jantungnya berdegup kencang. Pikirannya tidak fokus di tempat itu.
"Sayang, kamu gak apa, kan?" Suraj langsung menghampiri wanita itu. Yang menatap kosong ke lantai.
"Perasaan aku gak enak. Kepikiran mami. Ada apa, ya?"
"Kamu tenang dulu, sini."
Suraj mengajak Aira menjauh dari pecahan gelas yang berceceran di lantai. Duduk di bangku panjang, dapur cafe.
"Sayang, kamu itu capek. Jadi gak fokus sama kerjaan. Lagian, udah selesai semua, kan? Lebih baik kamu istirahat di rumah. Aku antar, yuk!" usul Suraj yang tak tega melihat wajah Aira memucat.
"Kita tutup aja cafenya. Udah selesai ini acaranya, kan?"
"Iya, sayang. Aku juga mau ngecek keadaan mami."
Suraj membantu Aira berdiri. Setelah itu mereka sama-sama jalan keluar. "Bellian, nanti kalau udah siap beres-beres nya, tutup aja ya cafenya." Kemudian berbicara pada Bellian.
"Iya, Mas. Beres!!"
"Saya mau antar Aira pulang. Keknya kecapekan dia!"
"Siap!!"
__ADS_1