
Acara pelelangan itu, juga didengar oleh keluarga Maholtra. Pria yang menjabat sebagai direktur utama Mahardika Production itu sudah menyiapkan sesuatu. Sebuah kejutan yang luar biasa, yang akan menyeret Raka ke penjara.
Diam-diam, pria itu menyuruh orang untuk mengambil bukti cctv di rumah Aira. Saat Raka mencuri surat rumah dan cafe, terekam jelas di sana. Bodohnya, Raka tidak menyadari itu.
Berbekal petunjuk dari Citra, yang sepertinya mulai berpihak pada mereka. Maholtra berhasil mengambil dan mengumpulkan bukti-bukti itu. Meski, kemungkinan besar. Nama Citra juga akan ke seret dalam jalur hukum itu. Tetapi, Maholtra sudah mempunyai cara. Agar wanita itu tak sampai di penjara.
"Papi beneran mau ikut pelelangan itu?" tanya Suraj, bingung. Tiba-tiba saja, papinya punya minat untuk memiliki rumah dan cafe milik Citra.
"Yakin, dong. Kenapa, gak?" jawab pria itu, mantab. "Lagian kamu ini gimana sih, Suraj. Sebesar mana perjuangan kamu mencari Aira? Sampai sekarang kok belum ketemu juga," sambungnya, meremehkan Suraj.
Maholtra sangat geram, melihat ketidakpekaan Suraj dalam melihat Kettyera. Yang sebenarnya wanita itulah yang ia cari.
"Suraj dah berusaha, Pi. Tapi, takdir belum mempertemukan kami," sanggah Suraj tak terima.
"Hmm, bukan takdir yang belum mempertemukan kalian. Tapi, kamu tang gak peka. Melihat Aira yang padahal dekat sama kamu," celetuk Maholtra geram. Suraj membulatkan matanya sempurna. Terkejut dengan perkataan papinya. Jiwa keponya langsung meronta.
"Maksud, Papi?"
"Halah, pikir aja sendiri. Kamu ini seorang dosen. Tapi, gitu aja gak peka. Udahlah, papi mau secepatnya kasih kejutan ke Raka."
Maholtra pergi meninggalkan kebingungan dalam diri Suraj. Akhir-akhir ini, dia dibuat pusing dengan tingkah papinya yang aneh. Di mulai dari menggantikan posisinya menemui klien. Yang sampai saat ini, pertemuan dengan wanita itu sedikit berkesan di hatinya.
Sejak pertemuan itu, bayang-bayang Kettyera seolah menyelinap. Masuk ke alam bawah sadarnya. Suraj sendiri heran dan merasa bingung, wajah wanita seperti tak asing baginya. Mereka seperti sudah mengenal lama.
__ADS_1
*********
Rumah mewah milik Aira dipenuhi oleh para pelelang yang akan berlomba-lomba ingin memiliki hunian itu. Mereka kebanyakan dari golongan menengah atas. Raka sampai menyewa tenda, yang didirikan di halaman. Saking banyaknya yang minat.
Tempat itu sudah mulai dipenuhi para pelelang. Raka menunjuk salah seorang dari rekannya untuk menjadi moderator acara tersebut.
Seorang pria gagah, dengan tubuh yang atletis berdiri di depan. Pria itu mulai membuka acara tersebut.
"Baiklah, sesuai dengan kesepakatan kita. Yang berhak memiliki cafe dan rumah ini adalah orang yang menawarkan harga paling tinggi," ucapnya membuka percakapan.
Mereka tampak mengangguk. Seulas senyum terpancar dari bibir Raka. Tak lepas, raut wajah kebahagiaan menyelimuti dirinya. Seusai yang ia inginkan, rumah dan cafe itu akan ia cairkan. Setelah itu, uangnya akan ia bawa kabur ke luar kota. Dia akan membuka usaha dengan hasil penjualannya.
"Ok, kita buka dengan harga Kinara ratu juta!" seru pria itu, menabuh gong.
"Satu milyar!" sambung seorang pengusaha batu bara, yang menawarkan harga paling tinggi.
"Tiga milyar," sahut yang lain.
"Tiga koma dua milyar," celetuk model terkenal ibukota.
"Tiga koma lima," sambut yang lain.
Suasana hening sejenak. Semua mata tertuju pada model itu. Mereka menatap kagum dengan pesonanya.
__ADS_1
Tak ingin kalah, seorang pengusaha batu bara menyahutnya lagi. "Empat milyar!"
Harga yang cukup fantastis untuk rumah dan cafe itu. Mereka terdiam lagi. Seulas senyum kemenangan terpancar dari bibir pengusaha itu. Pria itu merasa memenangkan pelelangan tersebut. Hingga sebuah suara, kembali menggema di sana.
"Sepuluh milyar!" seru seorang pengusaha wanita yang sangat sulit untuk dilawan asetnya ada di mana-mana. Yang jelas, harga itu sudah ia pertimbangkan untuk sebuah kado terindah yang nantinya akan diberikan untuk anak tercinta.
"Wahhh, ada yang berani menawar dengan harga sepuluh milyar. Kira-kira masih ads yang mau menawarkan lebih tinggi lagi?" ujar moderator yang menatap bangga pada wanita itu.
Terlebih Aira, yang tak menyangka pemilik perusahaan kecantikan yang produknya ia promosikan, ternyata tertarik ingin memiliki rumah dan cafe itu. Apalagi, harga yang ditawarkan sangat tinggi. Sulit untuk ia lawan. Aira menunduk sedih, merasa gagal mempertahankan apa yang seharusnya ia miliki. Matanya mulai berembun, merunduk sedih.
"Aira, apa kamu akan menyerah?" tanya Kinos, yang tak tega melihat wanita itu bersedih.
"Tabungan aku gak cukup, Kak. Aku hanya punya uang lima milyar,'" jawab Aira, sedih.
"Pakai dulu uang aku, Ra. Gak apa-apa. Nanti, kita bisa cari lagi. Aku ada sepuluh milyar, kamu naikkan lagi harganya jadi sebelas milyar," usul Kinos, yang tak rela cafe dan rumah itu menjadi milik orang lain.
"Tapi, Kak--"
"Sebelas milyar!" seru Kinos, menjadi pusat perhatian mereka.
"Sebelas milyar. Wah sungguh harga yang sangat fantastis, buat kami. Ok, masih ads yang mau menawar lagi?" tawar moderator, yang semakin bersemangat. Raka, hanya tersenyum lebar. Tak menyadari bahaya sedang mengancam dirinya.
"Lima belas milyar!" sebut seseorang yang baru saja datang.
__ADS_1