Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Persiapan


__ADS_3

Panas yang menjulur dalam hatinya, menular hingga ke seluruh tubuh Siraj. Kenyataannya sekarang adalah, dia gagal menyakinkan Aira.


Usai mendengar cerita dari Bellian tadi, ia benar-benar geram melihat kelicikan Raka dan Citra. Mereka menggunakan segala cara, demi bisa mencapai tujuan. Termasuk berbuat licik.


"Aku gak akan membiarkan pernikahan kalian bertahan lama. Aku bakal ikuti permainan kalian!" Dengan mengepalkan tangannya, Suraj pergi dari rumah itu.


*************


Kalau dalam film-film, jagoan akan kalah dulu. Itupun yang dirasakan oleh Suraj. Dia menganggap kegagalannya, sebagai keberhasilan yang tertunda. Akan sampai kapan, Aira bisa bertahan hidup bersama orang-orang licik seperti mereka.


Dengan langkah lunglai, Suraj masuk ke rumah. Ternyata kedatangannya di tunggu oleh Yuni, yang mendapat kabar dari Nadine. Kalau anaknya itu tidak ngampus hari ini. Padahal jelas-jelas, pamit dari rumah untuk pergi mengajar.


"Ya ampun, Suraj. Untung kamu datang tepat waktu," ujar Yuni gelisah. Wanita itu memperhatikan lekuk wajah sayu pada putra semata wayangnya. "Kamu kenapa, sayang?" Setelah itu menangkup ke dua pipi Suraj.


"Aira, Mi." Suraj menjeda kalimatnya.


"Aira kenapa?" tanya Yuni lagi. Namun kali ini dengan nada khawatir.


"Aira udah resmi menikah sama Raka." Dengan lemas, Suraj menceritakan semuanya pada Yuni.


"Astaghfirullah, kok sampai segitunya sih. Kasihan banget Aira, selalu dibodohi oleh mereka." Yuni hanya bisa menumpahkan kekesalannya pada Suraj. "Kamu sih, gak gercep. Padahal mami udah suka banget loh sama gadis itu."


"Maaf, Mi. Ya sudah, Suraj ke kamar dulu ya? Mau istirahat, capek."


Setelah mendapat persetujuan dari Yuni. Suraj pergi ke kamar. Membaringkan tubuh di ranjang. Pikirannya membayangkan hal yang buruk menimpa Aira.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku harus apa sekarang?"


Tak berapa lama, Yuni menyusul. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, wanita itu pun masuk. "Sayang, ada Nadine di depan. Kaku temui dulu deh, tuh anak. Mami enek liatnya. Kamu usir aja sana!" ujar Yuni menggeleng.


"Ya ampun, Mi. Ngapa gak langsung di usir aja sih tuh orang! Bikin gedek aja!" keluh Suraj pun ikut gemes melihat wanita itu. Yang tidak tahu malu, datang ke rumahnya.


"Udah, eh dianya kagak percaya. Dia liat ada mobil kamu parkir di depan."


"Satu masalah belum selesai. Sekarang, timbul masalah baru. Apa sih maunya tuh orang. Gak ada bosan-bosannya ganggu hidup gue."


Suraj menggerutu, sambil beranjak dari sana untuk menemui Nadine.


Di ruang tamu, nampak seorang wanita yang sedang terlihat gelisah menunggu kedatangannya. Suraj, lekas mendekat.


"Mau apa kamu datang ke sini?" Dengan ketus, Suraj pun bertanya.


Suraj tersenyum mengejek. "Nggak usah sok peduli sama aku. Bas!" sarkasnya, menjauh. "Langsung aja poinnya. Mau apa datang ke sini. Gak usah basa-basi. Enek, tau."


"Kaku kenapa sih, ketus gitu sama aku. Di mana Suraj yang aku kenal dulu. Yang selalu bersikap manis, yang baik!"


"Ckckck, kamu sadar ngomong kek gitu." Suraj berdecak kesal. "Sadar, gak?" tegasnya menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Maaf," balas Nadine menyesal. "Bukankah aku sudah meminta maaf padamu."


"Dan aku pun sudah berulang kali, sudah memaafkan kamu," sambar Suraj. "Udah, 'kan? Selesai!"

__ADS_1


"Aku mohon, kembali denganku. Ternyata hanya kamu yang aku sayang, Suraj."


Suraj tergelak geli. Mendengar pernyataan Nadine. "Hahaha, lucu banget ya kamu ini. Udah alih profesi ya? Jadi tukang lawak?"


"Aku gak main-main sama ucapan aku, Suraj. Aku serius," ujar Nadine, memasang wajah sendu.


"Sama, Nadine. Aku pun begitu? Aku gak pernah main-main dengan ucapanku. Bagiku, mantan itu sampah. Yang harus di buang ke tempatnya. Apalagi, mantan kayak kamu!!! Gak akan pernah aku pungut lagi. Lebih baik kamu pergi, sekarang!!"


Dengan kasar, Suraj menarik tangan Nadine. Membawanya keluar dari rumah.


"Lepas, Suraj. Kamu kok jadi kasar sih. Lepas!" Nadine meronta-ronta, agar bisa di lepaskan oleh Suraj.


"Sekarang, pergi!!"


Jideeewr...


Pintu di banting oleh Suraj, kuat. Pria itu menarik napasnya dalam. Mengeluarkan perlahan. Agar bisa sedikit menetralkan perasaannya.


***********


Sepasang pengantin baru nampak semringah di kamar. Matahari sudah pergi dari peredarannya, beberapa jam yang lalu. Sebagian penghuni bumi sedang mengistirahatkan diri. Begitupun juga dengan dua manusia itu. Setelah drama yang terjadi hari, ini. Waktunya melepaskan penat.


Di haeadbord ranjang, Raka menyenderkan punggungnya di sana. Sementara Aira, menyender di dada pria itu. Dengan lembut, pria itu membelai rambut istrinya.


"Aku gak nyangka, kita sudah resmi menjadi suami istri."

__ADS_1


"Iya, Mas. Makasih ya udah mencintaiku." Aira mengangkat wajahnya agar bisa melihat dengan jelas sosok di hadapannya itu.


"Aku yang seharusnya makasih sama kamu." Raka menyentuh dagu istrinya, mereka saling melempar senyum. Pandangannya terkunci. Siap melakukannya.


__ADS_2