
Napas mereka saling memburu, bias saling membungkam bibir. Lidah Raka menari-nari di rongga mulut Citra. Membuat wanita yang sudah berada dalam kungkungannya mendesah nikmat. Sampai hampir kehabisan napas.
Emmmm
Tubuhnya menggeliat, menahan sensasi yang luar biasa. Puas menjelajahi tubuh Citra dengan lidahnya. Kejantanannya tak lagi dapat di tahan. Meminta segera di tuntaskan.
Entah mulai kapan mereka melucuti pakaiannya. Yang jelas, mereka sudah sama-sama polos. Mempermudah Raka mengeksplor kelihaiannya memuaskan wanita itu.
Sekali hentakan, tubuh mereka sudah bersatu. Yang terdengar di ruangan itu hanya ******* dan rintihan penuh nikmat dari dua pendosa yang sedang di bumbung awang-awang. Hingga erangan panjang mengakhiri semua.
"Aku puas, sayang?" ucap Citra dengan napas tersengal.
"Aku juga, puas sayang. Kamu memang luar biasa. Muachhhhh." Di balas manis oleh berondong kesayangannya itu.
"Aku masih ingin kamu di sini," rengek Citra tak ingin pisah dengan Raka. "Nanti, kita ulangi kenikmatan itu lagi." Dengan wajah penuh mendamba, Citra memainkan jarinya di bidang dada Raka.
"Hmmm, aku juga pengen. Tapi, nanti kalau Aira terjaga gimana?"
"Emm, iya juga sih!!" Seolah tak ingin berpisah dengan berondong kesayangannya. Citra memperat pelukannya.
"Em, aku ke kamar Aira dulu, ya?" pinta Raka berpamitan pada Citra.
"Janji ya. Jangan berikan junior kamu sama anak itu. Aku gak rela. Dia hanya milikku." Citra meremas junior Raka yang belum terbungkus CD.
"Arggh, kau menyakitinya sayang?" Raka mengerang, di peganginya benda pusaka itu.
__ADS_1
"Makanya. Jangan macam-macam."
*******************
Sesosok tubuh damai masih memejamkan matanya damai. Dengan bibir yang setengah terbuka, Aira tidur dengan nyenyak. Selama kurang lebih dua jam, ia tak sadar. Kalau Raka tidak sedang ada di sampingnya.
Tiba-tiba saja tubuhnya menggeliat kecil.
Tak lama setelah itu, matanya mulai terbuka. Ia mulai mengedarkan pandangannya ke langit-langit. Aira baru ingat, kalau dia sudah resmi menjadi seorang istri. Kemudian, wanita itu mulai menoleh ke samping. Bingung, Raka tidak ada di sana. "Loh, mas Raka mama?"
Aira lekas beranjak, bangun untuk mengecek ke kamar mandi. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada orang di sana. "Di kamar mandi gak ada, kemana ya?"
Baru juga akan melangkah keluar, Raka lebih dulu masuk ke dalam. Mengundang tanya untuk Aira. "Mas, dari mana?"
Raka yang saat itu tidak menyadari istrinya sadar, bingung mencari jawaban yang tepat. "Em, itu tadi ... Ke ... Dapur. Iya ke dapur. Haus minum, gerah banget." Raka mengibaskan pakaiannya, seperti orang kegerahan. "Kamu bangun, sayang?"
"Bau apa sih!" Raka pura-pura bingung. Mengendus-endus tubuhnya. Dia baru sadar, kalau tubuhnya tak sengaja terkena air kenikmatan. Sehingga meninggalkan bau menyengat.
"Udah, ah. Kita tidur aja, yuk. Aku capek banget." Tak ingin menambah kecurigaan dari Aira. Raka buru-buru mengajaknya tidur.
Sikap Raka sedikit aneh menurut Aira. Mengeluh capek, padahal mereka tidak melakukan apapun. Rasa curiga, kembali menggenangi pikiran wanita itu.
**************
Pekatnya malam menjadi saksi bisu kegelisahan Suraj. Pria itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Memikirkan wanita yang ia cinta. "Ya Tuhan, Aira. Raka pasti udah nglakuin itu sama kamu." Hembusan napas kasar, menjadi bukti. Kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku harus apa, biar bisa membuktikan ke Aira. Kalau Raka tidak sebaik yang ia kira."
Tidak bisa tinggal diam, Suraj mengambil ponselnya. Mulai mencari nomor Aira. Berharap wanita itu belum terlelap. Hitung-hitung, bisa menggagalkan rencana malam pertama mereka.
Panggilan pertama tidak di jawab. Yang ke dua baru ada balasan dari sana. Gugup, bingung, menderu jadi satu. Apa yabg akan ia katakan pada wanita itu.
"Ra, apa kamu belum tidur?" Satu pertanyaan lolos dari bibir Suraj. Berharap, Aira mau menjawabnya.
Kejadian siang tadi, meninggalkan penyesalan dalam diri Aira. Bahkan tindakan yang tidak seharusnya ia lakukan, terjadi begitu saja. Aira sadar, itu semua bukan kesalahan Suraj. Dia tahu, perasaan pria itu saat ini.
"Belum, kamu sendiri kenapa belum tidur."
Suraj merasa lega, Aira mau menjawab pertanyaannya. Bahkan, menanyakan keadaan dirinya.
"Hehehehe, iya nih. Di sini gerah banget." Raka terkekeh, untuk menghilangkan kegugupannya.
"Maafin tindakan aku siang tadi, ya. Aku gak bermaksud ...." Aira menghentikan kalimatnya, saat sadar statusnya sekarang. Tidak sepantasnya ia menerima telepon dari laki-laki lain. Tanpa sepengetahuan suaminya.
"Maaf, aku gak bisa lama-lama ngomong sama kamu."
Panggilan pun terputus. Suraj hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Ruang geraknya untuk memperjuangkan wanita itu sudah terbatas. Ia tidak bisa terlalu dekat dengan Aira.
Tapi dia punya satu cara, agar selalu bisa dekat dengan wanita itu.
****""*
__ADS_1
Maaf ya novel ini alurnya lambat. gak sesuai dengan keinginan kalian. kalian pasti tahu lah alasannya. semoga kalian mau ngerti dsn gak bosan dengan cerita ini.