Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Terungkap sudah


__ADS_3

Semua orang yang ada di tempat itu langsung menoleh ke sumber suara. Seorang pria paruh baya yang nampak berwibawa dengan dua orang yang mengawalnya berjalan mendekat ke arah podium.


Ekor mata Raka tak lepas memandangi pria tersebut. Derap langkahnya berirama dalam jantungnya. Membuat sekujur tubuh pria itu gemetaran. Dalam benaknya terlintas uang sebanyak itu akan segera menjadi miliknya. Ia sangat yakin, tidak akan ada orang lain yang akan menawarnya lagi.


"Wow lima belas milyar!" seru moderator, menggugah lamunan Raka.


Seulas senyum terpancar dari sudut bibirnya yang seksi. Setelah Maholtra tepat berada di hadapannya.


"Saudara Raka," sapa pria itu mengulurkan tangan. Ia tersenyum tipis, seraya mengangguk melihat wajah semringah dari pria di hadapannya itu.


"Pak Maholtra," sambutnya dengan suka cita.


"Apa anda yakin, akan menjual rumah ini dan cafe milik anda?" tanya Maholtra memancing.


Dari sudut lain, Aira tak henti-hentinya memperhatikan mereka. Meski yang akan membeli rumah dan cafe itu adalah orang baik. Tetap saja, ada ketidakrelaan dalam dirinya. Mata wanita itu kembali berair. Meski, susah payah ia tahan, agar tak jatuh di hadapan mereka. Nyatanya sulit, luruh begitu saja. Mengundang perhatian seseorang yang berjalan mendekatinya.


Untuk pertama kalinya, Mawar melihat wanita biru sebagai bayi mungil yang ia tinggal dulu. Namun, sekarang tumbuh menjadi wanita yang kuat, wanita yang gigih, tak terkalahkan dari siapa pun. Yang membuat dirinya bahagia adalah di balik kesuksesan yang diraih anaknya. Tak sengaja, ada campur tangan darinya. Wanita itu ikut andil dalam membesarkan namanya.


Dari sudut hatinya yang paling dalam. Ingin sekali ia mengatakan, kalau dia adalah mami kandungnya. Namun, keraguan itu semakin tebal mrmbanyanginya. Apalagi, saat itu dirinya lah yang meninggalkan Aira. Pergi tanpa membawa anak itu.


"Aira," panggil Mawar, setelah berada di hadapan wanita itu.


"Mami Mawar," sambutnya, langsung menghambur ke pelukan. "Udah lama banget gak ketemu Mami."

__ADS_1


Mawar tak bisa lagi berkata-kata. Untuk pertama kalinya, ia memeluk anaknya. Setelah dua puluh tahun mereka berpisah. Kerinduan yang kian memupuk, perlahan mencair. Meski, ia belum berani mengakuinya. Kalau dia adalah ibu kandung Aira.


"Iya, Sayang. Mami juga kangen." Sambil mengusap-usap punggung wanita itu.


***********


Suasana riuh masih terdengar di atas podium. Setelah moderator mengumumkan kalau Maholtra lah yang menjadi pemenang acara lelang tersebut. Secara otomatis, pria itu yang nantinya akan menjadi pemilik dari rumah dan cafe itu.


"Gimana, Pak Maholtra? Pembayarannya akan kita lakukan di sini atau kantor notaris?" tanya Raka, tak henti-hentinya mengulas senyum.


"Saya kira di sini aja," jawab Maholtra, semakin membuat Raka tersenyum lebar.


"Ok!" Raka memberi kode pada rekannya untuk mengambil surat-suratnya.


"Tunggu dulu!" cegah Maholtra, pria itu pun berhenti.


"Gak usah cemas gitu, saudara Raka." Maholtra menepuk pundak pria yang saat ini terlihat panik. "Sebelum pembayaran rumah dan cafe ini. Saya akan menunjukkan sesuatu pada anda," ucap Maholtra sangat tenang.


"Lebih baik anda duduk. Takutnya, anda gak kuat dengan kejutan yang akan saya berikan pada anda," usul Maholtra, tersenyum mengejek.


Mau tidak mau, Raka menuruti keinginan pria itu. Perasaannya berubah tidak enak. Saat beberapa anak buah dari pria itu tampak sibuk memasang layar proyektor. Entah apa yang akan dilakukan oleh Maholtra. Raka sama sekali tidak bisa menebaknya.


"Apa ini, Pak?" tanya Raka lagi. Sekarang wajahnya terlihat bingung.

__ADS_1


"Anda bisa lihat sendiri, nanti," jawab Maholtra, mendampingi tawanannya. Ia tak lagi melihat wajah ceria dari Raka. Saat pertama kali, ia datang. Yang ada, raut wajahnya terlihat kusam, dan pucat. Bulir bening mulai nampak di dahinya.


"Silahkan anda tonton sendiri video ini!" seru Maholtra, saat layar sudah mulai nyala. Tempat itu kembali terdengar riuh. Mereka berbisik-bisik, dan menduga-duga. Sama halnya yang terjadi pada Aira dan Mawar. Mereka berdua fokus memperhatikan di depan.


Video-video kejahatan Raka terekam jelas di sana. Saat pria itu mengambil surat rumah dan cafe, saat mengusir Citra dari rumah itu, dipertontonkan kepada semua orang yang ada di sana.


Terkejut, sudah pasti iya terkejut. Semua bukti kejahatannya terekam jelas di sana. Tak hanya itu, kerja sama elit antara dirinya dan Citra. Juga nampak jelas di sana. Semua perbincangan antara dirinya dengan wanita itu terekam jelas. Sehingga semua orang tahu, kalau rumah dan cafe itu adalah milik Aira. Wanita yang terlihat lemas setelah menonton video tersebut.


Satu hal yang terekam jelas dalam ingatan wanita itu. Dari sekian banyaknya adegan yang diputar. Saat Citra mengatakan, kalau dirinya bukan anak kandung dari wanita itu. Bak di tikam seribu lencana, menusuk dalam diri. Tubuhnya lunglai, terduduk di kursi.


"Aira!" seru Mawar terkejut.


"Mami Citra bukan mami kandung aku," lirih wanita itu, menangis.


"Sabar, Say. Jangan nangis, ya?" Kinos ikut menenangkan wanita itu.


"Iya, Sayang. Kamu memang bukan anak kandung mami!" seru wanita yang baru saja datang ke tempat itu. Sontak, perbincangan mereka menjadi perhatian semua orang. Termasuk Raka dan Maholtra.


Perlahan, Citra mendekati Aira. Memegang tangannya. Penyesalan tergambar dari wajahnya. Sesaat kemudian, dia menatap Mawar yang sudah berlinang air mata. Ini sudah saatnya semua terbongkar. Rahasia itu harus ia ungkap sendiri.


"Semua ini adalah kesalahan mami. Mami yang misahkan kamu dari ibu kandung kamu, Sayang."


Citra menceritakan semuanya. Saat ia menjebak Mawar, laku di usir oleh suaminya. Saat Aira masih bayi, dan ia datang sebagai malaikat penyelamat. Yang merawat wanita itu dengan sabar, hingga kematian Abdullah yang tak wajar, ia ceritakan semua.

__ADS_1


Sorot kebencian tiba-tiba menyelinap dalam diri Aira. Setelah mendengar semuanya dari Citra. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini. Penderitaan yang ia alami, ternyata semuanya berawal dari Citra.


Amarahnya meluap-luap, melihat sosok di hadapannya. "Siapa ibu kandung aku?"


__ADS_2