
Segelintir bayangan ketakutan itu, membekas di hati Aira. Dan mulai berpikiran buruk tentang mami dan kekasihnya.
"Mamimu 'kan cantik, seksi, dan banyak duit lagi. Laki-laki mana sih yang gak akan tergoda?"
Bak disiram bensin, rasa panas langsung menyambar dalam hatinya. Aira membenarkan kata-kata wanita itu. Akan tetapi, mulutnya bungkam.
"Jangan sampai, kamu menyesal nantinya!" Lagi, pernyataan bu Sugeng semakin membuat dirinya tersudut.
"Maaf, Bu. Saya harus cepet-cepet sampai pasar, takut gak kebagian sayuran yang masih fres," pamit Aira yang sudah tak tahan mendengar ucapan wanita itu.
"Oh iya, silahkan kalau mau pergi."
Aira mulai melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.
"Kamu harus hati-hati, Ra!"
Satu pernyataan bu Sugeng yang harus membuatnya terdiam termangu di tempat itu. Rasa takut itu semakin besar, jika ia mengingat segelintir kejadian yang menurut dirinya janggal. Sikap maminya ke Raka memang sedikit aneh.
Bunyi klakson mobil dari depan membuyarkan lamunannya. Aira menepi, dan melanjutkan perjalanan ke pasar.
Benar saja, dia sudah terlambat. Beberapa penjual sayuran langganannya sudah pulang. Terpaksa, ia harus keliling mencari penjual sayur lainnya yang masih fresh.
"Bu, tomatnya satu kilo ya?" ujar Aira memegang buah berwarna merah yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Ok, apa lagi Neng," balas wanita penjual sayuran.
"Seladanya mau enam iket, terus timun ..." Aira terpaksa menghentikan kalimatnya, saat sadar seseorang menyentuh tangannya.
"Eh, maaf!" ujar seorang pria yang memakai jas berwarna biru muda. Pria itu tersenyum ramah kearahnya.
Segera, Aira menarik tangannya. "Kamu lagi," balas Aira ketus.
"Hai!" sapa pria itu ramah. "Wah sepertinya kita berjodoh ya?" sambung Suraj tersenyum semringah.
"Sembarangan kalau ngomong," ujar Aira tidak suka dengan ucapan pria itu. "Aku sudah punya pacar, ya? Gak usah gangguin," ketusnya yang langsung menjauh.
"Masa sih!" Diikuti oleh Suraj yang belum menyerah. "Kok aku gak pernah liat kamu jalan sama pacar kamu, ya?" ejek Suraj, ia tersenyum kecil.
"Kok diem, gak bisa jawab ya?" ejeknya lagi. Suraj menatap lekat wajah Aira, sementara wanita itu tak berani membalasnya. Setiap kali bertatapan dengan Suraj. Jantungnya berdegup kencang.
Angin apa yang memberanikan Suraj menyentuh dagu Aira. Sehingga ia bisa melihat jelas wajah gadis itu. Sampai pandangan mereka bertemu. Lama, mereka saling berpandangan. Larut dalam pemikiran masing-masing.
"Woiii, liat-liat dong kalau mau pacaran!" teriak seseorang dari belakang. Yang langsung mengagetkan mereka. Aira langsung menepis tangan Suraj.
"Ihhhh, lepas!!!"
"Yealah, galak amat sih!" sarkas Suraj dengan pedenya kembali meraih tangan Aira. "Kamu itu gadis yang unik. Aku suka." Dengan terang-terangan, pria itu memuji Aira.
__ADS_1
"Apaan sih!" Blush, wajahnya langsung berubah merona. Jarang, seorang laki-laki memujinya. "Udah ah, minggir!" Aira mendorong tubuh Suraj. "Aku udah telat ini," kelakarnya kesal.
"Mau aku antar nggak?" tawar Suraj dengan senang hati.
"Nggak usah. Nanti kamu telat lagi, diomelin mahasiswa kamu," ucap Aira kelepasan. "UPS!" Wanita itu langsung membungkam mulutnya.
"Hey, kamu tahu tentang aku?"
Suraj mendekat, dia menatap Aira dengan intens. Yang menjadi pertanyaan di benak pria itu. Bagaimana mungkin, Aira bisa tahu tentang pekerjaannya. Atau jangan-jangan. Argggh, pikirannya udah kemana-mana. Bahkan itu tidak mungkin terjadi, Aira menguntit dirinya.
"Ra, kamu belum jawab pertanyaan aku loh?" seloroh Suraj, setelah beberapa saat hening.
"Udah ah, aku mau pulang." Aira tak bergeming, wanita itu kembali berjalan.
"Ra, tunggu!" seru Suraj yang belum menyerah. "ok, kalau kamu gak mau jawab pertanyaan aku gak apa. Tapi, kamu gak bisa nolak, tawaran aku ini." Suraj meraih kantong plastik yang berisi belanjaannya. "Aku akan antar kamu sampai ke rumah!" sambungnya tak ingin dibantah. Pria itu bahkan sudah membawanya pergi.
"Ehhh tunggu!" Aira mengejarnya. "Aku gak mau diantar sama kamu." Aira berhasil menghentikan langkah Suraj.
"Kenapa, Ra?" Suraj bertanya, ia menangkap aura sedih dalam diri wanita itu.
"Bukankah aku sudah pernah katakan sama kamu." Aira menjeda kalimatnya. Entah mengapa, hatinya sakit jika mengatakan tentang Raka di depan Suraj. "Kalau ada hati yang aku harus jaga," sambungnya menghela napas kasar.
Suraj menyunggingkan sudut bibirnya. Dia tau persis siapa yang dimaksud dengan gadis itu. Bahkan, semua hal tentang Raka dia tahu. Sungguh, dia tidak tega untuk mengatakan semuanya pada Aira. Tentang keburukan Raka dibelakangnya. Dan memilih mencari waktu yang tepat, untuk menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Ok, aku nggak bakal maksa kamu. Untuk mau aku antar." Suraj mengembalikan kantong belanjaan itu pada Aira. "Tapi, kamu juga tidak boleh menolak. Untuk memberikan nomor hp kamu ke aku," sambungnya merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Setelah itu, diberikan pada Aira. "Kamu tulis nomor kamu di sini."