
Citra membuka amplop yang di berikan oleh Aira tadi. Senyum menyeringai menghiasi bibir wanita itu. Tak perlu repot-repot kerja, uang sudah datang sendiri.
Wajah bahagia juga terpancar dari Raka. Yang juga ikut senang, jika yang Citra semakin banyak. Dengan begitu, ia juga akan kecipratan dengan apa yang dimiliki oleh wanita itu.
"Apa-apaan ini, kok dikit banget? Gak sesuai sama yang kemarin!" sungut Citra, mulai curiga dengan Aira.
"Emang ada berapa, sayang?" tanya Raka, ikut menghitung jumlahnya. "Sepuluh juta," sambungnya terkejut. Pria itu tidak menyangka, kalau hasil penjualan cafe itu dalam semalam, bisa mencapai puluhan juta. Fantastis, bener-bener di luar dugaannya.
"Biasanya lebih dari itu," sambut Citra, sangat geram. "Apa mungkin, Aira mengambilnya?" tuduh wanita itu, mulai mengeluarkan sungutnya.
"Aku rasa begitu. Semenjak Aira kenal sama tuh cowok, dia makin berani sama kita," ujar Raka, menumpahkan minyak tanah dalam kemarahan Citra.
"Kamu benar, sayang. Kita harus pisahkan mereka!" usul Citra, mulai berpikir.
"Aku rasa gak perlu, sayang. Kita pake cara lain aja, untuk menyingkirkan Aira dari sini," sahut Raka, memberi ide.
"Maksud kamu?"
"Kita buat, semua harta Aira di limpahkan atas nama kamu. Buat surat kuasa yang di tandatangani sama Aira. Segera otomatis, semua yang Aira miliki, akan beralih atas nama kamu. Dengan begitu, kita bisa menyingkirkan Aira dari sini, dengan sangat mudah."
Mendengar usul Raka, Citra seolah mendapat angin segar. Ia tampak berpikir yang sama. Dan pada akhirnya mereka akan merencanakan sesuatu agar bisa menguasai semua harta Aira.
"Tapi gimana caranya? Biar si dungu itu tidak curiga?" ucap Raka, sedikit kesulitan mencari cara untuk mempermudah rencananya.
"Aku punya ide."
Citra membisikkan sesuatu ke telinga Raka. Dan pria itu tampak setuju dengan apa yang dikatakan olehnya. Terlihat beberapa kali, Raka mengangguk setuju.
__ADS_1
"Good idea," sabutnya tersenyum licik.
************
"Kak Aira, yakin gak mau anterin pesenam ini ke meja dia puluh? Yakin gak penasaran?" ulang Bellian menawarkan Aira untuk mengantar makanan ke pelanggan yang mirip sekali dengan wanita itu.
"Apaan sih, Yan." Aira menolaknya.
"Ya udah deh kalau gitu, aku aja yang antar." Walau sedikit kecewa, Bellian mengantarkan makanan itu ke meja dua puluh.
Sepeninggal Bellian, Aira masih sangat sibuk dengan urusannya. Suraj yang sudah selesai dengan kelasnya, ikut membantu pekerjaan wanita itu.
"Sayang, kamu harus cari karyawan lain," ucap Suraj memberikan usul. "Jadi, kalau ada pesanan kek gini, kamu gak keteteran."
"Iya, sayang. Rencananya juga gitu. Pengen nambah satu karyawan lagi. Tapi belum nemu yang pas," balas Aira, fokus dengan panci dan penggorengan.
"Yang mana?" Aira bertanya balik.
"Menyisikan uang hasil dari cafe," jawab Suraj, serius.
"Udah. Mulai malam tadi, aku sisihkan sedikit dari hasil cafe." Aira mulai meracik bumbu untuk membuat spaghetti.
"Good job, sayang."
"Itu juga karena kamu."
******************
__ADS_1
Bellian meletakkan semangkok tomyam dan secangkir cafe latte di atas meja tersebut. Dengan anggun wanita itu menyambutnya.
"Maaf, kalau boleh saya tahu. Cafe ini milik Citra, ya?" tanya wanita itu terlihat serius.
"Kok Ibu tahu, Ibu kenal sama mami Citra?" jawab Bellian, kemudian bertanya balik.
"Saya hanya menebaknya. Nama itu tidak asing di telinga saya," balas wanita itu mulai menikmati minuman yang sudah di sajikan oleh Bellian. "Saya harap, bukan orang yang sama dengan wanita yang saya kenal," sambung wanita itu, menatap kosong cairan berwarna cokelat itu.
"Wah, kayaknya punya kenangan buruk sama Citra nya Ibu." Bellian menimpali. "Kalau Citra pemilik cafe ini orangnya mengerikan," sambung Bellian mulai memaparkan tentang bos-nya.
"Maksud kamu?" tanya Mawar, mamanya. Ia sangat penasaran dengan sosok yang di ceritakan oleh pelayan cafe itu.
"Mami Citra jahat banget, masa iya selingkuh sama suami anaknya sendiri!" celetuk Bellian keceplosan. "Argh, maaf. Saya gak sepantasnya ngomong seperti itu sama Ibu. Saya permisi dulu."
Bellian cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ia merutuki kebodohannya. Yang membuka aib keluarga Aira. Padahal, ia sudah janji untuk menyimpan rapat-rapat masalah itu.
Sepeninggal Bellian, Mawar tampak termangu dengan ucapan wanita tadi. Terbesit dalam kepalanya, nasib putri yang ia tinggalkan hampir dua puluh tahun lalu. Apalagi, ia sangat mengenal ibu sambungnya. Wanita licik, yang berbuat apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
"Semoga, Aira tidak memiliki nasib yang sama dengan wanita yang di ceritakan pelayan tadi." Mawar bergumam, pilu.
"Kok jadi pengen ke toilet, ya?" sambung wanita itu, mengedarkan pandangannya ke arah dapur. "Di mana toiletnya?"
Mawar bangkit dari tempat duduknya, untuk mencari toilet di cafe itu. Saat ia sedang kebingungan, seorang wanita dari arah belakang menegurnya.
"Mau cari siapa, Bu?" sapanya dengan ramah.
"Saya mau cari toi...." Mawar menoleh, setelah melihat wanita itu, ia menghentikan kalimatnya.
__ADS_1