Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Ancaman


__ADS_3

Aira menangis tersedu-sedu, meracau kesal pada mereka berdua. Tanpa dosa, Citra justru menyeringai melihat Aia terpuruk.


"Cukup, Aira!" sentak wanita itu mulai bangkit, dengan melilitkan selimut ke tubuhnya. "Lebih baik, kamu keluar dari kamar mami." Kemudian mengusir Aira.


"Tanpa di minta pun, Aira akan pergi. Tapi, ceraikan dulu aku, Mas!!!* Sorot mata Aira tajam ke arah Raka. Menuntut pria itu untuk bicara. "Dasar bajingan kamu!!"


"Dan Aira gak pernah menyangka, kalau mami bakal tega nyakitin aku." Setelah itu beralih pada Citra, dengan tatapan sayu. "Salah apa, Mi. Aira. Selama ini, apapun Aira lakukan untuk Mami. Tapi, inikah balasannya? Merebut suami Aira."


Raka hanya diam sekadar apapun kata-kata yang keluar dari bibir Aira. Tak ada satupun ia balas. Dalam hati kecilnya, ia juga tidak tega melakukan itu pada wanita setulus Aira. Tapi, kebutuhan hidup yang memaksa pria itu hilang akal dan hatinya. Tak perduli, baik atau buruknya.


Berbeda dengan Citra, sepetinya momen itu sengaja untuk meluapkan kekesalannya pada wanita itu. Entah, dendam apa yang merasuki Citra. Sehingga menjadikan dia manusia tak berhati.


"Cukup, Aira! Gak usah banyak drama. Mami mau tegaskan sama kamu, Raka tidak akan pernah menceraikan kamu. Karena kami masih membutuhkanmu!!!"


Seperti mendengar petir di siang bolong, hati Aira terasa panas. Manusia macam apa itu, orang yang berada di hadapannya saat ini.


"Aku gak Sudi!!!" tandas Aira menolak. Walau dengan terisak, Aira melawannya. "Sampai kapan pun, aku gak Sudi kalian manfaatkan."


Citra justru tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Ia merasa, penolakan dari Aira adalah sebuah lelucon. Yang menggelitiknya. "Apa kamu tetap akan menolaknya. Kalau ...." Citra memperhatikan wajah Aira dengan lekat. "Kalau cafe dan rumah ini, mami jual!" tandasnya tepat di hadapan wajah Aira.


Aira hanya terdiam. Kelu mendengar itu semua. Apalagi, kalau ancaman Citra benar akan di lakukan. Dia akan menjadi seorang anak yang tak berguna, yang tidak bisa menjaga amanah dari papinya.

__ADS_1


"Apa kamu lupa, amanah papimu? Kamu di wanti-wanti untuk menjaganya, bukan?" sambung Citra lagi, mengingatkan Aira.


"Mi, kenapa mami lakukan ini. Kenapa Mi? Jangan Mi, tolong jangan jual cafe sama rumah kita. Aira mohon, Mi."


"Makanya, jangan mbantah mami. Kamu turutin saja kemauan mami."


Aira hanya bisa tertunduk lesu. Tak bisa lagi membantahnya. Dia bagaikan buah simalakama. Jika menuruti Citra, hidupnya akan hancur. Tapi, jika melawannya. Artinya, dia tidak bisa menjaga peninggalan papinya.


**********


Malam indah bertabur bintang. Menambah cerahnya hati Suraj, yang baru saja tiba di rumah. Wajahnya semringah. Karena berhasil membongkar kedok pasangan mesum itu. Dan ia yakin, tak lama lagi. Aira akan berpisah dengan suaminya yang laknat itu.


Keceriaan Suraj, mengundang tanya untuk maminya. Yang kebetulan melintas di ruang tengah. "Raj, baru pulang kamu?" Dan pria yang memiliki alis tebal, mata bak biji kenari itu pun mendekat.


"Kamu keliatan seneng banget," Yuni menyatukan alisnya. Penasaran apa yang sedang terjadi pads pria itu.


"Mami tebak, apa yang membuat Suraj bahagia?" Suraj justru melempar tanya pada Yuni.


Yuni tampak berpikir sejenak, setelah itu tersenyum semringah. "Pasti, Aira. Kamu ada kabar apa tentang Aira, sayang?" tebak Yuni, antusias.


"Ah, gak seru. Dah ketebak!!" ujar Suraj, menggaruk kepala.

__ADS_1


"Berarti, benar." Yuni melonjak kegirangan. "Sekarang ceritakan sama mami."


Suraj menceritakan semuanya saat ia berhasil mengungkap kebenaran itu. Aira sudah tau kebusukan Raka dan Citra. Dan yang lebih menggembirakan lagi, Suraj berhasil menyakinkan Aira untuk berpisah dari Raka. Walau sebelumnya, Aira sempat menolak dan pergi meninggalkan dirinya. Suraj berhasil menyakinkan, bahwa ia mencintai wanita itu tulus. Tanpa memandang status.


"Mami, seneng akhirnya kalian bisa secepatnya bersatu."


"Iya, Mi. Suraj udah gak sabar, menunggu hari itu tiba." Suraj membayangkan, saat ia dan Aira menikah.


"Ya udah, mandi gih. Bau tau," goda Yuni.


"Iya, Mi."


Usai mandi dan berganti pakaian. Suraj duduk di teras belakang rumah. Berkumpul dengan mami dan papinya. Banyak hal yang mereka bahas, salah satunya Aira. Gadis yang sudah menyita hatinya.


"Sayang, kamu udah tahu kabar Aira lagi, belum? Kamu telpon gih! Mami khawatir, Citra akan menyakiti Aira," saran Yuni yang tahu betul sifat temannya itu.


"Iya, Suraj. Wanita sebejat Citra. Akan melakukan apapun, demi mencapai tujuannya." Di timpali oleh Maholtra.


Mendengar hal itu, Suraj tak tinggal diam. Rasa khawatir langsung memenuhi dirinya. Takut, jika terjadi sesuatu pada kekasihnya.


Beberapa kali, menghubungi nomor Aira. Tidak ada jawaban. Saat panggilan terakhir, tersambung.

__ADS_1


"Sayang, kamu gak apa 'kan?" tanya Suraj khawatir.


Akan tetapi, pria itu menelan kekecewaan. Saat mendengar dari seberang. Isak tangis Aira.


__ADS_2