
Aira memutuskan untuk membuat makanan catering yang di pesan pelanggannya itu di cafe. Selain ada yang membantunya, juga peralatan masaknya lengkap. Setelah matang, baru di bawa ke tempat pesta.
Waktu bergulir sangat cepat. Hingga tiba saatnya, semua makanan itu harus diantar ke rumah pelanggan yang memesannya.
Aira disibukkan dengan persiapan itu, hingga mengabaikan panggilan telpon dari Suraj. Resah, gelisah, mendera jadi satu dalam hati pria itu. Ada sedikit pekerjaan yang harus ia kerjakan, dan sedikit menghabiskan waktunya. Sehingga tidak bisa menemani sang kekasih mengantar makanan ke tempat pesta.
"Semoga, aku masih bisa nyusul." Suraj bergumam, setelah selesai dengan pekerjaannya. "Ya Tuhan, pesanku sampai sekarang belum dibuka, saling sibuknya dia."
Suraj tidak tenang, sebelum tahu keadaan sang kekasih. Dia memutuskan untuk menyusul ke cafe. Berharap, Aira masih ads di sana. Dan bisa mengantarnya ke tempat pelanggan itu.
Sedikit memakan lama perjalanan dari tempat kerjanya, ke cafe. Di tambah, jalanan yang macet. Semakin membuat Suraj frustrasi. "Kalau kek gini. Bakalan terlambat, deh!"
Setelah satu jam bergulir, berperang dengan kemacetan. Akhirnya, Suraj sampai di cafe. Suasana tempat itu sedikit ramai, dari biasa. Pria itu langsung menuju ke dapur untuk mencari sang kekasih.
"Yan, Aira dah berangkat ya?" Tak berhasil menemukan wanita itu, Suraj bertanya pada Bellian yang baru saja melintas.
"Walah Mas Suraj ketinggalan, belum lama. Bekum juga sampai ke tempatnya," jawab wanita itu tersenyum getir. "Tumben sih, gak on time, Mas!" sambung wanita itu, dengan wajah kepo.
"Ada kerjaan yang gak bisa ditunda," jawab Suraj, lesu. "Ya udah, aku mau nyusul Aira aja ke tempatnya," sambung Suraj, bingung. Dia bahkan sampai lupa menanyakan tempatnya pada Aira. "Kamu ada alamatnya gak, sih!"
__ADS_1
"Aduh, gak punya Mas. Lupa nanya juga, tadi. Telpon aja deh!" balas Bellian, sedih tidak bisa membantu Suraj.
Pria itu menghembuskan napasnya kasar. Bingung, harus kemana menyusul Aira. Menelpon, bukan ide yang baik. Karena sudah puluhan kali ia menghubungi Aira. Namun, tidak ada jawaban dari kekasihnya itu.
"Ya Tuhan, kok aku bisa seceroboh ini sih!!"
Siraj pulang dengan membawa kekecewaan. Tak bersemangat, menapakkan kakinya ke dalam rumah. Kumandang adzan magrib pun menggema, segera ia membersihkan diri untuk bersiap-siap menghadap pada-Nya. Mungkin, dengan cara itu. Sedikit bisa mendapatkan petunjuk, kemana harus mencari Aira.
**************
Apapun yang dikerjakan oleh Suraj, terlihat tidak fokus. Dia tidak bisa berpikir dengan tenang, saat hatinya gundah gulana. Menunggu kabar dari sang kekasih, yang tak kunjung datang.
"Kamu gak lagi repot, 'kan?" tanya Yuni, langsung nyelonong masuk ke dalam.
"Gak, Mi. Hanya saja," ucap Suraj ragu-ragu. Kalau dia cerita pada maminya, yang ada akan menjadi beban pikiran wanita itu. Ia memilih merahasiakannya. "m
mami kok udah rapi aja. Mau kemana?" Suraj bertanya balik.
"Emangnya Nadine gak ngundang kamu?" Yuni melempar tanya balik ke anaknya.
__ADS_1
"Malas, Mi. Gak penting juga," jawabnya kesuh. "Mending tidur aja di rumah."
"Tumben, kamu gak ke cafe Aira? Kalian berantem?" cecar Yuni, menangkap sinyal aneh dari putra semata wayangnya itu.
"Gak, Mi. Sebenarnya, Suraj lagi nungguin kabar dari dia." Suraj menceritakan semuanya pada Yuni. Sesuai dugaannya, wanita itu langsung panik. Mendengar cerita dari Suraj.
"Ya Tuhan, semoga gak terjadi sesuatu pada Aira," keluh Yuni, penuh harap.
"Aamiin, Mi. Suraj harap begitu, Mi."
Sedang serius berbincang, hp Yuni berbunyi. Dari Alea, maminya Nadine. Teman dekatnya. "Iya, Jeng. Bentar lagi otw kok."
"Sayang, kamu antar mami yuk. Papi belum pulang, ada lembur di kantor. Terus, katanya mau menemui pengacara yang akan menolong Aira, gitu?" pinta Yuni, pada anak bujangnya.
"Anter sampe sana aja, ya? Suraj gak masuk, males."
"Terserah kamu, deh. Yang penting mami ada temennya kesana."
Mereka berangkat, Suraj bahkan tidak memakai pakaian formal ke acara tersebut. Karena tidak berniat untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Begitu mobil berhenti di halaman rumah Nadine. Mereka sudah disambut dengan kedatangan dua orang wanita yang memakai dres malam nan indah menyapa mereka berdua. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian Suraj adalah, seorang wanita yang memakai pakaian seragam waiters sedang melayani para tamu undangan.