
Citra dibuat gugup oleh Aira dengan pernyataannya itu. Ia mengira kalau gadis itu tahu semuanya. Hubungannya bersama Raka.
"Ya maksud Aira itu, aku sama mas Raka gak melakukan apapun. Kenapa juga pak RT harus was-was?" ujar Aira tidak setuju dengan pendapat tetua di kompleks itu.
"Itu menurut kamu, Ra? Kita gak leebsh tahu, apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Ada baiknya, kalian segera menikah!" tegas Citra, langsung membuat Aira menunduk sedih. "Kenapa? Kamu gak suka nikah sama Raka?" Citra melempar tanya.
"Maaf, Mi. Aira belum siap menikah sama siapapun. Aira masih ingin menikmati masa-masa kesendirian Aira," jawab wanita itu penuh keberanian.
"Ra, apa yang membuat kamu ragu?" tanya Citra lagi. "Lagian, mi denger dari Raka tadi. Katanya dia udah ngelamar kamu. Apa itu benar?"
Aira mengangguk pelan. Sungguh itu adalah pilihan yang sulit. Dan sampai saat itu, ia tak bisa memberi keputusan. Baginya, menikah hanya sekali. Dia tidak ingin salah memilih calon suami. Aira juga termakan dengan ucapan Bellian. Raka tidak punya pekerjaan. Lali, bagaimana nasibnya nanti. Kalau mereka menikah.
"Nah, itu. Raka udah gantle, melamar kamu. Apa lagi, yang membuat kamu ragu?"
"Aira hanya butuh waktu untuk berpikir, Mi. Lagian, Aira masih muda. Masih panjang perjalanannya."
"Tapi kamu beda, Ra!" sarkas Citra, menghantam hati Aira. "Coba liat keadaan kamu?" Citra menunjuk Aira dengan wajahnya. "Apa kamu yakin, akan ada pria lain yang akan nikahi kamu?"
Bak di tohok ribuan sembilu mendengar ucapan Citra. Kelu, tubuhnya bergetar hebat. Aira tak bisa lagi berkata-kata. Sadar, dirinya tidak sempurna. Tapi, apa dia tidak bisa memilih kebahagiaannya. Luluh sudah hati wanita itu, setelah diingatkan oleh Citra. Dengan kekurangan yang ia miliki, tidak mungkin ada orang yang mau.
__ADS_1
Lalu, bagaimana dengan Suraj? Bukankah selama ini dia itu terang-terangan mengatakan suka padanya. Apakah itu tulus, atau hanya sama dengan pria lainnya. Yang memandang wanita dari fisik. Tak bisa lagi berkata-kata, Aira pun mengangguk setuju.
"Ok, nanti mami urus semuanya. Kamu sama Raka akan nikah satu bulan lagi," ucap Citra setelah mendapat persetujuan dari Aira.
Aira tidak menanggapi ucapan Citra. Hatinya masih sakit. Butuh waktu untuk membuatnya normal. Terkadang, ia merasa takdir begitu kejam padanya. Wajahnya dengan Citra berbeda jauh. Bahkan, tak jarang ia berpikiran apakah mungkin ia bukan putri kandung wanita itu?
****************
Sebuah ruangan kecil, yang hanya ada tempat tidur dan lemari kecil di sana. Tampak seorang pemuda terlihat memilin dagunya, setelah apa yang ia alami. Tak ayal membuatnya sadar. Dan menghentikan perbuatan itu. Raka justru merasa nyaman, dengan keadaannya yang sekarang.
"Wah, kalau sampai gue nikahin Aira. Gue bakal dapet double nih!!!!" Ia menyeringai, membayangkan hal yang menyenangkan baginya.
Disela lamunan nakalnya. Raka teringat sesuatu. Sejak terakhir pulang dari rumah Citra, wanita itu belum menghubunginya. Gegas ia ambil ponsel yang tergeletak di bantal, menghubungi tambang emasnya.
"Hallo sayang, aku kangen. Kamu dimana?" tanya Raka pada wanita itu. "Emm, marah ya?"
Sepertinya Citra masih meradang dengannya. Sehingga, sedikit ketus dalam menjawab pertanyaan darinya. "Aku kesitu, ya?"
Tak ingin terlalu lama membuat Citra menunggu. Raka langsung pergi ke rumah Citra.
__ADS_1
Seperti biasa, jika siang-siang begini. Mereka aman. Bebas melakukan apapun sesuka hati. Tanpa ada yang pengganggu.
Tibalah Raka di rumah laknat itu. Cepat-cepat, ia mencari Citra yang kebetulan masih ada di teras belakang dengan ponsel yang menempel di pipinya.
"Siapa?" bisik Raka, langsung mengalungkan tangannya di pinggang wanita itu.
"Sttt." Citra memberi isyarat untuk tidak mengganggunya.
Semakin jadi, Raka berbuat nekat. Dia tidak perduli dengan siapa Citra berbicara. Rangsangan kecil, dilakukan oleh pria itu. Membuat tubuh Citra meremang. Tak tahan, Citra menyudahi telponnya. Gegas, menyambar bibir milik Raka yang mulai menggodanya sejak tadi.
"Jangan marah lagi, sayang?" ucap Raka dengan suara parau. Setelah menjeda aktivitasnya.
"Kamu yang mulai," ujar Citra, menghukum Raka. Menggigit bibir itu kuat, sang empu mengerang kesakitan. Bahkan ada bekas gigitan yang tertinggal di bibirnya.
"Sayang, kamu menyakitiku." Raka memprotes.
"Kamu lebih menyakitiku." Lagi, Citra melakukannya. Kali ini dengan tangan tang mulai memilin titik-titik lemah Raka. Pria itu tak sanggup menahannya.
"Sayang...." Suaranya serak menahan gairah yang mulai membumbung.
__ADS_1
Disela aktivitas panas yang mereka lakukan. Terdengar derap langkah mendekat dari arah depan. Suaranya semakin mendekat, dan betapa terkejutnya seseorang melihat pergumulan panas yang mereka lakukan di teras belakang. Ia hanya bisa menganga, tak percaya dengan menahan sesak dalam dadanya.