Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kejutan dari Maholtra


__ADS_3

Seperti itulah kehidupan. Di saat berada di atas, jangan tinggi hati. Agar, ada orang yang simpatik padamu. Seperti yang sedang dialami oleh Citra saat ini. Ia sudah jatuh, sejatuh-jatuhnya. Menjadi gelandangan di jalanan, yang tidak tahu kemana lagi tujuannya. Di usir, di rumahnya sendiri oleh orang yang dulu ia puja. Ia ajak bekerja sama.


Langkah kakinya berhenti di sebuah lampu merah. Sorot mata wanita itu tertuju pada mobil sedan berwarna putih yang sedang berhenti di deretan puluhan mobil di sana. Ia sangat hapal, siapa pemiliknya. Ada pengharapan di hati wanita itu dan pengemudi mobil tersebut.


Senyum mengembang terpancar di sudut bibirnya. Berjalan tertatih ke tempat mobil tersebut. Dengan sejuta harapan yang melintas di benaknya.


"Amira!!" Sambil mengetuk-ngetuk pintu mobilnya, Citra memanggil pengemudi.


Tak berapa lama, kaca jendela terbuka. Seorang wanita cantik, menoleh ke arahnya. "Citra!" sambut wanita itu, menyeringai.


"Bantu aku, Say. Aku benar-benar butuh bantuan," ucapnya memelas.


"Maaf, aku buru-buru!" seru wanita itu, menutup kembali kaca jendelanya. Dan melenggang pergi, saat lampu sudah berubah warna. Meninggalkan sejuta rasa kesal di benak Citra.


"Brengsek!!" Ia kembali mengumpat.


**************


Satu bulan berlalu, tawaran kerja dari Maholtra belum mendapat balasan dari Aira. Wanita itu masih menimbang-nimbang, menerima atau menolaknya. Entah mengapa, terbesit dihatinya sesuatu yang beda. Apa itu? Ia sendiri tak paham.


"Gimana, Ra? Udah waktunya kamu jawab penawaran itu. Ya, kalaupun kamu menolaknya. Beri kepastian untuk mereka," saran Kinos, yang tak enak hati dapat telepon terus dari assisten Maholtra.


"Ok, aku terima Kak. Buatkan janji dengan pihak mereka. Atur saja, ya?" balas Aira, mengambil keputusan.

__ADS_1


"Seriusan, kamu?" Kinos tak percaya. Melonjak gembira. Dengan jawaban Aira.


"Iya, Kak. Sebenarnya, aku udah pertimbangkan dari jauh-jauh hari. Dan aku juga tertarik dengan tawaran itu," sahut Aira, mengelus pundak Kinos.


"Ok, aku akan buatkan janji dengan mereka."


Kinos langsung mengambil ponselnya, mengirim email ke alamat assisten Maholtra. Besok pagi, mereka tunggu di kantor menejemennya.


"Kamu harus temui langsung mereka, Ra."


Aira mengangguk. "Iya, Kak. Besok Aira sendiri yang akan temui mereka," jawabnya tersenyum simpul.


*****************


"Kak, biar aku nyetir sendiri aja ya?" tawar Aira pada Kinos yang kebetulan sedang buru-buru bertemu klien.


"Iya, Ra. Maaf ya, aku gak bisa temenin kamu!" ujar pria itu, mengambil labtobnya. "Aku harus buru-buru berangkat!" sambungnya, cipika-cipiki pada Aira. Setelah itu bergegas pergi.


Aira sudah siap untuk datang ke kantor menejemennya. Yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Wanita itu memilih mengendarai mobil sendiri. Tidak di antar oleh supir.


Di tempat lain, Maholtra tak henti-hentinya melebarkan bibirnya. Hati yang ditunggu tiba. Setelah satu bulan menunggu. Segera pria itu menemui Suraj, untuk menyampaikan kabar gembira itu.


"Suraj, papi minta tolong sama kamu!" ujar pria itu tegas.

__ADS_1


Dengan tidak bersemangat, Suraj bangkit dari ranjang. "Apa, Pi!" Pria itu duduk di sebelah Maholtra.


"Tolong papi, temui klien papi di alamat ini," pinta Maholtra menyerahkan selembar kertas pada Suraj.


Suraj menerimanya. Membaca, dan sedikit bingung. Kenapa harus dia menemui klien papinya. Tidak pernah, sekalipun pria itu mengerjakan pekerjaan papinya.


"Kok aku sih, Pi?" tanya Suraj, bingung.


"Papi lagi sibuk. Gak sempet nemuin klien kira itu. Papi mohon, kali ini aja. Kamu harus temuin dia," ujar Maholtra lagi, meminta.


"Tapi, Pi." Suraj malas menerima permintaan dari papinya. Apalagi masalah pekerjaan yang sama sekali bukan jalurnya.


"Gak ada tapi-tapi, kamu harus menerimanya. Kali ini aja," timpal Maholtra tak ingin dibantah. "Kamu pelajari dulu, berkasnya. Papi percayakan semuanya sama kamu," ucap pria itu menepuk pundak anaknya. Seraya tersenyum hangat, menggantungkan harapan yang besar.


Hanya dengan cara itu, ia mempertemukan mereka berdua. Sepasang kekasih yang terpisah, karena takdir yang belum berpihak. Dan kali ini, ia yakin. Mereka akan bersatu lagi. Tak ada lagi yang bisa memisahkan. Termasuk Citra.


Suraj menghembuskan napasnya kasar. Terpaksa menerima beberapa lembar map dari tangan papinya. Meski enggan, namun tak ada pilihan lagi.


Setelah mempelajari isi dari berkas-berkas itu. Dan memahaminya. Suraj bersiap untuk berangkat ke alamat yang diberikan papinya tadi.


Jalanan macet, sudah menjadi pemandangan yang lumrah di kota Jakarta. Namun, tak menyurutkan niat Suraj menjalankan tugas dari sang ayah. Sudah hampir satu jam, menempuh perjalanannya. Sampai juga Suraj di kantor menejemen yang dipimpin oleh Kinos. Tempat pertemuannya dengan Aira nanti. Bangunan lantai dua, yang dikelilingi pagar besi, mobilnya berhenti. Tiba-tiba saja, jantungnya berdegup kencang. Seperti orang yang sedang jatuh cinta.


"Kok jadi deg-degan gini, sih!" gumamnya, aneh.

__ADS_1


__ADS_2