Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Sah


__ADS_3

Sura turun dari mobilnya yang ia parkirkan di pinggir jalan. Kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama. Siraj merasakan sesak dalam dadanya. Berat langkah kakinya menuju ke rumah itu. Ada yang aneh dalam dirinya, yang tak bisa di tangkap oleh pikiran.


Semakin dekat, semakin terdengar suara orang di dalam. Sayup-sayup terdengar suara lantang, yang langsung mempercepat langkah kaki pria itu agar segera sampai di sana.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Rismawati binti Abdullah dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


Selesai kalimat itu keluar dari bibir Raka, selesai sudah perjuangan Suraj mendapatkan cinta Aira. Perjuangannya selama ini sia-sia, melihat gadis yang ia cinta nampak menyunggingkan senyum bahagia. Kala pria yang baru saja menjadi suaminya menyematkan cincin kawin di jari manisnya.


Tubuhnya lunglai, menyaksikan alas nikah Aira bersama Raka. Andai saja ia datang lebih awal, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.


"Selamat ya, sayang. Akhirnya kamu menikah juga sama Raka." Citra tampak semringah menyaksikan pernikahan itu.


"Makasih, Mi." Mereka berpelukan.


Tak ada tamu undangan layaknya sebuah pesta pernikahan. Mereka tampak biasa-biasa saja. Pengantin wanitanya bahkan hanya mengenakan gamis berwarna putih, di balut cantik dengan jilbab warna senada bertengger di kepalanya. Pun dengan Raka, yang hanya mengenakan kemeja warna putih dengan setelan celana jeans berwarna hitam. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Mengapa Aira begitu saja percaya dengan Citra dan Raka?


Pertanyaan itu yang saat ini menggerayangi pikiran Suraj. Hingga akhirnya, ia tak tahan untuk masuk ke dalam. Dia bahkan tidak perduli dengan siapapun yang ada di tempat itu. Satu hal yang ingin ia tahu, mengapa Aira bisa secepatnya luluh dengan mereka.


"Aira!" seru Suraj, berdiri tepat di ambang pintu. Sontak menjadi pusat perhatian semua orang yang menyaksikan pernikahan Aira dan Raka. Terlebih dengan wanita yang terlihat cantik dengan jilbabnya. Aira langsung berdiri, memandang ke arah Suraj.


"Suraj," balas Aira, tak mampu lagi bicara.


"Kenapa kamu lakukan ini?" Suraj mendekati wanita yang resmi menjadi istri orang. "Kenapa kamu gak percaya kalau dia ini seorang pengkhianat!!!" Raka menunjuk ke arah Raka. Membuat pria itu meradang.

__ADS_1


"Apa maksud kamu, hah?" sentak Raka dengan nada tegas. "Oh, kamu suka sama istriku?" Raka tersenyum licik, langsung merangkul pundak Aira. Sementara wanita itu, bungkam seribu bahasa.


"Dasar pengkhianat!!"


Bughhhh


Karena emosi, Suraj memukul Raka. Tubuhnya yang kekar itu tak mampu menjaga keseimbangannya. Sehingga terhuyung ke lantai.


Mereka yang menyaksikan adegan itu, berusaha melerai.


"Lepaskan!!? Si brengsek ini pantas mendapatkannya!!" Suraj berusaha melepaskan diri dari mereka yang mencoba melerai.


"Sabar, Mas. Ini ujian," ujar pria yang memakai kopiah berwarna hitam. Di duga, penghulu yang menikahkan mereka berdua.


"Kamu gak apa, Mas?" Wanita dengan sangat hati-hati, menyeka bibir Raka menggunakan ujung gamis yang ia kenakan.


"Argh, sakit Ra. Raka mengerang kesakitan. Mencari perhatian wanita itu.


Meradang, suaminya dipermalukan di depan orang banyak. Aira beranjak, dengan wajah yang memanas ia tumpahkan kekesalannya pada Suraj.


Plakkklkk


Satu tamparan dari Aira mendarat tepat di pipi Suraj. Panas dan perih, memaksa tangan pria itu untuk memeganginya. Dia hanya bisa menggeleng kecil. Melihat kilatan amarah dalam diri Aira.

__ADS_1


"Tutup mulut kamu. Aku tidak akan pernah percaya sama omongan kamu. Jangan sekali-kali, kamu merendahkan suamiku."


Hal yang mengejutkan bagi Citra dan Raka. Gadis anggun yang mereka kenal. Berubah bringas, seperti singa yang kelaparan. Membuat tubuh mereka meremang.


"Pergi kamu dari sini!!!" Aira mendorong tubuh Suraj, sehingga sedikit bergeser dari tempatnya berdiri. "Pergi!?" Dengan menahan tangis, wanita itu mengusir Suraj.


Tak ada pilihan lain untuk Suraj. Selain pergi dari tempat itu. Entah, bagaimana lagi caranya membuktikan pada Aira. Kalau orang yang dibela itu adalah musuh dalam selimut. Yang menikamnya dari belakang.


"Maafkan saya atas kekacauan ini," ujar Citra setelah keadaan lebih tenang. "Sayang, lebih baik kamu obati dulu suamimu. Kasihan dia, luka kek gitu," sambung wanita itu beralih pada Aira.


"Iya, Mi." "Aira membantu Raka berdiri. "Ayo, Mas. Kita ke kamar!" Kemudian mengajak Raka ke kamarnya.


"Maafin aku ya, Mas. Karena aku, kamu terluka," sesal Aira yang sudah berada di kamar.


"Gak apa sayang. Ini bukan salah kamu." Raka membalasnya, menatap wajah istrinya simpatik. "Yang penting, kita sudah sah menjadi suami istri. Bebas melakukan apa saja." Kemudian menggoda Aira. "Nggak usah perduliin omongan orang."


Aira mengangguk pelan.


******


"Mas, Suraj!" seru seorang wanita yang datang dari arah belakang. "Maafkan saya, tidak berhasil menghentikan pernikahan mereka," sambungnya menyesal.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"

__ADS_1


__ADS_2