
Sesuai sara Suraj, Aira menyisikan hasil pemasukan cafe hari itu. Selesai menghitungnya, ia mengambil satu juta rupiah untuk ia simpan di dompet lain. Sementara yang akan di berikan Citra, ia masukkan ke dalam amplop berwarna cokelat.
"Bener apa kata Suraj. Aku harus menyisihkan hasil penjualan cafe." Setelah semuanya siap, Aira mengecek di dapur. Kompor sudah di matikan. Semua colokan sudah ia cabut.
"Ah, akhirnya selesai semua."
Terdengar dari arah luar suara klakson. Aira bergegas keluar, sudah tahu siapa yang datang. Aira memang sengaja, semakin dekat dengan Suraj. Selain nyaman, dia juga ingin menunjukkan pada dua ****** itu. Kalau dia bisa hidup tanpa mereka.
"Suraj," ucapnya tersenyum hangat menyambut kedatangan pria itu.
"Sayang, aku gak telat, 'kan?" balas Suraj, membukakan pintu mobil untuk sang kekasih.
"Nggak, kok! Aku juga baru selesai beberes," sambut Aira, kemudian masuk ke dalam. Diikuti oleh Suraj.
"Langsung pulang?" tanya Sura, saat ia sudah menghidupkan mesin mobilnya.
"Emm, aku lagi pengen martabak. Kamu mau kan, nganter nya?" jawab Aira, meminta sesuatu dari pria itu.
"Jangankan cuma nganter beli martabak. Nganter kamu ke KUA aja aku siap," godanya melirik wajah wanita yang duduk di sampingnya.
Hati Aira kian menghangat, saat mendengar semua godaan dari Suraj. Meski terdengar menggelitik. Tapi, dia tak pernah bosan mendengarnya. "Kamu ini," balas Aira, memukul kecil lengan Suraj. "Hari ini, biar aku yang tlaktir ya?"
"Wah ada acara apa ini, pake tlaktir-tlaktir segala?" ujar Suraj, memasang wajah penasaran.
"Apa, ya?" Aira menarik kedua maniknya ke atas. "Anggap aja ini hari jadian kita, gimana?"
__ADS_1
Suraj menginjak pedal remnya mendadak. Terkejut dengan apa yang ia dengar. "Apa, sayang? Coba ulangi sekali lagi?" Pria itu mempertajam pendengarannya.
"Nggak ada kata ulang," celetuk Aira membuang muka.
"Please, sayang. Aku gak salah dengar, 'kan?" Suraj memegang dagu Aira, setelah itu ia arahkan ke samping. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu. "Apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapan kamu, tadi. Hari ini, kita resmi jadian?" ulang Suraj menyakinkan dirinya. Tidak ada raut wajah becanda kali ini. Pria itu sungguh-sungguh ingin mendengarnya lagi.
Entah apa yang ada di benak Aira saat ini. Dia sadar, kalau statusnya masih istri orang. Tidak sepantasnya mengatakan hal itu pada pria lain. Akan tetapi perasaannya tidak bisa di bohongi. Apalagi setelah mengetahui kebenaran itu. Rasa cinta untuk Raka perlahan terkikis. Mungkin, sudah habis tak bersisa lagi di hatinya.
Aira menemukan cinta baru, yabg ditawarkan oleh Suraj. Pria yang mampu merubah hidupnya menjadi lebih tegas. Bukan Aira yang lembek, yang selalu di injak oleh dua orang laknat itu.
"Aku sadar, ini tidak pantas terjadi pada kita. Tapi aku..." Aira menjeda kalimatnya. Ia mencari keraguan dalam dirinya tentang Suraj. Tapi, tidak berhasil menemukannya. Dia sudah sangat yakin. Kalau pria yang ada dihadapannya lah yang akan menyembuhkan luka di hatinya. Menggantikan benih cinta yang baru. "Aku mulai menyadari perasaanku sendiri. Kalau aku juga mencintaimu," sambungnya lega.
"Terimakasih, Sayang." Suraj langsung menarik tubuh Aira, merengkuhnya dalam pelukan. Haru, bahagia. Itulah yang ia rasakan saat ini. Cintanya terbalas sudah. Penantiannya berbuah manis. Tinggal satu langkah lagi. Untuk bisa memiliki seutuhnya wanita itu.
"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu."
Sampai juga mereka di kedai martabak yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Aira memilih membeli di tempat itu, daripada di cafe yang besar. Selain membantu sesama pedagang kecil. Rasa dari makanan itu sangatlah enak. Tak beda jauh sama yang di jual di cafe-cafe besar.
"Dua rasa cokelat, sama satu keju ya, Bang?" pesan Aira pada babangnya.
"Siap."
Hanya menunggu sepuluh menit. Pesanan mereka sudah jadi. Setelah memberikan satu lembar uang ratusan, Aira mengambil bungkusan berisi martabak itu. "Kembaliannya untuk adiknya saja," ucapnya tersenyum manis pada anak kecil yang berdiri di samping babang itu.
"Terimakasih, Neng. Semoga rezekinya lancar."
__ADS_1
"Aamiin," sahut Aira dan Suraj.
"Udah, yuk!"
"Kita ke taman itu dulu," tunjuk Aira pada taman yang ada di seberang kedai tadi. "Menikmati martabak ini. Pupung masih anget, enak banget," ujar Aira sampai mengumpul air liurnya. Membayangkan lezatnya makanan itu.
"Ya udah, ayok!" seru Suraj bersemangat.
Di bangku panjang taman kota, tempat mereka berdua duduk. Menikmati dinginnya malam di tempat itu. Sambil merasakan lumernya martabak yang mereka bawa.
"Emm, enak ya?" Suraj memuji rasanya.
"Banget, gak beda jauh sama yang di jual di cafe-cafe itu," balas Aira dengan mulut penuh dengan makanan itu.
"Sayang, kok gelepotan sih makannya." Suraj menunjuk ke bibir Aira.
Aira berusaha mengelapnya. Namun kurang bersih. "Masih ada gak?" tanya Aira memonyongkan bibirnya.
"Masih, yang sebelah kiri," balas Suraj menunjuk ke sudut bibir Aira yang sebelah kiri.
"Udah?" tanya Aira lagi, saat ia berusaha mengusapnya.
"Masih ada!"
""Mana, ih." Aira kembali menyeka bibirnya. Akan tetapi belum berhasil membersihkan dengan sempurna.
__ADS_1
"Sini, biar aku yang bersihin."
Aira memajukan wajahnya, semakin dekat dengan wajah Suraj. Nyaris tak ada jarak diantara mereka. Tatapan mereka terkunci.