Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Setitik harapan


__ADS_3

Di sebuah hunian mewah, wajah gusar tampak jelas pada wanita cantik yang berbalut dres berwarna peach. Tubuhnya linglung, menerima kenyataan yang menyakitkan hati. Putri semata wayangnya, pergi meninggalkan dia untuk selamanya.


Kabar itu sedikit mengusik hati dan pikiran wanita itu. Tak tinggal diam, tidak percaya begitu saja dengan ucapan wanita ular itu. Mawar meminta anak buahnya untuk menyelidiki. Mencari informasi dari rumah Citra.


Malam terbungkus sunyi, menyekam hatinya. Duduk bersandar di bantalan ranjang dengan hati gundah gulana. Sudah tiga hari dari kejadian itu, belum ada kabar dari anak buahnya.


Tiba-tiba saja, ponselnya nyala. Terdapat sebuah pesan dari salah satu anak buahnya. Ia membukanya. Terpampang jelas sebuah foto seorang wanita seusia putri kandungnya. Seketika hati wanita itu menghangat, mengusap lembut wajahnya dari balik foto itu.


"Apa dia Aira," lirihnya, pilu. Tak terasa air mata lepas dari pelupuknya. Tidak tega, melihat keadaan Aira yang mengenaskan.


Selang beberapa saat, nomor itu melakukan panggilan telepon. Segera ia menjawabnya. Berharap ada kabar baik, yang bisa sedikit menenangkan hatinya.


"Apa ada kabar?" tanyanya dengan suara bergetar. Menahan tangis, yang sudah di ujung. "Benarkah itu? Alhamdulillah. Bawa saya ke tempat itu, saat ini juga."


Wajahnya berubah berbinar, setelah mendengar pengakuan kalau Aira masih hidup. Dan tinggal di kota yang sama dengannya. "Aku sudah gak sabar ingin bertemu dengannya."


Begitu besar harapan wanita itu, untuk bisa bertemu dengan putri kecilnya. Yang sekarang tumbuh menjadi wanita dewasa. Dewasa sebelum umurnya. Melihat penampilan Aira, hatinya terenyuh. Rasa bersalah kian menyiksa, memupuk relung jiwa. Meninggalkan sesal yang tak terobati. Andai saja, ia tidak egois. Dan sedikit meninggalkan egonya. Mungkin, Aira akan bersamanya, dan berubah menjadi seorang putri cantik. Yang akan membuat semua pangeran tergila-gila padanya.


Belum, itu semua belum terlambat. Dia masih punya banyak waktu untuk mewujudkan mimpi. Merubah penampilan Aira, putri kecilnya menjadi cantik.


"Aku tunggu besok pagi," ucapnya pada seseorang yang memberi informasi itu.


********

__ADS_1


Malam terlewati begitu panjang. Tak sabar menunggu hari berganti. Mawar terlihat gelisah, tak lelap dalam tidurnya. Setiap detik terasa lambat, baginya.


"Sayang, tunggu mami. Mami akan jemput kamu, mami akan bebaskan kamu dari si ****** itu." Mawar mengusap, memandangi wajah putrinya.


Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya. Mawar sudah bersiap untuk pergi, menemui Aira. Hanya tinggal menunggu kedatangan orang suruhannya.


"Bi, kamu siapkan kamar yang luas untuk putri kecilku. Sebentar lagi, dia akan datang. Aku sudah gak sabar, ingin memeluknya. Membelai rambutnya yang panjang," titahnya pada ART yang bekerja di rumah itu.


"Baik, Nyonya. Saya akan segera siapkan." Wanita itu menunduk patuh.


"Satu lagi, buatkan makanan yang enak-enak untuk menyambutnya," sambung Mawar terlihat bersemangat.


"Dewa mana sih! Kok lama banget." Mawar menggerutu kesal, menunggu kedatangan orang suruhannya.


"Kirim foto Aira ke hp papi. Papi akan minta bantuan orang-orang kenalan papi untuk mencari Aira," ujar Maholtra pada sang putera yang terlihat murung.


"Ke mami juga. Mami mau share ke teman-teman mami," timpal Yuni yang juga antusias.


"Iya Pi, Mi." Suraj segera melakukan perintah orangtuanya.


"Terus, apa rencana kamu, sayang?" Yuni kembali bertanya.


"Suraj mau menemui Bellian sama Winda. Mungkin saja, Aira minta bantuan mereka untuk mencari tempat tinggal yang akan ia tempati," jawab Suraj, sedikit berharap pada dia wanita itu.

__ADS_1


"Mudah-mudahan ya, Sayang. Mami cuma bisa doain yang terbaik buat kalian."


Usai sarapan, Suraj sudah akan pergi. Saat masih berada di teras depan, menghubungi seseorang. Seorang wanita datang dari halaman dengan membawa rantang, wanita itu tersenyum lebar melihat sosok tampan di depan pintu.


"Pagi Suraj," sapanya serakah mungkin.


Suraj melirik sekilas. Tak menghiraukan kedatangan Nadine. Masih fokus berbicara dengan seseorang dari balik ponselnya.


Mendengar ada suara seseorang dari teras depan, Yuni keluar. Ia menganggap Siraj sudah pergi. "Eh ada Nadine, sendirian aja?" sapanya basa-basi.


"Iya, Tan. Kebetulan Nadine bawa sarapan untuk Om dan Tante," balas wanita itu, menyerahkan benda yang ia bawa. Namun, pandangannya tak lepas memandangi tubuh Suraj.


"Gak usah repot-repot, kami udah makan kok. Lagian, kok pagi-pagi udah main. Kamu gak kerja," sindir Yuni, mulai menunjukkan ketidaksukaannya pada wanita itu.


"Mi, Suraj berangkat dulu ya? Assalamualaikum," pangkas Siraj memotong percakapan mereka berdua. Tanpa sedikitpun melirik ke arah Nadine.


"Kamu mau berangkat ke kampus ya?" tanya Nadine, yang hanya dilirik oleh Suraj, tanpa membalas ucapannya.


"Iya, sayang. Suraj mau ke kampus. Tapi mau mampir dulu jemput pacarnya," tandas Yuni, yang menjawab pertanyaan wanita itu.


Wajah Nadine terlihat kesal, dan ia sudah mati langkah. Merasa tidak dianggap oleh mereka, ia memutuskan untuk pergi.


Sampai juga Suraj di cafe. Langsung menemui Bellian yang kebetulan baru saja datang.

__ADS_1


"Eh, Mas Suraj. Mbak Aira mana? Tumben sendiri?"


__ADS_2