Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Dua orang baik


__ADS_3

Dua bulan berlalu, Aira mulai nyaman dengan pekerjaannya. Apalagi sekarang, dia sudah bisa merias pelanggan tanpa didampingi oleh Kinos ataupun pegawai lainnya. Berkat usaha dan kerja kerasnya selama ini. Tak butuh waktu lama, untuk wanita itu paham dan mengerti di bidang tata rias.


Sempurna," celetuk Kinos dari belakang. "Kamu udah mulai pintar, menyesuaikan warna kulit dengan warna Mak up yang lagi trend. Sukses Aira," sambung pria itu bangga.


"Iya, aku jadi kelihatan cantik banget. Makasih ya Mbak Aira. Aku yakin, calon suami aku bakalan pangling, liat istrinya cantik begini," timpal seorang pelanggan yang baru saja ia rias.


"Alhamdulillah, kalau Mbak-nya puas. Aku seneng banget," sambut Aira meluapkan kegembiraannya dengan rasa syukur yang tiada henti.


"Makasih ya, Mbak!" seru wanita itu yang sudah siap untuk jalan.


"Sama-sama." Di balas Aira dengan senyum mengembang. "Itu calon suaminya udah jemput. Semoga acaranya berjalan dengan lancar ya, Mbak?" sambung Aira melambaikan tangan. Saat wanita itu mulai berjalan keluar.


Kinos yang sempat terpukau dengan hasil kerja Aira, memperhatikan wanita itu. "Kamu kenapa lagi?" Kemudian bertanya, saat melihat Aira mulai terlihat murung lagi.


"Aku tuh seneng banget, Kak. Bisa dititik ini, berkat bantuan Kakak dan juga mami Vale. Kalau gak ada kalian, mungkin aku sudah kelaparan di jalan." Dengan mata yang berkaca-kaca, Aira membayangkan pertemuannya dengan Vale.


"Ulu-ulu sedih lagi." Kinos langsung mendekat. Merengkuh tubuh wanita itu dalam dekapannya. "Itu semua udah takdir, Ra. Kami-kami ini hanya lantaran dari Tuhan untuk membuat kamu lebih sukses lagi." Kinos menenangkan Aira, yang mulai terbawa suasana.


"Iya, Kak. Aku gak tahu, gimana cara membalas kalian."


"Dengan cara kamu menjadi orang yang sukses," sambar mami Vale yang baru saja datang. "Sayang, kamu gak boleh merasa sungkan di tempat ini. Kita semua saudara. Satu team. Jadi, gak boleh ngomong bales-membales. Ok." Vale ikut merengkuh tubuh Aira. Menyanyangi wanita itu seperti anaknya.


"Makasih, Mi."

__ADS_1


Melihat penampilan Aira yang sudah jauh lebih cantik dari pertama mereka bertemu. Vale mempunyai ide, untuk mengajak wanita itu mengikuti casting foto model di sebuah majalah elektronik.


"Sayang, mami punya kabar baik buat kamu." Vale membenarkan posisi duduknya. Dengan mata yang tak lepas memandangi wajah Aira. "Mami mau ajak kamu casting jadi model. Kamu mau, kan?" tawarnya, membuat Aira ternganga kaget.


"Mami becanda, ya? Gak mungkin lah, Mi. Aku aja jelek kek gini. Masa mau diajak ikut casting. Yang ada, mereka bakal ngetawain aku dong!" ujar Aira tak percaya diri.


"Siapa bilang kamu jelek?" seloroh Vale, menekan kalimatnya. "Kamu cantik, Ra. Kamu punya wajah yang unik. Yang jarang disamai oleh orang lain. Dan biasanya wajah-wajah itu yang laku dijual," sambung Vale dengan yakin.


"Iya, bener banget. Aku setuju Mam. Aira punya tinggi badan yang semampai. Aku yakin, dia bakal diterima. Hanya saja, kamu perlu belajar lagi cara berjalan di catwalk." Kinos menambahi.


"Iya, Mami setuju. Nanti, mami atur deh. Mami cariin gurunya."


Sungguh, Aira merasa terharu dengan kebaikan mereka berdua. Yang sangat mendukung dirinya untuk bisa merubah hidup. Tanpa terasa air mata haru menumpah ruah menjadi satu di sana.


Selama dua bulan berjalan, cafe masih stabil. Citra benar-benar menyewa chef untuk membantu di cafenya. Selain itu, ia juga menyewa pembantu untuk bersih-bersih di rumah.


"Gimana hasil penjualan hari ini?" tanya Citra, saat Marissa mengantar uang ke rumahnya.


"Lumayan, Mam. Masih stabil," jawab wanita cantik yang terlihat manis dalam balutan dres berwarna cream. Yang tak henti-hentinya tersenyum mengembang ke arah Raka.


"Tapi ini masih sangat kecil. Di banding saat di pegang Aira dulu!" ujar Citra yang tak puas dengan hasil penjualan beberapa hari ini. Setelah menghitungnya.


"Sabar, sayang. Namanya juga kita merintis lagi. Wajar lah, kalau lebih kecil dari biasanya." Raka berusaha meredam kecurigaan Citra.

__ADS_1


"Bener banget, Mi. Saya yakin, suatu saat nanti. Hasil penjualan kita akan ramai dan bertambah," timpal Mariska yang masih melirik Raka.


"Ya sudah. Kamu bisa pulang, sekarang!" ujar Citra mengusir wanita itu.


"Ok, Mam. Marissa pulang, ya?"


"Hemmm." Hanya disambut deheman oleh Citra, saat Marissa pamit.


"Sayang, aku antar Marisa ke depan dulu, ya?" ucap Raka, pamit pada Citra.


"No! Kamu di sini aja. Dia bisa jalan sendiri." Di cegah oleh Citra, yang tidak suka melihat Raka terlalu perhatian dengan karyawannya. "Kamu boleh pergi, sekarang!" serunya dengan nada memerintah.


"Baik, Mi." Marissa mulai beranjak pergi, sebelumnya ia memberi kode pada Raka untuk membuka hpnya. Dengan tanggap pria itu mengangguk pelan.


*******


Saat ini, Raka berada di kamar mandi. Dengan alasan ingin buang hajat. Padahal, pria itu sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


"Bagus, kerja kamu. Aku sudah gak sabar ingin melihat dia hancur," ucap Raka pada seseorang.


Dengan senyum liciknya. Raka menyimpan rahasia yang tidak diketahui oleh Citra.


"Besok pagi aja, kita ketemu!"

__ADS_1


__ADS_2