Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Surat gugatan cerai


__ADS_3

"Apaan sih, sayang. Gak mungkinlah aku berselera sama Aira yang dekil itu." Raka mengelaknya. Merasa jijik dengan Aira.


"Baguslah, kalau gitu." Citra tersenyum puas. Tak sabar ingin secepatnya bertemu dengan anak tirinya itu.


********


Tak butuh waktu yang lama untuk Aira sembuh. Dirinya sudah mulai tenang. Dan siap melakukan aktivitasnya kembali. Setelah satu hari libur dari cafe. Sesuai perjanjiannya pada seseorang yang akan menerima pesanan catering pesta. Aira bersiap untuk pulang ke rumah.


"Kamu yakin, sayang? Akan pulang ke rumah?" Yuni sedikit tidak rela, jika wanita itu kembali ke rumah Citra.


"Yakin, Mi. Aira udah janji sama pelanggan. Mau buatin catering makanan pesta," jawab Aira yang sudah siap dengan tasnya.


Tak berapa lama, Maholtra datang. Pria itu terlihat khawatir dengan keadaan Aira. Yang masih belum sembuh benar. Masih menyisakan sedikit trauma dalam diri wanita itu. Hanya saja tertutup sebuah rasa tanggung jawab yang bersar. Sedikit menghilangkan ketakutan itu.


"Ra, kamu harus tegas. Harus berani mengambil keputusan. Ceraikan Raka. Saya akan sewakan pengacara untuk kamu. Yang saja janin, bisa membantu memperlancar semuanya," saran pria itu peduli.


"Iya, Pak. Setelah urusan saya selesai, saya akan urus semuanya." Aira melirik ke arah Suraj yang baru saja datang.

__ADS_1


"Kamu udah siap, sayang?" Pria itu membuka suara.


"Udah. Kita berangkat sekarang, ya? Takut kesiangan. Mi, Pak. Saya pamit dulu ya? Assalamualaikum, terima kasih udah izinkan Aura menginap di sini," ucap Aira menyalami dua orang itu.


"Iya, sayang. Kamu hati-hati, ya? Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi mami atau Suraj," balas Yuni merengkuh tubuh wanita itu.


Suraj masih belum tenang, melepaskan Aira sendiri di rumah itu. Perasaannya masih tidak yakin, kalau wanita itu akan baik-baik saja. Apalagi, setelah melihat kejadian malam itu. Rasanya, ia tak sanggup membiarkan kekasihnya itu masuk ke lubang neraka jahanam itu. Yang dihuni oleh dia jin berhati busuk.


Sesekali, ia melirik ke arah wanita yang terlihat menatap kosong ke arah jalan. Wajahnya terlihat sedih, dan gelisah. Membuat Suraj, meraih tangan wanita itu.


"Sayang, ada aku di sini. Kamu gak sendirian," ucap Suraj, semakin mempererat genggaman tangannya. "Jangan pernah merasa sendiri. Kita hadapi sama-sama, ya?" Setelah itu tersenyum penuh kehangatan untuk wanita yang ia cintai.


Mereka saling memandang. Larut dalam angannya masing-masing. Besar harapan Suraj, ingin membahagiakan wanita itu. Menggantikan air mata yang selama ini membasahi pipinya. Dengan senyum bahagia, yang akan menyambutnya saat pulang kerja. Saat pertama membuka mata.


Perhatian Suraj selama ini. Membuat hati wanita itu menaburkan rasa tak percaya diri. Pria sebaik itu, rasanya tak pantas mendapatkan dia. Yang hanya wanita biasa. Jauh dari kata sempurna. Rasa takut itu semakin mencuak, mengingat bagian tubuhnya yang sudah terjamah oleh Raka. Ia merasa wanita hina yang tak pantas bersanding dengan mahkluk sempurna yang ada di depan mata.


"Makasih ya, udah anterin aku?" ucap Aira pada Suraj, setelah sampai di rumah.

__ADS_1


"Aku antar ke dalam, ya?" tawar Suraj, tak tega membiarkan Aira sendiri masuk ke rumah itu.


Aira mengangguk.


Mereka turun sama-sama, masuk ke dalam rumah yang sudah terbuka dari dalam. Pertama kali masuk, suasana mencengkam dalam benak Aira. Jika mengingat kejadian malam itu. Membuat wajahnya ketakutan.


"Pulang juga, kamu?" Suara Citra memecah lamunan Aira. "Bagus ya, sekarang? Kamu sudah jadi wanita liar, yang bebas tidur sama siapapun!" ucap Citra menuduh.


"Gak usah di dengerin. Kamu langsung masuk ke dalam, ambil apa yang kamu butuhkan. Aku tunggu di sini." Suraj membisikan di telinga Aira.


Aira mengatur napasnya yang mulai tak beraturan. Agar sedikit lebih tenang. Sebelum melakukan yang diminta oleh Suraj. Pandangan wanita itu berkeliling mencari orang yang sangat ia benci. Ada rasa was-was dalam dirinya, saat tidak melihat Raka bersama dengan Citra. "Kemana si brengsek itu," gumam Aira dalam hati.


Tidak ingin terlalu lama menunggu. Aira bergegas naik ke lantai dua. Mengambil beberapa pakaian, dan juga barang miliknya untuk ia bawa ke tempat kerja. Belum selesai menyiapkan barang-barang itu. Ia mendengar langkah kaki seseorang. Ia menoleh, dengan wajah terkejut. Aira menutup bibirnya. Tubuhnya mulai menggigil melihat seorang pria yang membawa beberapa map datang mendekat.


Ia masih trauma melihat sosok itu. Yang hampir menodainya. "Mau apa kamu datang kesini?" Dengan suara bergetar, Aira bersuara. Ia melangkah mundur, agar tidak terlalu dekat dengan pria itu.


"Hai, sayang? Aku datang membawa kabar baik," sahut Raka tanpa dosa. "Ini. Aku bawa Suraj gugatan cerai. Aku akan mengabulkan permintaan kamu, yang ingin lepas dari aku," sambunganya, menyimpan rencana licik. "Ini, ambil!" Raka menyerahkan map itu pada Aira.

__ADS_1


Rasa tak percaya mendengar ucapan dari Raka, yang tiba-tiba ingin menggugat cerai dirinya. Padahal, sebelumnya bersikukuh menahannya untuk tetap menjadi istri di brengsek itu. Aira menatap bingung map yang diulurkan Raka padanya.


__ADS_2