
Suara berisik dari sebuah ruangan, kembali terdengar. Seorang pria tampan yang berdiri di depan menjadi pusat perhatian para mahasiswanya. Cara mengajarnya uang santai, berbaur dengan mereka. Membuat kesan sendiri fi hati mereka.
"Ada yang mau kalian tanyakan?" tanyanya di akhir pertemuan.
"Ada, Pak." Seorang mahasiswi melambaikan tangannya. Kemudian berdiri tegak, memasang wajah serius.
"Silahkan, Rani!" ujar Suraj pada gadis cantik yang sedang memandangnya. "Apa yang akan kamu tanyakan."
Semua mata fokus pada gadis itu. Menunggu pertanyaan yang akan keluar dari bibirnya. "Jadi gini, Pak." Rani menjeda kalimatnya. Menarik napas panjang, rasa tegang pun sontak tercipta di tempat itu. "Bapak udah punya pacar belum," candanya, meringis.
Huuuuuuuuuu
Gadis itu langsung mendapat serangan dari teman-temannya. "Woiiii, emang kalau belum punya ngapa?" seloroh salah satu dari mereka. "Lo, mau?" tawarnya gencar mengerjai Rani.
"Ya maulah," jawab Rani santai. Ia menatap wajah Suraj dengan tatapan mendamba.
"Gue juga mau," sahut dari teman lainnya.
"Gue juga."
Suraj hanya menggeleng, seraya tersenyum tipis mendengat lelucon dari para mahasiswi yang menggilai dirinya. "Sudah!!! Tenang!" lerai Suraj mengangkat kedua telapak tangannya. "Kalian mau tau? Apa mau tau banget?" canda Suraj, mengundang gelak tawa dari seisi ruangan.
"Pak, saya mau banget," sambut dari gadis yang berdiri paling belakang. "Mau banget jadi pacar Bapak."
__ADS_1
Huuuu
"Sudah!" Suraj menenangkan mereka. Pria itu memasang wajah serius. "Kalian boleh godain saya, boleh bercanda. Tapi ingat, kalian harus serius disaat saya menyampaikan materi. Dan ...." Suraj kembali menggangtung kalimatnya. Memperhatikan wajah serius mereka. Kemudian menyeringai, membayangkan Aira berada di tengah-tengah sana.
"Pak, kenapa senyum-senyum sendiri?" seloroh pria yang duduk tepat di hadapannya. "Wah, jangan-jangan Bapak naksir salah satu cewek-cewek yang ada di sini ya?" tebak pria itu memasang wajah khawatir.
"Wah keren, dong! Kayak di novel-novel itu," sambut teman sebangkunya. "Si sweet," lanjutnya lagi membayangkan.
"Enak aja. Saya gak tertarik sama kalian," jawab Suraj memicingkan matanya.
"Wah jangan-jangan Bapak CLBK sama Bu Nadine. Dosen ekonomi yang baru saja masuk lagi di kampus ini. Dia 'kan udah janda," sambut seseorang yang tahu betul tentang kisah asmaranya bersama wanita itu.
"Nah, Lo Pak. Cinta lama belum kelar. Huaaaa... Siap-siap patah hati temen-temen."
"Yealah Pak, jangan mau sama janda. Enakan sama perawan."
"Hooh!"
Siraj hanya menyaring ucapan mereka. Sekilas bayang masalalu nya hadir, memenuhi benak pria itu. Suraj tersenyum mengejek, betapa bodohnya dia. Di bohongi dengan wanita itu. Dan sampai kapanpun, jangan harap akan kembali dengan pengkhianat seperti Nadine.
"Sudah-sudah. Pertemuan kita hari ini sampai di sini. Ingat, pesan saya tadi. Tetap semangat untuk melakukan hal yang lebih baik."
Para mahasiswa membubarkan diri. Berhamburan keluar dari ruangan itu. Menyisakan Suraj, yang masih sibuk membereskan buku-bukunya. Selesai dengan pekerjaannya, Suraj memutuskan untuk pulang. Sebelum itu, pergi ke kantor untuk mengambil barang-barangnya.
__ADS_1
Disaat akan masuk ke dalam. Seorang wanita cantik juga akan keluar. Secara bersamaan mereka berada di pintu. Sehingga sulit untuk bergerak.
"Silahkan, ada duluan," tawar Suraj, mundir satu langkah.
Ini kali pertamanya Suraj bertemu dengan wanita itu. Sejak menghadiri pernikahan Nadine. Tak banyak yang berubah dari wanita yang usianya sama dengannya. Hanya, wajah Nadine tidak seceria dulu.
"Suraj, aku ingin bicara sama kamu," tutur Nadine padanya. "Kita harus bicara," sambung wanita itu lagi.
"Kalau mau bicara, silahkan di sini aja." Suraj tersenyum getir. "Kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Saya gak mau terjadi kesalahpahaman di kampus ini."
Hening sejenak, hingga ponsel Suraj berdering. "Maaf, saya duluan." Suraj diselamatkan oleh maminya dari wanita itu.
"Iya, mi." Suraj sedikit menjauh dari Nadine yang menatapnya penuh sesal.
"Ya udah, Suraj jemput sekarang." Setelah sambungan telepon terputus, Bergegas Suraj mengambil tasnya. Pamit pada rekan dosen yang lain. Kemudian pergi dari sana.
Tak ingin membuang kesempatan. Nadine pun menyusulnya. Dengan buru-buru, wanita itu memanggil. "Suraj, tunggu aku mau bicara."
Suraj tak mengindahkan panggilan dari Nadine. Dia tetap melenggang pergi menuju ke parkiran kampus. Saat akan membuka pintu mobil, tangannya tertahan oleh tangan Nadine.
Dengan napas tersengal, mengejar Suraj. Nadine kembali bersuara. "Aku mohon maafkan aku," ucapnya dengan raut wajah penuh penyesalan.
Segera Suraj menarik tangannya, menjauh dari wanita itu. Ia menyunggingkan sebelah bibirnya. Tersenyum remeh pada mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Saya sudah memaafkanmu. Jauh sebelum kamu minta maaf. Saya sadar, ternyata tidak semua wanita berhati busuk seperti kamu. Sekarang, jangan ganggu saya lagi. Saya sudah memiliki penggantimu," tegas Suraj, masuk ke dalam.