
Dengan sangat hati-hati, Bellian melakukan tugasnya. Dia tidak ingin, duo laknat itu menyakiti hati Aira. Gadis tulus yang tidak pantas mendapat perlakuan mereka.
"Ya ampun, ini kenapa sih!!! Sinyalnya susah banget," gerutunya, memukulkan ponsel itu ke tangan berharap pesannya sampai ke ponsel Aira.
Saking fokusnya dengan benda itu, ke dua orang yang baru saja ia pergoki menatap tajam ke arahnya. Tatapannya membunuh, siap memangsanya.
"Apa yang kamu lakukan di sini!" sentak Citra mengeratkan rahang.
Bellian Namak gugup, takut ketahuan kalau dia sudah merekam perbuatan mereka. Dengan lincahnya, ponsel itu di sembunyikan ke dalam tas. Tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Em, maaf Mi. Tadi, aku mau nanya sesuatu sama Mami." Bellian menjawabnya dengan gugup. "Itu tadi, em." Semua yang ada dalam pikirannya seketika buyar. Selepas menyaksikan adegan senonoh Raka dan Citra. "Oh iya, mau tanya rumahnya bu Sugeng," sambung Bellian gugup.
"Mami tenang aja, saya gak liat apapun kok tadi. Cuma ngintip sedikit saja," ujar gadis itu tersenyum getir. Sontak, Raka dan Citra tidak terima. Mereka berdua tidak tinggal diam.
"Awas, kalau sampai kamu berani buka mulut. Saya gak segan akan memberhentikan kamu dari pekerjaan!!!" Citra mengancamnya.
Yang ada dalam pikiran Bellian saat ini. Dia sudah tidak perduli dengan hal itu. Kalaupun Citra memecatnya. Dia masih bisa mencari pekerjaan lain. Yang penting, dia tidak membiarkan kebusukan mereka terus terjadi. Dan Aira lah yang menjadi korbannya.
"Iya, Mi."
*********
Di dapur sebuah cafe, dua orang yang sedang sibuk dengan tepung dan kawan-kawannya tampak serius. Sampai-sampai notif pesan dari ponsel Aira, tak mereka hiraukan.
"Jadi, masih harus nunggu lagi?" Suraj bertanya pada Aira, sambil terus memperhatikan hasil adonan yang sedang di tutup rapat oleh gadis itu.
"Hooh, tadi gak sempet bikin. Sibuk buat adonan brownis lumer sama pancake durian. Gak apa kan, nunggu sebentar lagi?" jawab Aira, mengerjakan yang lain.
__ADS_1
"Jangankan cuma menunggu donat itu matang. Nunggu kamu siap, aku ajak ke penghulu pun aku siap." Suraj terkekeh geli. Melihat Aira tersipu malu. "Aku bantu apa lagi?" Kemudian bertanya pada gadis itu.
"Udah, kamu duduk aja sana. Nanti capek, Lo!" usir Aira tak tega melihat Suraj ikut sibuk membantunya.
"Aku malah seneng bisa bantuin kamu. Nanti, kalau kita udah nikah. Kan, jadi biasa." Siraj kembali mengeluarkan gombalannya. Lagi-lagi, wajah Aira bersemu merah.
Gadis itu menghembuskan napasnya kasar. Andai saja benar, mungkin ia akan menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi, dua tidak bisa menolak permintaan maminya yang mengharuskan Aira untuk mengukuhkan hubungannya bersama Raka.
"Kenapa kok muram?" tanya Suraj, melihat kegundahan hatinya.
"Gak, kok. Lucu aja, denger kamu pinter gombalin cewek," kilah Aira, mulai terbuka dengan Suraj.
"Jadi, menurut kamu. Aku ini cuma ngegombal?" Kini wajah Suraj berubah serius. "Aku gak pernah main-main dengan perasaanku, Ra. Aku serius, ingin memiliki kamu seutuhnya." Suraj menggenggam ke dua tangan Aira erat. Di letakkan di dadanya.
"Begitupun juga denganku, Suraj. Aku gak bisa menerimanya. Aku mencintai mas Raka, jauh sebelum aku mengenalmu." Aira melepaskan genggaman tangan Suraj, dengan pelan. Dan mulai memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bukannya terharu dengan ucapan Suraj, Aira justru marah. Sorot matanya memerah. Tubuhnya panas, mendengar Suraj menjelekkan tentang kekasihnya itu.
"Jaga ucapanmu," ucap Aira sinis. "Kamu gak kenal dia, bahkan baru ketemu sekali. Tapi, lagaknya kayak udah kenal lama sama mas Raka." Aira mencibir. Tidak terima dengan ucapan Suraj.
Siraj menggeleng. Menunjukkan senyum getir. "Kamu salah, Ra. Aku tahu betul siapa laki-laki itu. Asal kamu tahu, Raka tidak sebaik yang kamu kira!"
"Cukup!!!" bentak Aira, tak tahan dengan ocehan Suraj. "Aku gak mau mendengar lagi apapun dari kamu!" Setelah itu pergi berlalu meninggalkan Suraj yang masih mematung di sana.
"Ya Tuhan, kenapa aku gegabah? Gak seharusnya aku emosi?" gumamnya, mengelap wajahnya kasar. "Aira, Aira."
Aira memilih membantu Winda untuk menyiapkan pesanan pelanggan. Tak berapa lama, Bellian datang dengan buru-buru bergegas wanita itu mencari keberadaan Aira.
__ADS_1
"Kak, ayo ikut aku!" Gadis itu menarik tangan Aira.
"Yan, kamu kenapa sih!" sahut Aira menatap bingung gadis itu.
Bellian mengajaknya ke dapur. Di mana, di tempat itu masih ada Suraj yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan jelas, ia bisa mendengar apa yang sedang diobrolkan.
"Kakak buka hp, Kakak sekarang?" ucap Bellian dengan nada memerintah.
"Apa sih, Yan. Aku sibuk, udah ah. Nanti aja, pegang hpnya." Aira menolaknya.
"Plis, Kak. Ini tuh penting banget. Lebih penting dari apapun," ucap wanita itu menyakinkan Aira.
"Ini!" Tak sabar, Bellian yang mengambilkan hp Aira. Setelah itu diberikannya pada gadis itu. "Buka chat dari aku!"
Aira menatap benda berwarna hitam yang ada di tangannya.
To be continued
Terimakasih dukungan kalian untuk novel ini.
Yang gak sabar pengen Aira tahu, author bakal kabulkan.
Tunggu di part selanjutnya.
Jangan lupa kasih dukungan di novel ini.
Like, komen, Vote, dan hadiah dari kalian bakal bikin Author tambah semangat untuk up bab selanjutnya
__ADS_1